
“Ayo kita masuk,,!” Zio menggandeng tangan Silvana membawa gadis itu masuk dalam mension sederhana yang berlantai 2 itu.
Sampai di dalam lagi lagi Silvana tertegun karena semua susunan dalam mension itu seperti yang di inginkannya. Sedangkan Zio tanpa sepengetahuannya beberapa hari yang lalu Zio tidak sengaja menemukan sebuah skesta bangunan rumah juga beserta tata ruangnya.
Zio sengaja menata seperti semua beenda sesuai dengan apa yang di gambar itu karena Zio tahu jika itu adalah keinginan Silvana’
“Terima kasih hiks…”
Zio yang melihat Silvana menangis langsung kaget hingga membalik tubuh Silvana menatap ke arahnya. Mata Zio membulat sempurna melihat jika iastrinya benar-benar menangis.
“Jangan menangis sayang, kamu membuatku juga sakit melihat air matamu.” Ungkap Zio yang menarik sang istri masuk ke dalam dekapan hangatnya.
Silvana menangis dengan memeluk erat Zio pria yang telah menjadi suaminya itu. Seumur hidup Silvana tak pernah menyangka jika hidupnya akan sebahagia ini. Silvana tidak menyangka jika akan ada pria yang benar-benar memperlakukannya seperti ini.
Waktu menjalin hubungan dengan Doni yang merupakan kekasih sekaligus cinta pertamanya. Hanya Silvana yang berusaha memberi cinta dan menghujani sang kekasih dengan kasih sayang. Silvana berharap dengan adanya kasih sayang dan perhatian itu Doni mau melakukan hal yang sama.
Namun, semua sangat jauh dari apa yang di harapkan oleh Silvana. Bukannya mendapat perhatian justru Doni mulai menjauh darinya dari waktu ke waktu. Hingga sebuah pil pahit harus Silvana rasakan di saat dia mengetahui jika kekasihnya yang dia pertahankan selama ini ternyata berselingkuh di belakangnya.
“Terima kasih karena telah mencintaiku sebesar ini.” Ucap Silvana dengan memeluk erat-erat Zio.
“Kamu ingin berterima kasih?”
“Hm yah, aku ingin berterima kasih padamu karna sudah menghadiahkan aku rumah seindah ini.”
“Jika begitu, berterima kasihlh yang benar.”
“EH HEY…..!” Silvana memekik kaget saat Zio tanpa aba-aba langsung menggendong dirinya ala bridal style. Silvana yang takut jatuh apalagi saat Zio yang menaiki tangga langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Zio.
Silvana menatap dalam wajah yang ada di depanya ini. Wajah pria yang tak di sangka-sangka olehnya kini menjadi miliknya. Dalam hidup ini tak pernah satu kalipun Silvana berharap akan bisa hidup bahkan di cintai pria seperti Zio.
Zio melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar mereka. Sampai di kamar Zio dengan pelan membaringkan sang istri diatas ranjang yang telah di hiasi bunga mawar dengan pola love di tengah-tengah ranjang.
Hap
Zio segera naik di atas tubuh Silvana membuat wanita langsung menegang apalagi melihat tatapan lapar Zio.
“Zio..”
__ADS_1
Ssssst
Silvana langsung terdiam saat jari telunjuk Zio menekan bibirnya.
“No Zio, mulai sekarang panggil habby, honey, baby, suamiku, sayang. Kamu harus memilih di antara nama itu.” Ucap Zio dengan suara rendah tangannya mengelus wajah Silvana yang masih menggunakan make up.
Silvana yang mendengar apa yang di katakan oleh pria yang baru saja menjadi suaminya itu langsung membulatkan mata. Sejak kapan Zio menjadi pria yang selebay itu pikir Silvana.
“Ayo panggil aku….!” Desak Zio kepada Silvana.
Silvana yang didesak pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Silvana bingung harus memanggil Zio dengan sebutan apa karna menurut Silvana panggilan yang di usulkan Zio terdengar menggelikan. Namun, Silvana tidak mungkin menolaknya.
“Bagaimana jika dengan sa..yang?”usul Silvana dengan nada terbata-bata.
“Sayang…? it`s oke. Aku rasa itu cukup bagus, jadi mulai sekarang kamu harus memanggilku sayang. Coba panggil lagi..!” Ucap Zio lagi.
Silvana langsung menelan ludah, “Sayang…” panggil Silvana dengan wajah yang memerah karena malu.
Cup
Zio yang tak tahan melihat wajah menggemaskan sang istri langsung mencium bib1r Silvana.
Silvana yang melihat Zio bangkit hanya bisa mengerutkan dahi. Silvana pikir Zio akan melakukan itu tapi kenapa pria itu justru bangun.
Silvana bangun duduk bersandar di kepala ranjang memperhatikan Zio yang sedang membuka satu persatu rak meja rias. Sedangkan Zio terlihat pria itu sedang fokus mencari yang di butuhkannya saat ini. Setelah mencari beberapa saat akhirnya Zio menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
“Kemarilah…!” Panggil Zio yang melambaikan tangan kepada Silvaa agar mendekat ke arahnya.
Silvana bergegas turun dari ranjang berjalan mendekati Zio yang berada di meja rias. sampai di dekat Zio wanita itu langsung didudukan di kursi rias.
“Diam dan jangan bergerak aku akan membersihkan wajahmu.” Kata Zio yang mulai melepaskan aksesoris yang ada di kepala Silvana.
Sedangkan di tempat lain seorang pria paruh baya berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam lift dan menekan angka 25.
Ting
Pria paruh baya itu langsung keluar dari lift berjalan cepat menuju ruangan yang tertulis Presider.
__ADS_1
Ceklek
“DONI…” Pria paruh baya itu membulatkan mata melihat sang putra semata wayangnya yang duduk termenung di lantai dengan serpihan kaca dimana-mana.
Tuan Riko berjalan cepat menuju sang putra menyingkirkan pecahan kaca yang ada di sekitar Doni. Tuan Riko hanya bisa menatap kasihan nasib sang putra. Tuan Riko duduk di samping Doni mengambil tangan Doni lalu membuka beling yang ada di genggaman tangan Doni.
Tuan Riko meringis sakit melihat darah yang berceceran di lantai yang berasal dari luka di tangan Doni.
“Di saat seperti ini dimana Gio? Kenapa dia tidak mengetahui keadaan bosnya.?” Gerutu Tuan Riko yang merasa kesal dengan Gio orang yang menjadi asisten dari sang putra.
Biasa seorang asisten adalah orang yang mengetahui kondisi atasannya tapi entah kemana perginya asisten dari anaknya itu.
“Keruangan Doni sekarang juga..!”Perintah Tuan Riko kepada orang yang berada di sebrang sana.
“Ayo bangun, jangan duduk disana terus.” Tuan Riko langsung membopong Doni membawanya duduk di atas sofa.
Tak lupa Tuan Riko mencari obat untuk membersihkan dan mengobati luka yang ada di tangan sang putra.
Tok
Tok
Tok
“Masuk…!”
Ceklek
“Tuan…..”
Plak
“Darimana kamu ha….? Kamu tidak tahu jika bos kamu seperti ini?” Bentak Tuan Riko kepada Gio yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
Rio yang mendengar bentakan dari Tuan Riko hanya bisa menunduk diam. Tak berani melawan atau pun membalas ucapan Tuan Riko.
“Panggil seseorang untuk membereskan semua ini…!” Bentak Tuan Riko lagi.
__ADS_1
Rio yang mendengar perintah dari Tuan Riko langsung berbalik keluar dari ruangan itu mencari OB untuk membersihkan kekacauan yang ada di ruangan sang atasan.