
BRAAAAK
Bugh
“Aaa sayang….”
Zio yang baru masuk di dalam ruangan Silvana langsung di sambut dengan lemparan tas dari sang kekasih.
"Eh…. Tuan….." Silvana yang tadinya kesal langsung keget saat mendengar suara orang yang dia kenali.
Silvana membulatkan mata saat melihat Bos sekaligus kekasihnya yang menerima lemparan darinya.
"Mana yang sakit…?" Zio mendekat menatap seksama seluruh wajah Silvana hingga wajahnya berubah menjadi datar saat melihat kening samping sang kekasih memerah yang menandakan tempat itu dia terbentur.
"Ini pasti sakit….."
"Eh…!"
Silvana menatap heran Ziio yang bukannya marah atau kesal Karena terkena lemparannya Bosnya itu justru terlihat mengkhawatirkan dirinya.
"Kamu tidak marah….?" Silvana bertanya dengan kening yang mengkerut.
Zio yang mendengar pertanyaan dari Silvana hanya tersenyum tipis. "Apa aku bisa marah..? Aku tidak akan marah pada orang yang aku cintai" Ujar Zio yang dengan lembut mendudukan Silvana kembali di kursi kerjanya.
Silvana yang mendengar penuturan dari Zio lagi lagi hanya bisa tertegun. Hingga tak sadar dirinya seperti terhipnotis mengikuti kemauan Zio.
"Tahan ya…" Bisik Zio yang menyemprotkan oba tdi kening Silvana.
Silvana diam menatap wajah Zio yang begitu berkali lipat lebih tampan jika di lihat dari jarak sedekat ini. Alisya yang tebal dan tajam seperti pedang. Mata yang teduh mampu menghaturkan dan bibir yang begitu seksi dan terlihat menggoda kaum hawa.
Tatapan Silvana terpaku pada bibir seksi Zio yang begitu menggoda imannya untuk mencicipi bibir itu.
"Shit… Apa yang kamu pikirkan Silvana kenapa berpikiran sangat mesum seperti itu?" Gerutu Silvana dalam hati yang mengerjabkan matanya berulang kali.
Zio yang sedang fokus menyeprot memar di kening Silvana hanya bisa menggigit pipinya dalam-dalam. Zio tahu jika sedari tadi sang kekasih sedang menatapnya lebih tepatnya menatap bibirnya.
Jika di tanya yang sebenarnya Zio juga sedari tadi menahan diri untuk tidak membungkam dan ******* bibir tipis Silvana yang benar-benar menggoda dirinya. Namun, Zio memilih untuk menahannya.
Zio ingin melihat sampai kapan kekasihnya itu mampu untuk menolak dan menahan keinginannya. Zio tahu jika Silvana menginginkan hal yang sama sepertinya. Oleh karena itu, Zio sengaja bertahan agar Silvana yang menciumnya lebih dulu.
"Kok dia nggak cium..?" Silvana menggerutu dalam hati. Berharap Zio menciumnya tapi sampai sekarang belum juga maju membuat Silvana kesal.
__ADS_1
Dengan rasa kesal yang semakin meningkat Silvana membuang napas kasar dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Dam'it"
Zio mengumpat dalam hati saat berharap Silvana menciumnya justru berpaling muka. Dengan gerakan cepat Zio langsung menarik tengkuk Silvana menabrak bibirnya dan bibir Silvana.
Cup
Zio dengan semangat ******* bibir tipis yang sudah menjadi candunya itu. Tangan Silvana dengan pelan terulur mengalun di leher Zio menariknya hingga jarak mereka semakin dekat.
Sret
Zio menarik pinggang Silvana memutarnya hingga kini dia duduk di kursi sedangkan Silvana berada di atas pangkuannya.
Ciuman Zio semakin menuntut dan intens dari bibir turun ke dagu, rahang, dan merambat ke leher sang kekasih. Tangannya tak tinggal diam dengan pelan naik mengelus punggung Silvana membuat wanita yang berada di atas pangkuannya itu melenguh kecil.
Emmmh
Silvana melenguh kecil saat merasakan hisapan dan gigitan penuh sensual di lehernya.
Hap
"Kenapa baby…?" Zio yang ingin membuka kancing baju Silvana langsung menjauh saat tangannya di cegah oleh sang kekasih.
Zio yang mendengar Silvana mengatakan kedatangan tamu langsung menatap seluruh ruangan dan menatap pintu yang terkunci.
"Tamu yang mana baby..? Kamu tidak kedatangan tamu siapa-siapa." Ucap Zio yang ingin membungkam mulut Silvana lagi tapi terhenti saat lagi lagi Silvana menutup mulutnya.
"Bukan tamu orang tapi….. aku sedang datang bulan.."
Dhuaarrrr
Zio yang mendengar penuturan dari Silvana langsung membulatkan mata. Dunianya seperti di timpa oleh langit dan di himpit oleh jurang. Bagaimana bisa di saat kondisinya seperti ini justru kekasihnya itu sedang datang bulan, yang benar saja pikir Zio dalam hati.m
Zio sebenarnya ingin menolak percaya apa yang di katakan oleh sang kekasih. Namun, mengingat Bagaimana mood dari wanitanya yang terus mengomel sedari tadi membuat mau tak mau Zio harus percaya.
Huuuuuh
Zio hanya mampu menarik nafas dan menutup mata berharap sesuatu yang berdiri tegak di bawah kembali tertidur. Harapan tinggal harapan berharap tertidur nyatanya benda tak bertulang itu justru semakin tegak.
Cup
__ADS_1
"Aku keluar dulu kamu istirahat saja jika tidak ingin bekerja." Ucap Zio yang dengan lembut mengangkat Silvana kembali mendudukannya di kursi.
Zio berjalan santai menuju pintu melempar senyum sebelum keluar dari ruangan sang kekasih. Sampai di luar Zio langsung mempercepat langkahnya menuju ruangannya.
Ceklek
Zio dengan kasar membuka pintu ruangannya berjalan langsung menuju ruangan rahasia.
Wusshhhhh
Zio membuka Jaz nya lalu masuk ke dalam mandi membiarkan tubuhnya dibasahi air dingin dari shower. Zio menarik napas dalam-dalam meremas wajahnya dengan kasar.
Tubuhnya seperti panas karna obat meminta untuk di lepaskan tapi Zio tahu dia tidak mengkonsumsi akan hal itu. Tubuh Silvana seperti magnet yang terus menariknya untuk mendekat.
Jika dulu mungkin Zio bisa menahannya namun berbeda setelah melakukannya. Hasratnya selalu naik hanya mencium atau menyentuh wanita itu. Bahkan Zio sedari awal sudah mabuk dengan aroma lavender Silvana bertambah gila lagi karna menginginkan wanita itu.
"Shit…. Kamu seperti magnet baby… Bahkan kamu menarik ku sampai di tempat dasar." Guman Zio yang berada di bawah shower.
Sedangkan di tempat lain Doni sedang mengamuk habis-habisan bagaimana tidak tiba-tiba saja data-data perusahaan sampai bocor.
Doni tidak mengerti kenapa seperti ini. Entah kesengajaan ataukah ada penghianat di perusahaan semua yang terjadi membuat kepala Doni pusing dan amarahnya meledak-ledak.
Brak
"Cepat katakan….! Bagaimana ini bisa terjadi? Apa kalian sudah tidak mau bekerja di perusahaan ini ha…? Bagaimana data-data perusahaan sampai bocor seperti ini?" Bentak Doni pada beberapa orang dalam ruangan itu.
"Benar-benar tidak berguna." Sarkas Doni.
"Maafkan kami Tuan… Kami tidak tahu kenapa seperti ini. Itu…. Terjadi tiba-tiba saja." Ungkap salah satu dari mereka.
"Gio…!" Panggil Doni kepada sekretarisnya yang baru.
"Iya Tuan…" Jawab Gio.
"Urus semua ini… Pastikan para IT kita bisa mengatasi ini semua. Jika sampai 1 jam ke depan semua ini tidak membaik maka kalian semua tahu akibatnya." Ancam Doni yang terdengar sedang menahan amarah.
"Sekarang keluar….!" Usir Doni.
Gio bersama beberapa orang di dalam ruangan itu langsung segera berbalik keluar dari ruangan atasan mereka.
Brak…
__ADS_1
"Sial, Kenap bisa seperti ini? Jelas-jelas kemarin masih baik-baik saja. Jika begini terus aku tidak mempunyai waktu untuk menemui Silvana. Kenapa perusahaan sialan ini juga terus terguncang semenjak Vana pergi? Kenapa masalah terus berdatangan? Kenapa…."
"Karna Silvana adalah salah satu pilar yang mengkokohkan perusahaan ini."