
“Bagaimana jika dengan memberi perhiasan?” usul Arga kepada Zio yang sedari tadi sedang menatapnya.
“Silvana tidak suka perhiasan,” balas Zio ketus.
“Emmmmm jika begitu…,” jeda Arga yang menunduk kembali melihat ponselnya.
“Bagaimana jika membelikan hadiah seperti mobil?”
“Tidak, itu ide yang buruk.”
“Membeli pulau,”
“Tidak.’’
“Bulan madu?”
Terlihat Zio yang terdiam karena saran dari Arga. Di akuinya itu saran yang cukup bagus karena Zio belum membawa Silvana bulan madu setelah menikah. Tapi di kondisi yang saat ini perusahaan sedang melakukan pembangun proyek besar yang harus selalu di pantai Zio langsung tidak mendukung jika mereka pergi.
“Tidak.” Kata Zio setelah terdiam cukup lama.
“Jika begitu beri saja bunga. Nonya menyukai kesederhanaan bukan? Jika begitu berikan saja bunga.” Usul Arga terakhir karena dia sudah kehabisan ide untuk membantu Bosnya itu.
Dapat Arga tebak jika bosnya itu pasti sedang marahan karena sudah beberapa hari ini terlihat jika Silvana terus menghindar dari Zio.
__ADS_1
“Baiklah, pesankan aku bunga dan pastikan itu sangat segar.” Kata Zio dengan penuh nada perintah.
Haaaaah
Arga hanya bisa menghela napas oleh tingkah seenaknya dari sang Bos. Dengan Wajah masam Agar segera menganggukan kepalanya ke arahnya Zio.
“Baik Bos, saya akan segera memesannya.” Ucap Arga dengan langsung keluar dari ruangan Zio.
“Ini semua gara-gara ulat keket itu, pasti Silvana melihatnya masuk ke dalam ruangan ini beberapa hari yang lalu.” Gerutu Zio yang kembali menyalahkan Angelina.
Sedangkan di tempat lain Silvana masuk ke dalam sebuah kafe yang di jadikannya pertemuan dengan seseorang.
Sampai di dalam kafe Silvana mengedarkan pandangannya hingga menemukan orang yang mengajaknya bertemu di tempat itu. Hanya saja Silvana mengerutkan dahinya saat menemukan seorang pria paruh baya di samping sosok yang mengajaknya bertemu.
Tak mau ambil pusing Silvana langsung melangkahkan kakinya menuju. Sampai di depan sosok itu Silvana langsung tidur sosok di depan.
“Siapa lagi pak Tua bangka ini? Jika kakek Zio bukan karena aku pernah melihatnya. Lalu siapa lagi? Pasti sekutu nenek lampir ini lagi,” Batin Silvana yang memutar mata malas.
“Ada apa hingga kamu mengajak aku bertemu di tempat seperti ini? Kamu tahu bukan jika aku sangat sibuk.”
“Aku mau kamu pergi jauh dari negara ini, tinggalkan Zio karena sejak awal kamu itu hanya selingan.” Ucap Angelina dengan dagu yang terangkat.
Silvana yang mendengar apa yang di katakan Angelina hanya bisa tersenyum sinis. Silvana kira wanita di depannya itu telah mundur untuk mengejar Zio. Sudah 3 Angelina tidak menampilkan lagi wajahnya di perusahaan Zio sang suami. Silvana kira wanita di depannya itu sudah menyerah nyatanya wanita itu justru menyusun rencana baru.
__ADS_1
“Jika tidak bagaimana?” tantang Silvana kepada Angelina.
“Kamu itu harusnya sadar, kamu itu hanya selingan karena Zio belum bertemu denganku,” ungkap Angelina dengan penuh percaya diri.
“Dengan Nona Angelina, mau aku sebagai selingan, pelarian, ataupun selingkuhan sekalipun. Anda hanya orang luar tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku dengan Zio yang merupakan suamiku. Sadar diri? disini yang sadar diri itu kamu, harusnya kamu sebagai wanita lajang dan sesama wanita tidak perlu merebut suami wanita lain. Kamu bisa mencari pria yang masih lajang di luaran sana.” Ucap Silvana dengan tenang.
“Sayangnya aku tidak mau pria lain, aku hanya menginginkan Zio dan Zio seorang.”
“Berarti anda cukup murahan bukan?”
Brak
Pria tua yang berada di samping Angelina yang sedari tadi terus diam kini langsung menggebrak meja dengan keras. Pria tua itu tak lain dan tak bukan adalah Tuan Rio kakek dari Angelina.
“Jangan pernah menghina cucuku!” bentak Tuan Rio yang tidak terima karena cucunya diKatain murahan oleh Silvana.
Silvana yang mendengar apa yang di katakan oleh pria tua itu langsung mengerti. Jika pria tua itu tak lain adalah kakek dari Angelina. Walaupun begitu Silvana tak merasa takut sama sekali, matanya melirik ke arah Angelina dengan sebuah senyum terbit di bibirnya.
"Jadi dia cucu anda?" Tanya Silvana dengan santai menunjuk Angelina.
"Yah dia cucu ku, apapun yang dia katakan adalah kebenaran dan apapun yang dia ingin maka harus dia dapatkan." Ucap Tuan Rio dengan lantang.
Bersyukur saja karena suasana kafe yang memang sudah di booking oleh Tuan Rio hingga tidak ada yang mendengar apa yang di katakan pria tua itu.
__ADS_1
"Pantas Nona Angelina begitu egois dan tak tahu malu," ucap Silvana gamblang yang memancing amarah Tuan Rio.
"Apa maksud ucapanmu itu?"