
“Apa-apaan ini? Kenapa semua pakaian yang ada di dalam lemari ini semuanya baju kurang bahan semua? Kalau gini lebih baik aku tidak pakaian saja. Lihat ini..! Bagaimana ada orang yang menggunakan pakaian yang belum jahit seperti ini. Dan ini, kenapa seperti jaring laba-iaba yang lubang sana-sini. Entah siapa yang membeli pakaian seperti ini. Aku berdoa orang itu keselek biar tahu rasa dia.” Gerutu Silvana yang membuang semua isi lemari yang ada di depannya.
Uhukkkk uhukk
“Siapa yang berani mengumpatku? Kenapa mereka harus mengumpatku di saat aku sedang makan seperti ini.” Omel Arga yang menarik gelasnya dan meminum airnya hingga tandas.
Di tempat lain Silvana yang tak menemukan pakaian yang waras satu pun dari lemari yang di katakan Zio adalah lemarinya langsung membuang semua isinya tanpa menyadari jika harga pakaian itu sampai puluhan juta.
“Jangan-jangan yang membeli semua ini Zio..? Awas aja jika benar-benar dia akan aku kebiri burungnya itu.” Kata Silvana dengan kesal membuka lemari sang suami mencari kemeja yang sekiranya pas dengan tubuhnya.
Wushhhhh
Zio yang sedang memasak langsung merinding saat merasakan hawa dingin yang membuat bulu kuduknya merinding.
“Disini tidak ada hantunya bukan..? Kenapa tiba-tiba aku sampai merinding seperti ini?” Ucap Zio yang mengelus leher belakangnya.
“ZIO…!”
“Astaga…” Zio yang mendengar teriakan membawahana dari wanta yang baru tadi di nikahinya tadi pagi langsung tersentak.
Entah apalagi yang di lakukan oleh istri tercintanya itu hingga harus memanggilnya dengan suara yang sangat besar seperti itu membuat Zio kaget saja.
“Zio….!” Panggilan itu kembali terdengar dengan Silvana yang muncul tiba-tiba di dapur yang lagi-lagi membuat Zio kaget.
“Ada apa sih sayang..? Kok kayak orang kamu seperti itu?” Tanya Zio yang mematikan kompor berjalan menghampiri Silvana.
“Siapa yang membeli baju seperti ini? Apa kamu sudah niskin sehingga kamu membelikan aku pakaian yang belum selesai jahit dan kurang bahan. Lihat…! Ini bahkan seperti jaring-jaring laba-laba, apa yang perlu di sembunyikan dari baju itu?” Gerutu Silvana yang meletakan beberapa lembar pakain yang kekurangan bahan di atas meja dapur itu.
Zio yang tidak mengerti apa yang di katakan oleh sang istri hanya mengikuti apa yang di tunjuk Silvana. Namun, sedetik kemudian zio membelalakan mata saat melihat seperti apa benda yang di tunjukkan oleh Silvana.
“Sayang aku…..”
__ADS_1
“Aku apa? Kamu benar-benar menyebalkan…!” Kata Silvana yang berbalik pergi begitu saja.
“Sayang dengarkan aku dulu, sayang…..! Silvana…” Zio memanggil-manggil nama istrinya namun sepertinya Silvana benar-benar kesal karna perkara baju itu.
“Ini apa sih?” Guman Zio yang mendekat pada kain yang di letakkan oleh Silvana tadi.
Zio mendekat dan mengambil satu persatu pakaian itu hingga matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Arga….! Sialan, dia benar-benar membuatku dalam masalah besar." Geram Zio yang langsung berlari naik ke lantai atas.
Klik
Klik
Terlambat sudah pintu kamar telah di kunci dari dalam oleh Silvana membuat Zio hanya bisa membuang napas kasar dan tak lupa menggaruk kepalanya. Zio benar-benar tidak menduga jika malam pertamanya dia akan tidur di luar.
“Sayang….!” Zio mencoba mengetok ngetok pintu namun percuma orang tang berada di dalamnya tidak membuka pintu sama sekali.
“Semua ini karna Arga, kenapa dia harus membeli pakaian yang kekurangan bahan seperti itu? Sekarang aku yang kena batunya kan?” Gerutu Zio yang menyalahkan Arga asistennya karna membeli baju yang belum selesai di jahit hingga dirinyanyang harus kena batunya.
Sampai disana Zio langsung masuk mencari ponselnya. Setelah menemukan ponselnya Zio langsung mengotak atik benda persegi itu.
“Hallo bos….” Suara di sebrang sana terdengar di telinga Zio.
“Apa yang kamu beli itu Arga…?” Teriak Zio dengan kekesalan berada di ubun-ubun.
"Beli apa Tuan…?" Tanya Arga di sebrang sana dengan nada bingung.
"Masih bertanya apa yang kamu beli…? Apa yang kamu belikan untuk istriku ha…? Kenapa kamu membeli pakaian tidak selesai jahit seperti itu?" Tanya Zio berurutan.
Arga yang berada di sebrang sana langsung mengerutkan dahi, merasa dirinya tidak membeli pakaian di tukan jahit dan juga tidak selesai di jahit itu tidak mungkin. Arga jelas-jelas membeli pakaian untuk sang Nyonya di mall terbesar dan dengan harga puluhan juta.
__ADS_1
“Saya tidak membeli pakaian itu Bos, bagaimana bisa saya membeli dengan pakaian yang tidak selesai jahit bahkan dengan harga puluhan juta.” Ucap Arga di sebrang sana.
“Apanya yang puluhan juta? Pakaian yang kamu beli memang tidak layak untuk di pake.” Sentak Zio yang sudah sangat emosi.
“Eh… Itu saya beli di mall Bos dan pelayan yang memilihkannya katanya itu sangat cocok dan bagus untuk Nyonya Silvana.”
“APA….?” Teriak Zio. “Apa yang kamu katakan pada pelayan itu hingga mengambil pakaian seperti itu?” Tanya Zio dengan mencoba menahan kekesalannya.
“Saya mengatakan pakaian wanita yang baru saja selesai menikah.”
“Dam’it”
Rasa rasanya Zio ingin mengamuk sekarang juga mendengar jawaban Arga yang benar-benar membuat darahnya mendidih karena kesal. Jika dia tahu akan seperti ini endingnya Zio akan lebih memilih dirinya yang berbelanja atau mengambil pakaian Silvana di apartemen.
“Sialan, kamu benar-benar ingin aku bunuh. Bulan ini gaji kamu di potong.” Ucap Zio yang langsung mematikan sambungan telfonnya begitu saja.
“Bos….Bos…! Sial, malah di matikan. Emang salahku apa? Itu kan aku hanya mengikuti saran pelayannya, mana aku tahu kalu bajunya belum selesai jahit. Tapi belum selesai jahit saja mahal gimana kalau sudah selesai jahit?” Guman Arga dalam mode polos.
Sedangkan di tempat lain Zio duduk termenung memikirkan nasibnya yang malam pertama justru tidur di luar tanpa istrinya. Zio melirik jam di dinding yang yang menunjukkan pukul 11:00 malam. Melihat itu Zio hanya bisa membuang nafas kasar.
Sudah hampir 2 jam Zio terduduk di sofa dalam ruang kerja miliknya itu tanpa melakukan apapun. Setelah mengantar makan malam di kamar istrinya dia langsung di usir hingga berakhir disini.
“Dam’it ini semua gara-gara Arga, tapi mana bisa aku tertidur seperti ini? Tidak bisa aku harus masuk kesana.” Guman Zio yang langsung berdiri menghampiri meja kerjanya menarik laci meja dan mengambil sebuah kunci.
Kunci yang berada di tangan Zio adalah kunci cadangan kamar mereka. Zio tersenyum tipis dengan langkah ringan Zio keluar dari ruang kerja miliknya menuju kamar utama mereka.
Ceklek
Zio membuka pintu kamar dengan pelan, masuk ke dalam dengan cara mengendap-endap seperti maling. Zio dengan pelan naik di atas ranjang menatap penuh cinta wajah damai sang istri tercinta yang tengah tertidur lelap.
Tangan kekar Zio terulur menyelinap di bawa leher Silvana sehingga Silvana berbantalkan lengan Zio. Tangan Zio yang satunya merapikan dan menyelipkan helaian rambut Silvana di belakang telinga agar wajahnya terlihat sempurna.
__ADS_1
“Kalau marah, besok saja yah sayang. Aku tidak bisa tidur bila tidak dengan kamu. Tak apa malam pertama kita tidak melakukan apapun. Terpenting aku bisa memelukmu itu sudah cukup.” Bisik Zio dalam hati.
“Walau di bawa sana sudah meronta-ronta untuk masuk sarang.” Lanjut Zio dalam hati menutup matanya.