Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 72


__ADS_3

"Pantas Nona Angelina begitu egois dan tak tahu malu," ucap Silvana gamblang yang memancing amarah Tuan Rio.


"Apa maksud ucapanmu itu?" Tuan Rio menatap tajam Silvana yang hanya tersenyum sinis.


"Pasti sifatnya itu turun dari anda bukan? Harusnya anda sebagai kakeknya mendidik cucu anda ini dengan baik dan benar. Agar masalah seperti ini tidak terjadi bagaimana bisa anda sebagai orang yang membesarkannya sekaligus sebagai orang tua membiarkan cucu anda merebut kebahagiaan orang lain? Apa Tuan waras?" Sarkasme Silvana yang menatap sinis ke arah Tuan Rio.


"Kau…,"


"Saya memang yatim piatu tapi saya masih memiliki hati nurani untuk berpikir jernih dan tidak merebut kebahagiaan orang lain. Tidak seperti cucu kesayangan anda ini yang jelas-jelas tidak memiliki harga diri.,"


"CUKUP…!" Bentak Tuan Rio yang sudah tidak tahan mendengar hinaan Silvana kepada sang cucu.


Tuan Rio menatap tajam Silvana dari ujung kaki sampai ujung rambut menilai wanita di depannya itu. Dapat diakui Tuan Rio sendiri wanita di depannya itu cukup cantik dan memiliki karakter yang kuat. Akan tetapi karena dibutakan kasih sayangnya terhadap cucunya Angelina mata hati Tuan Rio telah tertutup untuk melihat apa yang benar dan apa yang salah yang telah dilakukan oleh cucunya Angelina.


"Katakan apa yang harus kami berikan hingga kamu mau meninggalkan Zionard," ucap Tuan Rio yang ingin melakukan negosiasi dengan Silvana agar wanita itu bisa pergi sendiri meninggalkan Zio.


"Tidak ada." Jawab Silvana dengan tegas dan yakin tanpa ada keraguan sedikitpun yang terlintas di dalam pikiran maupun hatinya.


Mendengar itu Tuan Rio langsung menggertakan giginya menahan amarah dan juga kekesalan karena Silvana sangatlah susah untuk di ajak bicara baik-baik.


Tak


Tuan Rio meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja di depan Silvana. Sedangkan Silvana yang melihat amplop itu hanya mendaftarkan wajahnya. Tanpa diberitahu pun Silvana tahu jika isi di dalam amplop itu pastilah berupa uang.


"Apa hanya cara seperti ini yang dilakukan oleh orang kaya seperti kalian untuk mewujudkan apa yang kalian inginkan? Sungguh sangat miris dan sangat menyedihkan. Bahkan hanya untuk sebuah kebahagiaan kalian harus membelinya dengan uang,"


"Kenapa apa kurang? Jika kurang,ini cek isi sendiri berapapun yang kamu mau akan saya berikan asalkan kamu pergi meninggalkan Zionard." Kata Tuan Rio lagi.


Silvana yang melihat chat di depannya hanya tersenyum sinis. Tangannya terulur mengambil cek itu. Tuan Rio dan Angelina yang melihat jika Silvana mengambil Cek itu langsung tersenyum senang dan penuh kemenangan. Namun tiba-tiba senyum keduanya langsung memudar dengan mata yang terbelalak.

__ADS_1


Srek


Silvana tanpa keraguan sedikitpun langsung merobek-robek kertas cek itu hingga menjadi serpihan kecil. Silvana berdiri menatap dalam Angelina dan juga Tuan Rio yang masih duduk terpaku dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Silvana.


"Dengar Tuan Rio dan Nona Angelina, jika kalian beranggapan uang bisa membeli segalanya maka kalian. Kalian mungkin memiliki segalanya yang berupa harta benda namun kalian sangatlah miskin akan cinta dan kasih sayang. Walaupun kalian menyerahkan seluruh harta benda warisan yang kalian punya kepadaku itu tidak seberapa dengan kebahagiaan dan cintaku. Jadi, jangan pernah mencari lagi jika niat kalian hanya untuk memisahkan aku dengan suami." Ucap Silvana dengan nada tegas.


Setelah berkata seperti itu Silvana langsung mengambil tasnya lalu berbalik pergi meninggalkan Angelina yang hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Kek ini gimana?" Rengek Angelina yang menarik-narik tangan sang Kakek.


"Kita pulang." Tuan Rio yang langsung beranjak berdiri berjalan keluar dari kafe itu.


Angelina yang melihat Tuan Rio keluar dari kafe tak mempunyai pilihan lain selain mengikuti pria tua itu. Dengan langkah malas Angelina melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Tuan Rio menuju mobil yang mereka tumpangi.


Sedangkan di tempat lain Silvana sudah berada di dalam taksi menuju kembali ke perusahaan Zio. Sampai disana Silvana langsung turun dari taksi berjalan masuk ke dalam perusahaan.


Ceklek


Silvana terkejut menyadari jika ada Zio di dalam ruangan itu. Sejak kapan pria itu berada di dalam ruangannya pikir Silvana dengan dahi yang mengkerut.


“Sejak kapan kamu ada disini?” Silvana bertanya dengan nada dingin.


Sebenarnya Silvana tidak marah kepada Zio hanya saja pria itu muncul di saat yang tidak tepat membuat Silvana kesal di buatnya.


“Sayang aku minta maaf soal kemarin, jangan marah lagi.” Bujuk Zio yang langsung memeluk lengan Silvana seperti anak kecil.


“Aku sudah tidak marah lagi,” kata Silvana yang melepaskan rangkulan tangan Zio dari lengannya.


“Tapi kenapa mukanya seperti itu?”

__ADS_1


“Aku habis bertemu dengan selingkuhan kamu.” Kesal Silvana yang menatap sinis Zio.


“Selingkuhan?” beo Zio yang tidak mengerti apa yang di katakan oleh Silvana.


Namun mata pria itu langsung membulat saat menyadari siapa yang di beri julukan selingkuhan oleh sang istri.


“Silvana aku tidak pernah selingkuh dengan si ulat keket itu. Aku berani bersumpah akan itu,” kata Zio dengan sungguh-sungguh


“Cih,” Silvana hanya berdecih membuang muka ke arah lain.


“Ulat keket itu benar-benar mencari perkara saja. Entah apa lagi yang di katakan pada istriku sehingga Silvana bisa sekesal saat ini.”


Zio hanya bisa mengumpat dalam hati karena kemunculan Angelina benar-benar petaka untuk rumah tangga mereka.


“Sayang apa yang di katakan oleh wanita sundal itu padamu? Katakan padaku biar aku yang merobek-robek mulut tajamnya itu.”


“Keluarlah aku ingin sendiri!” Usir Silvana penuh penekanan setiap katanya.


Zio yang mendapat penolakan dari sang istri merasa kecewa dan sakit secara bersamaan. Walaupun begitu Zio tetap menuruti keinginan istrinya untuk keluar dari ruangan Silvana.


Hahhhhh


Selepas kepergian Zio dari ruangannya Silvana langsung melepaskan napas besar. Entah kenapa dirinya merasa kesal setiap mengingat apa yang di katakan Angelina tentang dirinya yang sebagai benalu dan juga selingan untuk Zio.


Ceklek


“Sudah aku katakan keluar dari ruanganku!” sentak Silvana yang membalikkan badannya ke arah pintu.


“Kau…,”

__ADS_1


__ADS_2