
Doni duduk merenung dalam kamarnya memikirkan matang-matang apa yang harus dia lakukan. Dia memang mencintai Silvana tapi melepaskan Mona yang sudah beberapa bulan menjadi tempat ia melampiaskan hasratnya. Dan hanya Mona yang juga bisa memuaskan nafsunya selama ini.
Doni akui Mona memang sudah menjadi bagi Doni bukan karna cinta tapi tubuhnya yang memang sangat bertekuk lutut kepada Mona. Namun, jika harus kehilangan Silvana apa Doni mau? Tentu tidak.
Sebejat apapun dia, sebrengsek apapun dia tetap saja Doni akan mencari wanita yang baik untuk menjadi istri dan ibu untuk anak-anaknya nanti.
Di satu sisi walaupun Doni kembali kepada Silvana namun jika dia tidak melepas Mona maka hasilnya akan tetap sama yaitu Silvana akan meninggalkannya. Doni tahu bagaimana berprinsipnya wanita yang dia cintai itu.
Jika Silvana mengatakan A maka akan seperti itu terus walaupun banyak pilihan maka Silvana ka tetap pada pilihan dan pendiriannya yaitu A.
Merasa stres dan pusiang Doni meneluarkan rokok lalu membakarnya. Menghisap benda nikotin itu dengan rakus dengan kepala yang sandarkan pada pinggiran ranjang.
Kenangan bersama Silvana lagi-agi muncul menari-nari di dalam pikirannya. Bagaimana hubungan mereka yang dulunya romantis walau tanpa arus bersentuhan berlebihan. Hingga di tahun kedua dirinya mulai menginginkan hal itu membuat hubungan mereka pelan-pelan mulai retak dan puncakmya saat dia mengenal Mona dan menjalin hubungan dengan wanita itu.
Semenjak adanya Mona Dalam hidupnya Doni mulai menjauh bahkan tak pernah lagi memberi waktu untuk dirinya dan Silvana.
“Sial….!” Doni mengumpat kesal saat mengingat bagaimana dia bermain curang.
“Kenapa aku baru sadar jika sudah selama itu aku membuatnya terluka dan tersakiti? Kenapa aku baru sadar jika aku menghianatinya begitu dalam?” Guman Doni yang merasa kesal dan kecewa pada diri sendiri.
Drettt
Drett
Doni hanya bersikap acuh pada ponselnya yang sedang bergetar. Tanpa melihat pun Doni tahu siapa sang penelfon jika bukan wanita yang selama ini memuaskannya.
Drettt
Karna terus bergetar tak punya pilihan lain Doni langsung mengambil ponselnya dengan kesal menekan ikon hijau.
“Ada apa?” Ucap Doni datar.
“Sayang kamu tidak datang di apartemen aku…? Aku sedang menunggumu kamu lo….” Suara manja dan seksi di sebrang sana membuat Doni horni seketika.
Doni menatap datar benjolan yang berada di pangkal pahanya itu. Inilah yang Doni takutkan dia benar-benar tidak bisa menolak ajakan dari wanita pemuasnya itu.
“Tunggu aku…!” Doni langsung mematikan sambungan teleponnya beranjak berdiri untuk menuju apartemen wanita itu.
__ADS_1
Namun baru beberapa langkah Doni melangkah suara ponselnya menghentikan langkah kakinya.
Mata Doni memicing saat melihat jika yang menelfonnya adalah orang kepercayaannya di perusahaan.
“Ada apa?”
“APAAAA…? AKU AKAN SEGERA KESANA!”
Doni segera berlari keluar dengan wajah yang benar-benar tegang. Saking buru-burunya Doni sampai tidak melihat Daddy-nya yang berada di ruang tamu.
“Ada apa lagi dengan anak itu? Pasti menemui wanita itu lagi.” Tuan Riko hanya bisa mendesah kasar akan sifat Doni yang sangat tidak berpendirian.
“Bagaimana…? Sudah kamu lakukan?” Suara datar itu langsung menyapa pendengar Arka saat masuk di ruangan sang Ceo.
“Semua sudah beres Bos…” Jawab Arga dengan tegas.
“Bagus. Persiapkan acara pernikahanku satu minggu lagi.” Ucap Zio dengan tenag.
Arga yang mendengar itu sontak membulatkan mata. Acara pernikahan? Apa Bosnya itu benar-benar akan menikah? pikir Arga yang menatap tak percaya kepada Zio.
“Kenapa diam….!” Sentak Zio yang menatap tajam Arga.
"Apa sekarang kamu sudah tidak punya otak? Siapa lagi jika bukan Silvana! Aku tidak akan menikah jika bukan dengan dia!" Balas Zio dengan nada tajam.
"Tapi Tuan besar…."
"Untuk apa memikirkan pria tua itu…? Aku tak butuh izinnya untuk menikah. Lagipula aku akan menikah dengan pilihanku bukan pilihannya." Potong Zio cepat.
“Tapi…. Baik Bos akan saya kerjakan.” Arga langsung mengiyakan saat melihat tatapan milik Zio.
Dengan langka cepat Arga berbalik berjalan keluar cepat dari ruangan bos nya itu. Arga tidak ingin mendapat semprotan dari Zio lagi.
“Aku tidak mungkin membiarkan Silvana begitu saja saat aku sudah melakukannya. Lagipula mana mau aku melepaskan Silvana pada bajingan tengik itu.” Ucap Zio yang tiba-tiba kesal saat mengingat Doni.
Brukkk
“Aaaah…”
__ADS_1
Arga yang berjalan terburu-buru tidak sadar ada orang di depannya hingga Ara menabrak orang itu. Arga membulatkan mata saat melihat siapa yang di tabrakannya barusan.
“No..nona Silvana…”
Yups orang yang di tabrak oleh Arga adalah Silvana yang merupakan wanita dari sang Bos.
“Mampus aku…” Batin Arga yang menoleh ke arah pintu.
Arga bernapas lega saat pintu masih tertutup rapi. Dengan gerakan cepat Arga langsung berjongkok membantu Silvana memungut kertas yang berhamburan.
“Maafkan saya Nona Silvana… Tadi saya sedang buru-buru hingga tidak melihat anda.” Ungkap AArga yang meminta maaf kepada Silvana yang berwajah masam.
“Tidak apa-apa Tuan… Saya juga yang tidak melihat anda.” Ucap Silvana sambil berusaha tersenyum namun terlihat di paksakan.
Setelah semua berkas terkumpul di tangannya Silvana langsung berdiri dan berbalik pergi. Moodnya benar-benar buruk di kondisi seperti ini.
Tadinya Silvana mau mengantar berkas kepada Zio tapi sekarang tidak jadi moodnya sudah buruk sekarang.
“Ada apa dengan nona Silvana..? Kenapa Berwajah masam seperti itu? Tidak BOs tidak calon nyonya semuanya sama saja.” Gerutu Arga yang berdiri dan beranjak pergi dari sana.
Sedangkan di ruangan lain Silvana yang baru masuk ke dalam ruangannya langsung mendudukan diri kasar di atas kursi kerja miliknya.
“Apa mata Asisten Arga rabun atau buta sekalian masa badan segede ini tidak di lihat. Kenapa semua orang menyebalkan hari ini?” Gerutu Silvana dengan kesal.
“Lagian kenapa dapat sekarang sih…?”
Silvana terus mengomel entah apa yang di omelkan. Zio yang melihat tingkah Silvana yang terus membolak balikkan berkas di mejanya membuat pria mengerutkan alis.
Wanitanya itu biasanya akan sangat serius bekerja tapi kenapa sekarang seperti sangat bete dan terlihat kesal. Zio terus memperhatikan Silvana lewat kamera tersembunyi yang di pasangkan oleh Zio Sembunyi-sembunyi.
“Ada apa dengannya…?” Guman Zio yang bertanya-tanya menatap bingungambar di leptopnya.
“Astaga sayang……!” Zio yang melihat Silvana terjedot sudut meja langsung berdiri dan berlari keluar.
Zio dengan langkah cepat seribu bayangan berlari cepat menuju ruangan Silvana yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruangannya.
BRAAAAK
__ADS_1
Bugh
“Aaa sayang….”