Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 55


__ADS_3

Zio yangerasalan sinar matahari langsung menggerakkan kelopak matanya sedikit demi sedikit hingga terbuka sempurna. Namun, sepertinya ada yang kurang saat ia terbangun.


Yah… Istrinya tidak ada di sampingnya membuat Zio panik segera turun dari ranjang dan mengenakan celana boxer saja lalu berlari keluar dari kamar.


"SAYANG…..!' Zio memanggil sang istri namun tidak ada sahutan dari Silvana membuat Zio mempercepat langkah kakinya menuruni tangga.


Sampai di bawa Zio langsung belok kanan, tujuannya saat ini hanya satu yaitu dapur. Karena kemarin juga istrinya itu berada di tempat itu.


Sampai di dapur Zio bernapas lega saat melihat wanita yang dia cintai hanya menggunakan kemeja miliknya yang sangat terlihat besar di tubuh Silvana lantaran tubuh wanita itu yang berbadan kecil. Tapi bukan itu fokus Zio, pria itu justru tertegun dan tergoda dengan tubuh seksi sang istri yang semakin seksi saat mengenakan kemeja kebesaran seperti itu.


Sedangkan Silvana wanita itu tidak menyadari jika dirinya sedang di intai oleh seekor singa yang sepertinya kelaparan.


Grep


"Aaa"


"Ini aku sayang." Bisik Zio yang mengecup leher jenjang Silvana.


Silvana yang mendengar bisikan Zio hanya bisa berdengus kesal dengan kelakuan sang suami yang sangat suka mengkagetkan dirinya.


“Kamu bisa nggak sih jangan buat orang kaget mulu?” Kesal Silvana melirik Zio yang hanya memasang senyum menyebalkan.


“Cih.., Di kastau malah ketawaketawa gila seperti itu.”


“Iya … iya maaf, sayang.” Ucap Zio yang memasang wajah memelas ke arah sang istri.


“Sana ke meja makan, sebentar lagi kita akan ke kantor.”


“Siap kapten!” Jawab Zio yang langsung melakukan gerakan hormat kepada Silvana.


Dengan gerakan patah-patah Zio berbalik menuju meja makan yang hanya berjalan beberap langkah dengan dapur. Sampai disana Zio langsung duduk di kursi dengan tenang menunggu masakan sang istri.

__ADS_1


Sedangkan Silvanayag melihat apa yang di lakukan oleh Zio hanya mendenngus kesal. Semakin kesini semakin pula Silvana mengenal bagaimana watak dan sifat asli dari seorang Zionard yang mereka kenal di luar sana sebagai pria yang tak tersentuh.


Walau di luar rumah Zio menjelma menjadi pribadi yang dingin dan tak trsentuh. Namun, jika berada di dalam rumah dan bersama Silvana maka Zio akan berperilaku dengan semua tingkahnya yang begitu menyebalkan membuat Silvana selaku sang istri kesal setiap saat.


Walaupun begitu tak bisa di pungkiri jika wanita itu juga menikmati apa yang Zio berikan padanya. Zio memanjakannya tidak dengan harta benda tapi dengan kasih sayang dan cinta. Silvana bahgia walau hanya itu karena yang di butuhkan oleh Silvana adalah itu. 


Soal materi bisa di cari dan mereka bisa berjaung bersama-sama. Segalanya memang butuh uang dan kekuasaan. Namun, cinta juga di perlukan karena kebahagiaan seseorang tidak bisa di beli dengan sebuah harga.


Silvana mengelengkan kepala melihat jika Zio dengan konyolnya melemparkan sebuah cium jauh di udara sana mmembuat Silvana bersemu merah. Antara malu dan juga kesal dengan ulah Zio.


Silvana kembali berbalik melanjutkan pekerjaannya hingga beberapa saat kemudian makanan semuanya telah selesai. 


Zio yng melihat Silvana membawa nampan makanan langsung berdiri dan membantu sang istri.


“Ayo ambilkan…!” Kata Zio yang sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan istri tercintanya itu.


Silvana hanya tersenyum tipis mengambil piring yag disodorkan oleh Zio. Wanita itu mengisi piring Zio hingga penuh karena Zio sendiri yang meminta.


Silvana duduk di kursinya lalu mereka mulai makan dalam keadaan hening hingga hanya suara garpu dan sendok yang terdengar di ruangan itu. Selesai makan Silvana langsung mengambil piring kotor dan mencucinya sebelum berangkat ke kantor.


Zio yang melihat itu tidak tinggal diam, Pria itu dengan gerakan cepat menyusul Silvana membantu wanita itu untuk mencuci piring.


“Sayang, apa tidak sebaiknya kita memakai jasa pelayan saja?” Kata Zio tiba-tiba membuat Silvana menatap ke arahnya.


“Tidak, aku masih mampu mengerjakan semua ini. Untuk apa menyewa pembantu?” Balas Silvana yang langsung menolak keinginan Zio.


“Kamu bisa menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri dengan menyiapkan kebutuhan aku. Sedangkan untuk urusan perut dan beres-beres rumah ini biarkan pelayan yang mengerjakannya. Jika kamu takut karena pelayan yang tidak baik aku akan mencari pelayan yang tua saja. Asalkan kamu mau kita pakai jasa pelayan.” Tawar Zio kepada sang istri.


Silvana yang mendengar apa yag dikatakan oleh sang suami langsung terdiam. Dirinya memang akan sangat kerepotan jika harus menyelesaikan semuanya sendirian apalagi dia juga bekerja mengikut Zio di kantor. Dia pasti akan sangat lelah jika pulang dari kantor harus menyiapkan ini itu dulu. 


Sebelum menikah Silvana memang pernah membahas jika nanti dia menikah ia tidak akan mempekerjakan seorang pelayan. Karena menurut Silvana semua itu masih dikerjakan sendiri.

__ADS_1


Namun, setelah menjalaninya yang bahkan belum cukup satu minggu habis menikah dan menjadi seorang istri Silvana merasa repot. Seperti tadi pagi yang tadi malam tidur di saat dini hari dan pagi-pagi harus bangununtuk masak. 


“Aku tidak mempekerjakan banyak pelayan kok cukup 2 pelayan dan 1 tukan kebun yang merawat tanaman di belakang rumah ini.” Kata Zio yang mencoba menyakinkan Silvana.


Zio tahu istrinya mampu mengerjakan semuanya sendiri. Tapi, Zio juga tahu Silvana kerepotan dan nanti akan kelelahan jika tetap harus seperti ini setiap waktu.


Zio menikahi Silvana untuk menjadikan ratu dan wanita yang mendampinginya bukan wanita yang akan melayaninya setiap saat seperti pelayan yang melayani majikannya. Zio senang jika Silvana melayaninya namun, cukup hanya kebutuhannya sja tidak perlu dengan kerjaan lainnya.


“Bagaimana? Kamu mau kan?” Zio hanya bisa harap-harap cemas.


Berharap Silvana mau menyetujui ide yang berikan yang untuk menyewa jasa pelayan. Sedangkan cemas karena takut jika Silvana justru tetap pada pendiriannya yang tidak ingin menggunakan pelayan.


“Baiklah tapi.., “


“Aku akan mencari pelayan yang tua sayang.” Potong  Zio yang langsung mengecup kening Silvana begitu penuh cinta.


“Kamu mandi sana.” Bisik Zio yang mengambil piring dari tangn Silvana.


“Tapi…”


“Biar aku saja yang menyelesaikannya, kamu mandi saja. Kita akan ke kantor hari ini.”


“Tapi itu…”


“Ada aku, pergilah.” Zio degan pelan membalik Silvana lalu mendorongnya hingga sampai tangga.


“Kok malah diam, sudah naik sana.” Perintah Zio namun Silvana masih betah berdiri kaku disitu.


“Silvana!” 


“Aku naik.” Silvana langsung berlari menaiki tangga tanpa berbalik lagi melihat Zio yang berada di bawah.

__ADS_1


Sedangkan Zio yang melihat Silvana berlari menaiki tangga hanya bisa menggelengkan kepala. Wanita itu begitu keras kepala jika tidak ditekan maka dia tidak akan pernah mau menuruti apa yang dia inginkan.


__ADS_2