
"Lalu kita harus bagaimana Tuan?"
"Yaa masuklah ngapain lagi!" ucap Zio yang dengan kaki lebar segera masuk ke dalam kedai itu.
"Sayang…."
Silvana yang sedang duduk manis menunggu pesanan langsung di kagetkan dengan teriakan dari suara yang cukup dia kenal.
Dengan kepala yang ragu Silvana menoleh ke arah asal suara yang dimana Zio sedang berjalan menujunya dengan senyum menawan. Sontak para wanita atau pun gadis yang berada di kedai itu langsung terpekik karna terpesona pada ketampanan Zio.
Silvana baru saja akan menarik bibirnya untuk tersenyum namun langsung pudar saat mendengar bisikan para wanita muda di belakang dan sampingnya yang amat sangat dia kenali.
"Cih si miskin ini punya kekasih baru lagi rupanya"
"Dasar bodoh. Penampilan sih rapi tapi aku nggak yakin walaupun tampan tapi kalau dompet krisis ya untuk apa?"
"Namun bisa sih kalau untuk di jadikan pria pemuas hahaha"
"Cih pemuas apanya? Dia itu di selingkuhi Tuan Doni karna nih si miskin ini jual mahal masa mau cium bibir aja kagak mau padahalkan itu mereka sudah lama pacaran bahkan tunangan jadi nggak apa-apa lah cuman ciuman doang"
"Jaman sekarang yang perawan mah nggk penting yang penting bisa puasan pria di atas ranjang"
"Nah iya kalau sudah puasan mah nggk bakal di tinggalin"
Silvana yang mendengar bisikan-bisikan itu mengepalkan tangannya untuk meredakan amarah dalam dirinya yang benar-benar bisa kapan saja meledak.
Apa masalahnya dengan gadis perawan? Apa masalahnya jika Silvana mempertahankan hal itu? Silvana hanya tidak ingin memberikan hal yang berharga miliknya dengan begitu cuma-cuma. Bukan jual mahal Silvana hanya butuh waktu untuk mempersiapkan semua itu.
Jika Doni memang benar-benar mencintainya dia tidak akan mencari wanita lain, Doni akan menunggunya siap. Lagipula bukankah mereka sudah mau bertunangan dan menikah beberapa bulan lagi? Jika Doni mencintainya kenapa dia tidak bisa menahan dan menunggu sebentar lagi.
Silvana benar-benar kesal pada beberapa orang wanita mudah di belakang dan di sampingnya itu. Mereka adalah orang-orang yang sering menghinanya dan selalu mengganggunya.
Tak tahan mendengar ocehan-ocehan yang membuat kupingnya sakit Silvana langsung menggebrak meja dengan keras berbalik menatap tajam mereka semua.
Brak
"Kalian……
"Sayang… astaga tangan mu memerah harusnya kmu tidak perlu memukul meja sekeras itu. Harusnya jika kamu kesal kamu bisa langsung memukul wajah mereka dan akan aku selesaikan untuk mu" Mata Zio khawatir melihat tangan sang kekasih memerah karna memukul meja.
__ADS_1
"Cih. Memangnya kamu siapa? Paling juga hanya kuli bangunan yang di dandani agar terlihat seperti pengusaha" kata salah satu dari mereka.
Wanita itu memiliki penampilan seperti orang kaya dengan baju yang berwarna merah merek terkenal. Namun Zio tahu itu hanya pakaian tiruan alias Kw.
"Kamu benar. Si miskin ini tidak mungkin mendapat orang yang lebih baik dari Pak Doni. Di sukai Pak Doni saja sudah bersyukur ini malah sok jual mahal lagi,"
"Dengan fashion begini di tambah bentuk tubuh yang tidak ada seksi-seksinya siapa yang mau coba?"
"Tubuhku kurus kurang seksi atau karna pakaian ku yang tertutup?" Balas Silvana yang melipat tangan di dada.
"Dasar kuno" ejek mereka.
"Aku yang kuno atau kalian yang menjual tubuh ups….. salah yang benar jual diri" kata Silvana tertawa mengejek mereka.
"Kau….."
"Ah Tunggu dulu! Kalian bilang aku jual mahal? Aku yang jual mahal atau kalian yang terlalu murah…..han" tekan Silvana yang tersenyum sinis.
"He Silvana jaga ya omongan kamu seenaknya saja katain kita murahan!"
"Lalu apa? Simpanan Om -Om?"
"Ups Sorry aku lupa kalian bukan hanya simpanan om-om tapi juga pelakor ya? Ibu-ibu jaga suami ibu-ibu semua, wanita-wanita di depan kalian ini ada simpanan Om-om. Takutnya nanti suami ibu-ibu malah di rebut sama mereka"
Sontak karna itu orang-orang yang ada di warung itu langsung bergosip terutama ibu-ibu. mereka bahkan dengan terang-terangan menatap sinis ketiga wanita itu.
Sedangkan ketiga wanita itu langsung menatap tajam Silvana. Gara-gara Silvana mereka semua menjadi malu.
"Silvana! Kamu benar-benar harus di beri pelajaran" teriak wanita yang memiliki pakaian warna merah mengayunkan tangannya untuk menampar Silvana.
Slash
Plak
Silvana yang melihat ayunan tangan wanita itu langsung menangkisnya dan sebagai gantinya Silvana melayangkan tamparan super keras di pipi kiri wanita itu. Saking kerasnya bahkan sudut bibir wanita itu sampai berdarah namun Silvana acuh akan hal itu.
Bahkan jika bukan karna di tempat umum Silvana ingin sekali mencakar-cakar wajah mereka satu persatu.
"Sebenarnya aku tidak inginribut tapi kalian yang mengganggu ku duluan jadi terima akibatnya," ucap Silvana yang kembali duduk di kursinya seperti tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Sedangkan Zio yang sedari tadi menonton jalannya acara langsung tersenyum bangga. Duduk di samping Silvana dengan manis menyandarkan kepalanya di bahu Silvana.
Tak
"Menjauh kamu membuat mood ku semakin buruk. Sebelum ku cakar-cakar habis wajah menyebalkan MH itu lebih baik segera menjauh dariku"
Kata Silvana yang dengan santai memukul kepala Zio dengan sendok di meja.
Sedangkan Arga yang melihat sifat Silvana hanya bisa terbengong-bengong. Arga bingun antara mau tertawa atau tidak soalnya, Silvana tidak hanya berani membalas ketiga wanita itu tapi dia juga berani memukul kepala Zio dengan sendok.
"Itu Tuan Arga ingin disana terus? Jika tidak mau makan mending Tuan keluar saja. Wajah pas-pasan Tuan semakin jelek dengan ekspresi bodoh seperti itu." Ucap Silvana pedas.
Uhuuk Uhuukkk
Arga yang mendengar itu langsung terbatuk-batuk menatap syok Silvana. Kenapa yang diam malah kena juga pikir Arga.
"Kalian ingin makan atau berdiri jadi pajangan disitu? Memamerkan tubuh gratis kalian?" Sindir Silvana habis-habisan terhadap ketiga wanita di belakangnya itu.
"Eh Jila, kamu diam saja? Bukannya kamu yang selalu mencari perkara denganku? Kenapa malah diam seperti kelinci yang takut di terkam serigala?" Kata Silvana kepada salah satu dari orang yang sering mengganggunya namun kali ini wanita itu hanya diam.
Uhukk uhuukkk
Wanita yang bernama Jila itu langsung tersedak minumannya saat mendengar penuturan dari Silvana.
"Eh iya Jil kamu napa diam saja? Harusnya kamu tuh belain kita. Nggk perlu takut toh dia sudah di pecat sama Pak Doni" Kata wanita yang bergaun merah.
"****, apa mereka tidak bisa diam." Guman Jila menatap tajam ketiga temannya itu.
"Eh. A….aku ha…hanya tidak i….ingin ribut lagi dengannya" kata Jila dengan terbata-bata.
Jila sebenarnya ingin sekali mencekik Silvana. Namun saat melihat orang di samping Silvana langsung membuat nyalinya menciut. Jila mempunyai posisi yang lumayan tinggi di perusahaan Atmadja yaitu kepala pemasaran.
Jila tahu orang di samping Silvana bukan orang sembarangan oleh karena itu Jika memilih diam. Namun sekarang dia tidak yakin apakah dia juga akan baik-baik saja atau tidak. Melihat tatapan tajam pria itu saja membuat Jila mati kutu di buatnya.
"Cih. Tumben kamu waras"
"Sayang kamu makan gih nih makanannya udah datang" ucap Zio lembut.
"Ya aku harus makan biar punya tenaga menghadapi para anjing yang menggonggong itu" sindir Silvana yang mulai makan.
__ADS_1