
"Aku tak suka kamu mengkhawatirkan pria lain selain aku" kata Zio dengan memanyunkan bibirnya membuat Silvana tersenyum gemes.
"Kenapa" Entah kenapa Silvana tiba-tiba mempunyai keinginan menggoda Zio.
"Tentu saja aku cemburu. kamu kekasihku, kamu hanya boleh mengkhawatirkan aku saja" kata Zio menggebu-gebu.
"Aah baiklah aku hanya akan mengkhawatirkan kekasihku ini" kata Silvana sambil tersenyum manis ke arah Zio.
"Berani menggodaku" kata Zio menarik pinggang Silvana hingga tubuh keduanya saling menempel
"Kenapa tidak" tantang Silvana mengalunkan kedua tangannya di leher Zio.
"Jangan salahkan aku" Desis Zio menyeringai dingin menatap Silvana.
"Ap…."
Kalimat Silvana langsung terpotong karna bibir Zio lebih dulu membungkam mulut Silvana dengan Ciuman yang menuntut.
Zio menyerang bibir Silvana dengan rakus dari tadi ia sudah menahan keinginannya untuk menyesap bibir itu tapi nyatanya bibir itu terus menggoda imannya.
Sret
Hanya butuh satu kali tarikan Tubuh ramping Silvana langsung berada di gendongan Zio.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Silvana kaget karna tubuhnya di angkat oleh Zio.
"Diam" Tekan Zio lalu berjalan ke sofa di ruangan itu.
Zio meletakkan Silvana di sofa itu lalu menindih tubuh mungil dengan tubuhnya.
"Apa yang…" ucapan Silvana langsung tertelan karna Zio kembali menyerang bibirnya. Kali ini Zio menyerangnya lebih rakus dari yang tadi.
"Engeeuh" Lenguh Silvana di sela-sela l*****n yang mereka lakukan.
Zio semakin liar mencium ******* bahkan menyesal bibir Silvana dengan keras dan dalam. Lenguhan Silvana bahkan membuat Zio semakin tak terkendali. Kedua mata Zio semakin terpesona saat melihat leher jenjang nan putih Silvana sehingga dengan semangat Zio melepaskan bibir Silvana lalu menurunkan ciumannya di dagu lalu berakhir di leher putih Silvana.
Di hisapnya dan jilatnya kulit putih leher Silvana dengan rakus bahkan kini tangannya sudah bergerilya kemana-mana.
"Engeeuh" Silvana langsung menutup mulutnya saat ia mengeluarkan suara laknat itu.
"Mulut sialan" umpat Silvana dalam hati.
"Keluarkan baby jangan di tahan" ucap Zio di leher Silvana.
Zio kembali mencumbu leher jenjang leher Silvana. di hisap dan j*larinya leher itu hingga meninggalkan beberapa tanda merah disana.
"Ah" Silvana tidak bisa menahan desahannya saat Zio mengigit kecil kupingnya membuat Silvana langsung menggeliat.
"Sensitif" batin Zio menyeringai lalu kembali mencumbui kuping Silvana dengan ganas tangannya bergerak dengan gesit melepas pengait pembungkus kedua bongkahan itu.
__ADS_1
Hap
"Kenyal dan lembut" batin Zio meremas lembut p*****ra Silvana
"Ah Zi…Zio" ******* Silvana bagai melodi indah bagi Zio.
Kryuuk
Kryuuk
Kryuuk
"Kamu lapar" tanya Zio yang menghentikan cumbuannya lalu menatap Silvana yang sudah memerah di bawah kukungannya antara menahan hasrat dan malu sekaligus.
"Kamu lapar" ulang Zio dengan suara berat.
"Iya" cicit Silvana.
Blank…..
Otak Zio langsung blang seketika merasakan pusat dirinya yang sudah mendidih.
"Kita pesan saja" kata Zio yang terpaksa beranjak bangun dari tubuh Silvana yang atasannya hampir ia buka semua.
"Tidak usah aku akan memasak saja" kata Silvana gugup merapikan kembali pakaiannya lalu berdiri berjalan ke dapur namun baru beberapa langkah Silvana membalik tubuhnya lagi.
"Aku ingin mencicipi makananmu" jawab Zio tersenyum manis yang mengartikan ia akan makan bersama Silvana.
Mendengar itu Silvana hanya menganggukan kepala tanda mengerti lalu kembali berjalan ke arah dapur Sedangkan Zio hanya bisa membuang napas kasar dan menarik rambutnya frutasi melihat pusat dirinya yang masih berdiri tegak bak menara.
"$**t dia begitu candu dan memabukan untukku" desis Zio menatap Silvana yang sedang asyik dengan kegiatannya tanpa menyadari jika Zio sedang memerhatikannya.
"Kenapa dia malah terlihat seksi dengan rambut acak-acakan seperti itu dan kau Jhon tidurlah kembali belum saatnya kamu masuk sarang"
Zio hanya bisa mendesah kasar karna pusat dirinya itu tak kunjung tidur membuat kepalanya makin berdenyut.
Zio mengambil ponselnya mengotak atiknya benda canggih itu.
"Hallo carilah makan atau tidak tinggalkan saja mobil lalu kau pulang naik taksi" kata Zio tanpa perasaan lalu memutuskan begitu saja panggilan secara sepihak.
30 menit kemudian.
Setalah menunggu beberapa menit akhirnya masakan Silvana siap walau hanya masakan sederhana namun Zio terlihat berbinar dan bersemangat melihat hidangan yang di hidangkan oleh Silvana di atas meja.
"Maaf aku hanya bisa memasak ini seadanya. di kulkasku tidak ada daging lagi jadi hanya ini saja" Silvana merasa tidak enak kepada Zio karna Silvana tau Zio terlahir dari keluarga kaya dari kecil pasti makannya adalah makanan mewah atau daging.
"Tidak apa-apa, apapun yang kamu masak dan hidangkan akan aku makan" balas Zio.
"Wah beracun sekalipun" kata Silvana tiba-tiba membuat Zio yang sedang menatap makanan langsung mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Jika beracun sekalipun akan tetap aku makan jika itu kamu yang hidangkan" jawab Zio menatap serius Silvana yang kini duduk mematung di tempat menatap Zio.
"Sudahlah. ayo ambilkan aku" pinta Zio membuat Silvana langsung tersadar.
"Ambil aja sendiri" kata Silvana ketus mulai menyedok nasi lalu mulai mengambil lauk pauk untuk dirinya sendiri tanpa melihat Zio yang sudah cemberut.
"Makan tuh" kata Silvana enteng.
Sret
"Zio….."
"Aku minta di ambil tadi tapi kamu malah nolak ya sudah ini untukku saja. sana ambil yang baru" kata Zio santai mulai memakan makanannya.
"Siapa yang tuan rumah, siapa yang tamu" gerutu Silvana dalam hati menyodok nasi dan lauk pauk di piringnya.
"Enak" batin Zio saat makanan itu masuk di dalam mulutnya hingga dengan refleks Zio menutup mata menikmati rasa makanan Silvana.
"Kenapa enak yah?" Silvana bertanya dengan menatap intens Zio yang sedang menikmati masakan miliknya.
"Hm enak" jawab singkat Zio melanjutkan acara makannya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua selesai makan. Silvana langsung membereskan meja dan mengambil piring kotor lalu mencucinya sedangkan Zio hanya menatap kegiatan yang di lakukan Silvana yang menurutnya terlihat seksi.
Dengan pelan Zio beranjak lalu berjalan menuju Silvana yang tengah sibuk membersihkan piring.
Grep
Silvana tersentak saat muncul lengan lebar memeluk pinggangnya namun Silvana kembali tenang saat mengingat tidak ada orang lain di Apartemennya selain dia dan kekasihnya. Kekasih? sejak kapan Silvana menganggap seperti itu? Namun entah mengapa Silvana merasa tenang dalam dekapan itu.
"Kamu tidak pulang?" tanya Silvana membalik badan menghadap Zio.
"Tidak. aku ingin tidur disini malam ini" kata Zio enteng menyelinapkan anak rambut Silvana ke belakang telinga.
"Tidak boleh!" seru Silvana.
"Kenapa?' Zio bertanya dengan mengangkat alisnya satu.
"Itu karna….. karna itu…." Silvana gelagapan sendiri memikirkan alasan. melihat itu membuat Zio gemes lalu mendaratkan sebuah kecupan di sudut bibir Silvana yang tentu membuatnya mematung.
Cup
"Tenang saja aku tidak akan macam-macam kok" Seakan mengerti apa yang di rasakan wanitanya Zio segera menenangkan.
"Aku memang menginginkan mu bahkan sangat menginginkan dirimu sampai ke tulangku namun jika kamu belum siap. aku akan menunggu kamu siap menerimaku seutuhnya" kata Zio menatap lembut Silvana.
"Aku pulang dulu" lanjut Zio lalu mengecup dalam kening Silvana.
Cup
__ADS_1