Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
Bab 22


__ADS_3

"Apa salahnya menggendong tubuh kekasihku sendiri" kata Zio datar.


"Apa?" Mona hanya bisa melongo mendengar pengakuan dari orang yang paling berpengaruh di dunia.


"Cih kau menghinaku sebagai barang obral lalu bagaimana dengan mu yang baru putus dari Doni tapi sudah mengaet pria lain" kata Mona sinis.


"Bukan dia yang mengaetku tapi aku yang mengejarnya" ucap Zio datar lalu berlalu pergi meninggalkan Doni dan Mona yang hanya bisa mematung di tempatnya.


"Sayang kamu lihat kan bagaimana mantan yang kamu bangga-banggakan itu merayu Tuan Zio. Silvana hanya jual mahal….."


"CUKUP….. CUKUP MENJELEKKAN SILVANA KARNA SILVANA BUKAN WANITA YANG SEPERT KAMU BAYANGKAN AKU TAU AKAN ITU." bentak Doni membuat Mona tersentak karna selama menjalan hubungan Doni tak pernah membentaknya atau bersikap kasar padanya.


"Ka…kamu mem…bentakku?" kata Mona menatap Doni tidak percaya.


"Kenapa tidak? Silvana benar kamu itu wanita murahan yang menjajakan tubuhnya kesana Kemari" kata Doni menatap sinis Mona.


"Dan Jang lupa wanita murahan ini yang memuaskan kamu selama ini" tekan Mona mengepalkan kedua tangannya.


"Ya dan itu adalah kesalahan terbesar yang ku lakukan membuang berlian hanya karna batu kerikil sepertimu" kata Doni yang langsung masuk dalam mobil dan meninggalkan Mona yang terus berteriak kepadanya.


"Doni mau kemana kamu"


"Doni berhenti"


"DONI…."


Mona terus berteriak hingga menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.


"Sial. Ini semua karna kamu Silvana….. tunggu saja pembalasan dariku" umpat Mona lalu menatap sekelilingnya. Mona yang terlanjur malu langsung pergi begitu saja.


Sedangkan di tempat lain Silvana terus mengomel di ruangan Zio lantaran menyesali keputusan yang dia buat tadi.


"Cih harusnya tadi itu aku tidak meninggalkan disana sepatunya harusnya aku bawah kembali" kata Silvana yang entah ke berapa kalinya hingga membuat Zio dan Arga yang mendengarnya merasa bosan.


"Baby duduklah. kepalaku sakit melihat kamu mondar mandir seperti itu." kata Zio memijit pelipisnya.


"Tuan tidak marah? biasanya dia akan langsung mengamuk jika ada yang mengganggu dirinya" kata Arga dalam hati penuh tanda tanya.


"Setidaknya walau tidak aku pakai lagi aku bisa menjualnya dan uangnya bisa aku pakai beli daging." kata Silvana kesal.


Uhukk uhukk


Zio dan Arga serentak tersedak ludah sendiri mendengar penuturan Silvana.


"Daging" beo Arga menatap tak percaya kepada Silvana.

__ADS_1


"Iya daging. kan lumayan bisa makan daging minimal 1 Minggu" kata Silvana menggebu-gebu matanya penuh binar mengkhayalkan akan memakan daging.


Uhukk uhukk


Kali ini Arga benar-benar batuk atas jawaban Silvana yang sangat jauh dari apa yang dia ekspektasikan.


"Jangankan 1 Minggu, Nona bahkan bisa memakan daging selama 6 bulan berturut-turut hanya karna harga sepatu itu." kata Arga namun cukup dalam hati saja.


"Tapi semua impianku sirna karna sepatunya ku tinggal disana dan pasti burung hantu itu mengambilnya karna ukuran kakiku dan kakinya sama. semua ini karna Tuan"


BRAK


Uhukk uhukk


Zio yang sedang meminum kopinya langsung tersedak karna ulah Silvana yang menggebrak meja.


"Tuan" seru Arga yang langsung menyodorkan sapu tangan dan tisu.


"Astaga Nona, anda menggali kuburan anda sendiri" kata Arga dalam hati menatap ngeri muka Tuannya yang sudah memerah menahan amarah.


HAAAAAA


Terlihat Zio menutup mata dengan tangan yang mengepal. Zio sangat membenci orang yang berisik apalagi membuatnya terganggu tapi apa Zi sanggup membentak apalagi Silvana wanita yang paling dia sayangi dan cintai di dunia ini.


Silvana mengguncang pelan bahu Zio yang bersandar di kursi.


"Arga keluar" kata Zio dengan suara yang mwberat dan dingin melebihi kutup Utara.


"Permisi Tuan"


Arga langsung berdiri lalu mirik sebentar Silvana yang sedang mengguncang pelan bahu Zio.


"Semoga anda masih melihat matahari esok Nona" doa Arga dalam hati.


"Zio"


Sret


Aaaasaa


Cup


Zio ******* bibir Silvana dengan kasar dan penuh tuntutan membuat Silvana kewalahan menghadapi keganasan Zio.


Zio menarik tengkuk Silvana lalu memperdalam ciumannya lama kelamaan ciuman itu semakin turun dagu, rahang, telinga lalu berakhir di leher jenjang Silvana.

__ADS_1


"Enghhh" lenguh Silvana saat Zio menghisap kuat kulit leher Silvana dengan tangannya yang meremas lembut punggu Silvana. Zio terus mencumbu leher jenjang nan putih milik Silvana hingga meninggalkan beberapa bekas tanda merah di lehernya yang sangat kontras dengan kulit putih Silvana.


"Kau tahu? aku bisa saja membunuh orang yang berani mengusikku." kata Zio datar membuat Silvana merinding.


"aku ingin sekali marah tapi aku tak bisa membuatmu takut padaku karna apa? karna aku benar-benar mencintai kamu baby." ungkap Zio menatap lembut mata Silvana


Deg


Deg


Deg


Jantung keduanya berpacu dengan kencang jauh dari kata normal bahkan keduanya bisa saling mendengar detak jantung masing-masing saking sunyinya ruangan itu.


"Aku benar-benar jatuh secepat ini dalam pesonanya yah tuhan" jerit Silvana dalam hati entah harus senang atau sedih karna semudah ini ia berpindah hati.


"Lain kali jangan lakukan lagi aku takut akan melukaimu. jika itu terjadi maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri" ungkap Zio lagi.


"Maaf" cicit Silvana menunduk dalam.


"It's okey, pintu maaf akan selalu terbuka untukmu" kata Zio menyentuh dagu Silvana lalu mengangkatnya hingga pandangan mereka kembali bertemu.


"Kapan kamu akan mencintaiku" bisik Zio tepat di depan bibir Silvana.


Deg


Silvana langsung menegang mendapat pertanyaan seperti itu dan perubahan itu dapat Zio rasakan.


"Tidak perlu buru-buru aku akan menunggu sedikit lagi karna kamu hanya butuh waktu" kata Zio dengan senyum misterius di sudut bibirnya.


"Em kalau begitu aku kerja dulu" kata Silvana yang langsung meloncat turun dari pangkuan Zio lalu berlari masuk ke dalam ruangan miliknya.


"Aku tau kamu mulai mencintaiku Silvana. Kamu hanya butuh waktu untuk menyakinkan itu dan aku akan menunggu waktu itu" kata Zio dalam hati menatap penuh cinta Silvana Lewat kaca di depannya.


Sedangkan di tempat lain Di i hanya bisa termenung di dalam ruangannya mengingat kenangan yang pernah ia dan Silvana lalui.


Kenangan itu berputar terus di pikiran Doni dan tanpa sadar Doni menjatuhkan air mata.


"Harusnya aku menghargai dan menghormatinya, harusnya aku bisa setia bukan malah mencari pelampiasan baru hanya karna nafsu semata" guman Doni.


"Silvana benar harusnya jika aku mencintainya aku menikahinya sekarang apa aku mampu merebutnya kembali sedangkan pria yang dia dapatkan sekarang lebih segalanya dariku" kata Doni yang meremas kasar rambutnya.


"Tapi bagaimana pun juga aku akan berusaha merebut mu kembali. aku yakin kamu sebenarnya masih mencintaiku bagaimana bisa kamu melupakan aku semudah itu."


Doni duduk termenung menyusun rencana untuk merebut Silvana dari sisi Zio. Doni akui Zio lebih dari segalanya darinya tapi dia tidak akan membiarkan wanita yang dia cintai menjadi milik orang lain.

__ADS_1


__ADS_2