Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 47


__ADS_3

Saya bersedia.” Ucap Zio lantang dan tegas menatap lurus ke dalam mata Silvana seakan-akan menghempaskan semua keraguan yang ada dalam hati Silvana.


"Saudari Silvana Aurora bersediakah engkau menerima Zionard Morgan Dewantara sebagai suamimu dalam suka dan duka. Menerima semua kekurangan dn kelebihannya.”


“Saya bersedia.” Ucap Silvana tegas dan yakin.


“Ucapkan sumpah kalian…!”


“Saya mengambil engkau menjadi istri saya Silvana Aurora, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, mencintai engkau sampai maut memisahkan kita, inilah janji setiaku yang tulus padamu.” Ucap Zio lanttang yang mengucapkan sumpah pernikahannya.


“Saya mengambil engkau menjadi suami saya Zionard Morgan Dewanttara, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, mencintai engkau sampai maut memisahkan kita, inilah janji ttulus saya.” Sumpah Silvana bersamaan dengan setetes air mata jatuh dari kelopak mata indahnya.


“Dengan ini saya meresttui pernikahan kalian. Silahkan pasangkan cincinya dan cium pengantin wanitanya.” Ucap sang pendeta.


Zio yang mendengar ucapan dari sang pendeta langsung merogoh sakunya hingga mengeluarkan sebuah kotak yang berbentuk love. Zio membuka kotak itu mengambil cincin berlian yang begitu indah dan di pasangkan di jari manis sang istri yang terlihat sangat indah.


Setelah memasangkan cincin di jari manis sang istri Zio langsung membuka tudung kepala Silvana menarik tengkuk wanita yang menjadi istrinya itu hingga sebuah kecupan singkat mendarat di atas bibir Silvana.


Prok prok prok


Suara tepuk tangan menggema di dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu. Tak hanya itu cahaya blitz kamera membuat Silvana sadar jika di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua tapi banyak orang.

__ADS_1


Yups…! Zio sengaja mengundang para media agar pernikahannya disiarkan. Walaupun tidak mewah tapi Zio tidak peduli karena ini hanya pernikahan biasa soal pesta Zio pasti akan membuatkan pesta yang sangat mewah dan meriah untuk wanita yang sangat dia cintai itu.


Di tempat lain seorang pria yang baru saja duduk tenang setelah bekerja menyelesaikan berkas-berkas diatas mejanya. Sosok itu tak lain adalah Doni yang baru saja istirahat. Terlihat pria itu memainkan ponselnya hingga sedetik kemudian Doni melototkan mata.


“Ti…tidak mungkin…. Ini.. tidak mungkin. Yah ini pasti berita bohong, tidak mungkin Silvana menikah dengan pria brengsek itu. Yah ini pasti berita bohong, akal-akalan media saja.” Guman Doni yang menggeleng-gelengkan kepala tidak mempercayai berita yang baru saja dia lihat.


“AAAAAA BRENGSEK,!” Teriak Doni yang langsung membanting sebuah gelas yang berada di atas mejanya.


PRANG……


“Ini tidak bisa dibiarkan, Silvana hanya milikku bukan milik pria lain. Kamu hanya akan menikah dengan ku bukan pria ini ataupun pria lainnya.” Kata Doni yang menatap tajam potret pernikahan wanita yang dia cintai Silvana menikah dengan pria lain yaitu Zionard.


Brak


Doni mengamuk habis-habisan di dalam ruang itu melampiaskan amarahnya. Baru saja dia santai beberapa saat pikirannya langsung kacau saat mengetahui kabar itu. Doni tidak ingin percaya pada berita itu akan tetapi Doni juga yakin jika berita itu tidak akan keluar begitu saja jika tidak ada dasarnya.


Ruangan yang tadinya rapi kini seperti kapal pecah. Doni tidak menyangka dia akan kecolongan seperti ini. Sehingga hal penting seperti ini tidak di ketahui olehnya. Jika benar adanya berita itu lalu kenapa tidak ada tanda-tanda beberapa terakhir ini.


“SILVANA……. KENAPA SEPERTI INI BR3NGS3K..!” Teriak Doni yang begitu keras.


tanpa Doni sadari air mata jatuh dari kelopak matanya. Doni tidak akan pernah menduga jika ia akan secepat ini kehilangan Silvana. Wanita yang dulu menghujaninya dengan beribu kasih sayang dan cinta. Wanita yang dengan sukarela mengikuti apa yang dia katakan sekalipun dirinya tidak menyukai akan hal itu. Namun, sekarang haruskah dia benar-benar kehilangan wanita itu.

__ADS_1


Tidak bisakah ia di beri kesempatan kedua untuk memperbaiki semua ini? Tidakkah Silvana mengingat kenangan masa lalu mereka yang sangat indah dan manis? Tidak bisakah waktu kembali berputar di masa lalu? Doni ingin mengubah semuanya. Doni ingin menjadi pria yang di inginkan oleh Silvana bukan Doni yang ini. Bukan Doni yang brengsek sepertinya Namun, Doni pria yang memberi cinta kepada Silvana.


Andaikan….?


Semua hanya angan-angan biasa yang hana sebatas andaikan karna semua itu tidak akan pernah terjadi. Kenangannya bersama berputar dan menari-nari di kepalanya membuat Doni menangis dalam diam. Tidak ada yang tersisa ang ada hanyalah sebuah rasa hampa dalam dirinya. Sebuah rasa penyesalan yang begitu besar.


“Tidak… Ini belum berakhir. Aku pasti bisa merebut Silvana dari dari pria itu. Ya pasti aku bisa.” Lagi lagi Doni tidak menerima kekalahan itu membuatnya lupa diri hingga cintanya yang besar menjadi obsesi yang bisa menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak.


“HANDOKO…..! KELUAR KAMU HANDOKO…!” Teriak seorang pria tua yang masuk kr dalam mansion mewah yang dipastikan jika bukan miliknya.


Di samping pria tua itu berdiri seorang wanita muda yang menggunakan pakaian serba merah membuat mata sakit saja. Terlihat wajah wanita itu sembab dan ada jejak-jejak air mata di pipinya. Entah air mata sungguhan atau hanya rekayasa kan tahu banyak wanita zaman sekarang banyak munafiknya.


“HANDOKO…….!”


“Tuan…?” Seorang pelayan pria datang menghampiri dan menghalangi langkah pria itu untuk naik ke lantai dua.


“MINGGIR…! AKU INGIN BERTEMU DENGAN MAJIKAN KAMU ITU.” Bentak pria tua itu yang menatap tajam pelayan di depannya.


“Tidak bisa Tuan, sekarang adalah waktunya Tuan Handoko istirahat.” Tolak pelayan pria itu yang tetap kekeh menghalangi pria tua itu untuk naik ke lantai dua.


“KAU…..”

__ADS_1


“Ada apa Rio…?”


__ADS_2