
Silvana terus menggelengkan kepalanya saat mengingat apa yang dia lakukan tadi malam. Silvana benar-benar malu rasanya seperti ingin menggali lubang bersembunyi sekarang.
"Sial, kenapa aku menjadi sangat berpikiran kotor seperti ini. Dan tadi malam itu…….?"
AAAAA
"Sial, sial sial apayang harus aku katakan pada Zio nanti. Aku terkesan seperti wanita murahan yang haus akan belaian" umpat Silvana yang Merutuki kebodohan dirinya sendiri.
"Huuuh tenang… tenang….. ambil napas buang……ambil…..buang…. Oke tenang Silvana. Oke saatnya bekerja" ucap Silvana yang menyemangati diri sendiri.
Silvana mulai serius bekerja memeriksa satu persatu berkas dan laporan yang ada di berkas dan mencocokkannya dengan ada yang di komputer di depannya. Hingga tak terasa jam makan siang dan istrahat telah tiba.
Kring….
"Okey fiks. Aku harus segera pergi sebelum Zio datang ke ruangan aku" Guman Silvana yang langsung berjalan keluar cepat dari ruangan itu.
Seperti apa yang pikirkan Silvana, baru 5 menit terlihat Zio yang berjalan santai menuju ruangan Silvana. Bersyukur Zio dan Silvana tidak seruangan seperti dulu. Sehingga Silvana mempunyai peluang untuk kabur.
Ceklek
"Sayang….. Silvana…!" Panggil Zio namun tak ada sahutan dari Silvana.
Zio segera menuju toilet yang ada di ruangan Silvana namun sampai disana ternyata Silvana juga tidak ada.
"Kemana Silvana? Apa dia masih marah karna soal tadi malam? Sial, harusnya aku tidak menolaknya jadi tidak akan seperti ini" umpat Zio yang langsung keluar dari ruangan Silvana menuju kantin perusahaan.
Zio hanya bisa berharap Silvana berada di kantin perusahaan. Bagi karyawan perusahaan Zio telah memberikan pelayanan kantin dengan gratis baik itu karyawan yang punya jabatan tinggi sampai di OB sekalipun
Sampai di kantin Zio langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan sudut mencari beradaan sang kekasih. Namun Zio harus menelan kekecewaan karna sosok yang dia cari nyatanya tak ada di kantin.
"Ada apa Bos?" Tiba-tiba Arga muncul di depan Zio.
Arga yang melihat keberadaan dari Bosnya langsung berdiri. Dengan langkah lebar Arga berjalan mendekat ke arah Zio. Arga yang sabg Bos pasti mencarinya karena ada suatu hal yang harus di urus.
"Ck aku tidak mencarimu aku mencari kekasihku" ucap Zio yang menatap sinis Arga.
"Eh itu… terserah Bos saja"
Arga hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya karna ulah dari si Bos-nya itu.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam saja, ayo bantu aku cari kekasihku!" Kata Zio yang penuh penekanan.
"Baik Bos"
Arga segera berjalan menyusuri kantin itu mencari keberadaan Silvana. Namun tidak menemukannya sama sekali.
Sedangkan orang yang mereka cari sedang asyik-asyiknya maka di pinggir jalan tanpa peduli dia menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Sial. Gara-gara masalah kemarin aku harus terus menghindar dari Zio. Aku belum bisa untuk menghadapinya." Gerutu Silvana dalam hati.
"Vana!"
Silvana yang sedang asyik makan pun langsung berhenti saat mendengar namanya di panggil. Silvana mengedarkan pandangannya mencari orang yang memanggilnya hingga berhenti saat melihat seseorang yang turun dari mobil.
"Cih mantan buaya ini lagi" Guman Silvana yang menatap kesal ke arah Doni.
"Kamu ngapain di tempat seperti ini?" Tanya Doni yang duduk di samping Silvana.
"Mata mu Katarak? Atau buta sekalian? Nggak lihat aku sedang apa? Makanlah!" Jawab Silvana ketus.
Doni yang mendengar penuturan dari Silvana hanya bisa tersenyum kecut. Dulu Silvana tak pernah berbicara ketus seperti ini padanya. Silvana yang dulu adalah wanita yang lemah lembut yang selalu bertutur kata yang lembut padanya.
Jika di tanya menyesal atau tidak maka jawabannya adalah sangat menyesal. Andaikan dia tidak melakukan kesalahan itu mungkin mereka masih bersama.
"Kamu kesini bersama siapa?" Tanya Doni lagi.
"*****"
Diam? Silvana hanya diam mengacuhkan Doni bahkan menoleh saja tidak. Doni yang melihat itu lagi lagi hanya bisa tersenyum kecut.
"Mana kekasih kamu yang kaya itu? Katanya kekasih kok nggak temani kamu? Apa dia malu karna kamu makan di pinggir jalan? Harusnya sih biasa saja. Dia harus bisa menerima kamu apa adanya……."
"Berhenti mengoceh seperti burung. Kamu tahu suara mu itu seperti radio rusak yang membuat telingaku sakit" potong Silvana yang menatap tajam Doni.
"Apa jika aku tidak melakukan kesalahan itu kita masih bersama sampai saat ini?"
Pertanyaan Doni membuat langkah kaki Silvana yang ingin pergi langsung terhenti.
Silvana berbalik menatap Doni dengan sinis, "Bersama?"
__ADS_1
"Untuk apa menanyakan sesuatu hal yang telah usai?" Tanya Silvana balik.
"Itu bagi kamu tapi bagi aku kita belum usai Vana!" Ucap Doni dengan penekanan setiap katanya.
"Cih, yang membuat kesalahan siapa? Yang bermain api siapa? Semua itu anda Tuan Doni Atmaja terhormat. Kesalahan mu cukup banyak tapi selalu ku maafkan tapi tidak dengan pengkhianatan. Kamu pikir di dunia ini hanya kamu saja seorang yang berjenis kelamin pria?"
"Tapi aku juga pria normal Vana, aku butuh kebutuhan batin seperti ****. Bukankah itu hal yang wajar bahkan sekarang ini wanita tidak perawan merupakan hal lumrah?"
"Begitu? Baiklah aku akan melakukannya dengan orang lain lalu aku akan kembali padamu. Kita lihat apa kamu bisa menerimaku atau tidak"
Deg
Doni yang mendengar penuturan dari wanita yang masih di cintainya itu langsung tertegun. Melakukannya dengan orang lain? Apa-apaan itu? Apa Silvana akan benar-benar melakukannya?
Doni menatap Silvana dengan pandangan yang sulit di artikan. Membuka mulut untuk mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya sekarang.
"Apa maksud mu dengan melakukan dengan orang lain? Apa kamu benar-benar akan melakukan itu dengan orang lain?" Tanya Doni dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
"Kenapa tidak? Kenapa? Kamu jijik denganku karna aku melakukannya dengan orang lain?" Tanya Silvana yang menohok hati.
"Aku…..aku…."
"Hanya memikirkannya pun kamu merasa jijik. Lalu bagaimana denganku yang jelas-jelas melihat kami melakukan itu? Entah sudah berapa wanita yang menikmati tubuhmu? Entah sudah berapa lubang yang kamu masuki? Entah sudah berapa banyak wanita yang kamu ajak bertukar Saliva? Kamu tahu….? Memikirkan saja itu benar-benar membuat ku jijik hingga mual"
Setelah berkata seperti itu Silvana langsung pergi meninggalkan Doni yang kini hanya bisa berdiri mematung menatap punggung Silvana yang semakin menjauh.
Sekarang Doni tahu kenapa Silvana tidak akan pernah kembali dalam pelukannya. Selain karna pengkhianatan Silvana juga merasa jijik terhadapnya. Apa yang di katakan Silvana adalah kebenaran. Entah sudah berapa banyak wanita yang dia masuki dan sudah berapa banyak wanita yang menikmati tubuhnya
Doni sendiri pun tidak tahu akan hal itu.
"Sial," umpat Doni yang langsung menuju mobilnya.
"Ternyata si cunguk itu berani menemui kekasihku. Apa aku buat bangkrut saja perusahaannya kecil itu?" Ucap Zio pelan dengan nada datar menatap tajam mobil Doni yang melaju kencang.
"Bos ingin membuat perusahaan itu bangkrut?" Tanya Arga yang menatap io.
"Kenapa tidak? Berani sekali dia masih mendekati wanitaku!"
Tanpa Silvana dan Doni ketahui Zio dan Arga telah berada di tempat itu bersamaan dengan kehadiran Doni. Zio yang ingin menghampiri Silvana terhenti karena Doni yang langsung duduk di samping Silvana. Alhasil Arga dan Zio hanya duduk di belakang Silvana dan Doni mendengar semua percakapan mereka.
__ADS_1
"Jadi kamu ingin melakukannya karna ingin kembali pada si bajingan cunguk itu? Jangan harap sayang. Aku benar-benar akan membuat mu mengandung Anakku dengan begitu kamu tidak bisa lari dariku" kata Zio dalam hati.