
"Ish ini mata kenapa nggak mau ketutup sih"
"Oh tuhan hilangkan dia dari pikiranku"
"Kenapa rasanya mendebarkan seperti ini"
"AAAAA Zio kau membuat tidak bisa tidur sialan"
Silvana terus bergerak gelisah, berguling-guling di atas ranjangnya hingga kini ranjangnya itu sudah tak terbentuk lagi bagaimana keadaan seprei dan selimut serta bantal yang tahambur.
Bugh
"Awwww" desis Silvana memegang pinggangnya yang baru saja tercium lantai.
"Ranjang sialan" umpat Silvana menendang ranjangnya.
"Enak benar tuh orang sudah buat baper dia hilang gitu aja. katanya kekasih masa dia nggak ucapin selamat malam gitu" gerutu Silvana menatap kesal ponselnya berharap Zio mengirimkan dia pesan namun hasilnya nihil.
Dengan perasaan dongkol Silvana lalu naik kembali di atas ranjang lalu memaksa matanya untuk tertutup hingga lama kelamaan terdengar dengkuran halus Silvana jika ia telah tidur pulas.
Sedangkan di tempat lain Zio mengalami hal serupa yaitu tidak bisa tidur apalagi mengingat apa yang mereka lakukan tadi di apartemen Silvana.
"Astaga Jhon kenapa kau harus bangun di saat seperti ini. aku hanya memikirkannya tapi kau sudah berdiri tegak layaknya menara Eiffel" kata Zio frutasi melihat ke bawah sana dimana pusat dirinya telah berdiri kokoh.
"Selama ini kau tidak pernah bangun tapi sekarang aku hanya membayangkan wajah ya kau langsung bangun begitu inginkah kau memasuki sarangmu?"
Zio dengan kepala frutasi berdiri lalu berjalan ke kamar mandi. dia tidak punya pilihan selain menuntaskan sendiri.
Beberapa menit kemudia terdengar suara ******* panjang Zio dengan menyebut nama Silvana.
"Ah baby kau sungguh memabukan Silvana" desah Zio yang sudah menyelesaikan hasrat tertahannya walau hanya dengan menggunakan sabun dan tangannya alias bersolo karir.
Zio berjalan keluar hanya dengan menggunakan handuk lalu naik kembali ke ranjangnya untuk tidur sebelum itu ia menatap tajam benda tak bertulang miliknya itu.
"Awas saja jika kau bangun lagi aku akan benar-benar menyuntikmu hingga kau tak bangun lagi" monolog Zio.
"Tapi jika dia tidak bangun bagaimana aku membuat bayi-bayi kecil nanti" pikir Zio
"Sudahlah mending tidur" monolog lagi Zio lalu menarik selimutnya.
Pagi hari begitu datang dengan sinarnya masuk di kamar seorang gadis yang masih asyik tidur pulas bahkan tak terganggu sama sekali dengan sinar matahari yang mulai panas.
"Hoooam" Silvana menguap dengan lebar lalu bangun duduk bersandar pada ranjang merentangkan kedua tangannya hingga terdengar seperti bunyi tulang retak baru berhenti.
__ADS_1
"Ini kok rada panas gini sinarnya" Guman Silvana lalu menoleh ke samping untuk melihat jam kedua mata Silvana membulat melihat angka 8 di jam itu.
"AKU TELAT" teriak Silvana bangun lalu berlari ke kamar mandi.
10 menit kemudian Silvana keluar dari kamar mandi lalu langsung mengambil pakaian acak dan memakainya. Silvana dengan cepat menyambar lipbant lalu mengolesnya di bibir tipisnya lalu dengan langkah seribu segera menyambar tas dan berlari keluar.
Sampai di lobby Silvana langsung menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.
"Ke perusahaan Dewantara Pak" kata Silvana buru-buru.
"Baik Non" kata Supir taksi itu.
30 menit kemudian taksi sampai ke perusahaan pencakar langit Dewantara Company.
"Ini Pak" Silvana langsung membayar taksi lalu keluar dan berlari masuk ke perusahaan.
Sampai di perusahaan orang-orang pada menatapnya intens namun Silvana hanya acuh yang ada di pikirannya sekarang ini adalah cepat sampai di ruangan miliknya.
Silvana langsung berlari menuju ruangan miliknya lebih tepatnya ruangan Zio.
BRAK
Silvana langsung membuka pintu dengan kasar dan napas yang terengah-engah karna berlari.
Ma…maaTu...antu saya ter…terlambat" kata Silvana terputus-putus karna masih mengatur napasnya.
"Kamu tahu kesalahan mu?" ucap Zio datar padahal dalam hati Ia sedang menahan tawa sebesar-besarnya.
Bagaimana tidak mau tertawa penampilan Silvana kali ini benar-benar membuatnya geleng-geleng kepala.
"Saya tahu Pak saya terlambat" kata Silvana menundukkan kepala.
"Gadis ini" batin Zio terkekeh lalu berdiri dan berjalan ke arah Silvana.
"Bukan itu baby" bisik Zio di depan Silvana.
Mendengar itu Silvana langsung mengerutkan dahi menatap bingun Zio.
"Lihatlah kakimu" kata Zio menahan senyum.
Silvana dengan patuh menurunkan pandangannya ke arah kaki, mata Silvana langsung terbelalak melihat kakinya yang hanya menggunakan alas kaki bulu-bulu dengan kepala kucing di depannya sehingga terlihat imut. Silvana langsung menelan ludah melihat sendalnya.
"Selain itu" jeda Zio mengambil tangan Silvana lalu membawanya ke kepala Silvana.
__ADS_1
"Rambut kamu belum di keringin bahkan masih ada dengan handuknya" bisik Zio. Kedua mata Silvana langsung membulat sempurna mukanya memerah menahan malu.
"Pantas tadi di bawah aku di pandang seintens itu ternyata seperti ini" jerit Silvana dalam hati.
Jika bisa ia ingin menghilang saja saat ini bersembunyi di lubang tikus mungkin tidak akan ada yang menemukannya.
"Lucu" batin Zio yang terus memperhatikan wajah Silvana.
Tiba-tiba Silvana mengangkat kepalanya lalu menatap tajam Zio yang hanya tersenyum tipis.
"Ini semua karna Bos gila ini. jika kemarin dia tidak membuatku deg degkan aku tidak akan mungkin bangun siang"
"Aku tau aku tampan baby tapi tidak usah menatap ku seperti itu" kata Zio narsis membuat Silvana makin meradang.
"Ini itu semua karna Tuan. coba saja kemarin Tuan tidak membuatku ba…." Silvana langsung menghentikan kalimatnya saat menyadari apa yang akan dia katakan.
"Membuat mu apa baby" bisik Zio mengikis jarak antara dirinya dan Silvana hingga semakin dekat.
"Karna Tuan membuatku menahan kantuk untuk memasarkan Tuan" kata Silvana ketus menahan gugup karna Zio begitu dekat dengannya.
Zio langsung mengernyitkan alis mendengar pengakuan Silvana. bukankah Silvana sendiri yang berinisiatif untuk masak sedangkan dia sudah menawarkan untuk memesan saja pikir Zio.
"Bukankah kamu yang mau aku kan sudah…." Kalimat Zio langsung terhenti karna di potong Silvana.
"Tetap ini semua salah Tuan" kata Silvana kesal lalu berjalan melewati Zio begitu saja jangan lupakan bibirnya yang komat Kamit membuat Zio hanya bisa tersenyum tipis.
Sret
Cup
Zio menarik tubuh Silvana hingga mendekat ke arahnya lalu mengecup singkat sudut bibir Silvana.
"Morning kiss baby" kata Zio sambil melemparkan senyum manis ke arah Silvana membuat Silvana terpana akan ketampanan Zio yang semakin meningkat berkali-kali lipat jika di lihat dari dekat dan senyuman itu membuat Zio semakin mempesona.
"Cepatlah mencintaiku agar aku bisa meresmikan hubungan kita" kata Zio membelai lembut pipi Silvana yang kini mulai memerah karna malu dan Zio suka akan warna alami di pipi Silvana yang terlihat begitu cantik.
"Kapan kamu akan mencintaiku" tanya Zio lagi yang tidak melepaskan Silvana dari dekapannya.
"Aku tidak tau" jawab Silvana pelan.
"Tapi aku akan berusaha mencintai kamu" lanjut Silvana menatap dalam bola mata Zio.
"Aku menantikan hal itu" ungkap Kenzo lalu menarik tengkuk Silvana lalu mencium dan m*****t bibir Silvana bergantian atas bawah.
__ADS_1