
"Tapi aku akan berusaha mencintai kamu" lanjut Silvana menatap dalam bola mata Zio.
"Aku menantikan hal itu" ungkap Kenzo lalu menarik tengkuk Silvana lalu mencium dan m*****t bibir Silvana bergantian atas bawah.
Beberapa menit kemudian Zio melepaskan bibir Silvana menatap wajah yang begitu mempesona hingga mampu menariknya pada pertemuan pertama mereka.
Hap
AAAAA
Hanya dalam satu tarikan kini tubuh ramping Silvana berada dalam gendongan lengan kekar Zio.
"Apa yang kamu lakukan turunkan aku" kata Silvana sambil memberontak menggoyangkan kakinya tapi tak berarti apa-apa.
Ceklek
Kedua mata Silvana langsung terbuka lebar karna untuk kedua kalinya dirinya masuk di ruangan ini.
"Untuk apa kau membawaku kesini" tanya Silvana dengan mata memicing penuh curiga.
Sedangkan Zio hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Silvana, Zio dengan lembut membaringkan Silvana di atas ranjang King size lalu berjalan ke arah sebuah nakas mengambil sesuatu.
"Ayo bangun. aku bantu keringin rambut kamu" ucap Zio lembut membuat Silvana hanya bisa menganga lebar.
"Kamu keringin rambut aku" tanya Silvana.
"Ya. apa salahnya keringin rambut kekasih sendiri" jawab Zio lalu memutar tubuh Silvana hingga membelakanginya.
Zio dengan lembut mengambil helaian rambut Silvana lalu mengeringkannya dengan hair dryer di tangannya. sedangkan Silvana hanya menikmati apa yang di lakukan oleh Zio.
Setelah lima menit akhirnya rambut Silvana kering. lagi lagi Zio dengan telaten menyisir helaian rambut Silvana hingga rapi.
"Tunggu disini" kata Zio kepada Silvana lalu keluar meninggalkan Silvana yang masih linglung.
"Kenapa dia perhatian sekali" guman Silvana gigit jari.
Beberapa menit kemudian Zio kembali dengan membawa sebuah Paber bag di tangannya. Zio dengan senyum tipis menghampiri Silvana lu duduk di bawah Silvana (Persis seperti posisi jongkok).
"Pakailah" kata Zio setelah membuka Paber bag dan mengeluarkan sebuah sendal dari Paber bag itu.
"Untukku?" tanya Silvana menatap binar sepatu di depannya dengan penuh kagum dan minat.
"Hm" Zio hanya berdehem sebagai tanda mengiyakan.
Silvana dengan semangat memakai sepatu itu lalu berdiri menatap sepatu itu yang sangat pas dengan ukuran kakinya.
"Tapi…… bagaimana bisa kamu tau ukuran kakiku?" tanya Silvana menatap bingun ke arah Zio yang hanya di balas senyuman tipis olehnya.
__ADS_1
"Aku mengetahui semua tentangmu baby termasuk ukuran……" Zio menjeda kalimatnya.
"Dasar mesum" pekik Silvana yang langsung memeluk tubuhnya sendiri saat melihat Zio menatapnya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut dan berhenti di dadanya.
"Semua aku tahu hanya satu yang aku tidak tahu yaitu ukuran dadamu" kata Zio santai.
"Dasar mesum, pria cabul, mati kau" amuk Silvana langsung mengambil bantal lalu memukuli Zio namun pria itu hanya terkekeh.
Bugh
Bugh
Bugh
"Hentikan baby" pinta Zio menghalangi wajahnya dari amukan Silvana yang kini fokus menyerang wajahnya.
"Hentikan baby. jangan terus memukulku kalau wajah tampanku ini jelek siapa yang akan menjadi kekasihmu"
"Diam. dasar pria cabul rasakan ini"
Bugh bugh Bugh
Silvana malah tambah mengamuk memukuli wajah Zio.
"Stop baby. Oke oke I'am sorry okey" mohon Zio yang kini merasakan kepalanya Pusing karna sering di kenal pukulan Silvana.
Sret bruk
Entah bagaimana Silvana berjalan hingga mengakibatnya dirinya jatuh tapi di tarik oleh Zio hanya saja karna tak bisa menjaga keseimbangan membuat tubuh keduanya oleng lalu jatuh di atas ranjang dengan Silvana yang berada di bawah tubuh Zio.
Set
Tatapan mata keduanya bertemu membuat mereka seakan hanyut dalam pesona mata indah itu. Zio mendekatkan wajahnya ke wajah Silvana yang hanya diam mematung menatapnya.
Cup
Zio hanya menempelkan bibirnya di atas bibir Silvana namun saat akan menarik diri. Zio melihat Silvana yang menutup mata seakan pasrah membuat keinginan Zio untuk mencium Silvana langsung menyeruak keluar tanpa menunggu lama Zio langsung menyergap meraup bibir pink alami itu dengan rakus.
Pah Pah
Silvana yang merasakan butuh pasokan oksigen langsung memukul dada Zio tanda napasnya sudah menipis dan Zio paham dengan itu hingga ia langsung melepaskan bibir Silvana tapi sebagai gantinya Zio menempelkan kedua kening mereka.
"Cepatlag mencintai aku, aku tak sabar untuk menjadikan kamu sebagai kekasihku yang sebenarnya tanpa masa percobaan ini. aku ingin memiliki kamu seutuhnya baby" kata Zio dengan napas yang memburu menatap penuh cinta Silvana.
Sedangkan Silvana hanya bisa mematung mendengar penuturan Zio yang terlihat sungguh-sungguh. tiba-tiba jantung Silvana berdebar cepat.
"Ada apa? Kenapa jantungku seperti ini? apa aku sudah jatuh cinta padanya? tapi apa secepat ini?" Kata Silvana dalam hati.
__ADS_1
"Baby kamu cantik" ungkap Zio yang membuat muka Silvana langsung memerah karna malu.
"Minggir aku mau kerja" Silvana dengan kesal mendorong kasar tubuh Zio lalu berdiri dan merapikan pakaiannya lalu berjalan keluar tapi terhenti karena tangannya di cekal oleh Zio.
"Nanti makan siang kita akan makan bersama" kata Zio.
"Dimana" tanya Silvana.
"Terserah kamu yang tentukan dan aku akan mengikuti apapun mau kamu" ungkap Zio.
"Baiklah jika begitu saya undur diri Tuan"
Silvana langsung berjalan cepat keluar dari ruangan pribadi milik Zio dengan wajah yang sudah memerah sedangkan Zio lagi lagi dia hanya bisa terkekeh.
Zio berjalan keluar lalu duduk di kursi kebesarannya namun matanya tak lepas dari Silvana.
Waktu terus berputar dengan begitu cepat tanpa menyadari jika sudah waktunya makan siang. Zio sedari tadi menunggu Silvana keluar dan menghampirinya tapi sampai saat ini gadis itu masih tetap fokus tanpa menyadari jika waktu makan siang sudah tiba.
Melihat Silvana yang fokus pada berkas-berkas itu membuat Zio berdengus kesal. dengan langkah lebar Zio berjalan cepat ke ruang Silvana tanpa mengetoknya dia langsung masuk dan menatap tajam Silvana yang bahkan tidak memperdulikan keberadaan dirinya.
"Silvana" tekan Zio dengan suara berat nan mendominasi membuat Silvana kaget.
"Eh Tuan, ada apa ya?" Silvana bertanya dengan linglung.
"apa kamu lupa yang saya bilang tadi pagi?" tanya Zio datar.
"Masalah apa ya Tuan?"
"Jadi kamu benar-benar melupakannya atau sengaja menghindar" tanya Zio lagi yang langsung mengukung Silvana di kursi membuat Silvana tidak bisa bergerak kemanapun.
Sedangkan Silvana langsung menelan ludah karna tatapan Zio benar-benar membuatnya takut. Silvana ingat betul apa yang di katakan Zio tadi pagi oleh karena itu ia sengaja berdiam diri dengan mengerjakan berkas-berkas di depannya bahkan Silvana juga tahu saat Zio masuk ke ruangan miliknya namun Silvana langsung tersentak kaget saat mendengar suara mengerikan Zio.
"A…..aku benar-benar lum..lupa" jawab Silvana gugup setengah mati.
"Begitu?. Baiklah biar aku ingatkan," kata Zio lalu mendekatkan wajahnya "Kita akan makan siang di luar" bisik Zio di telinga Silvana bahkan sengaja meniup kuping Silvana yang membuat sang empunya meremang di tempat.
"Berdirilah atau aku akan menggendong mu layaknya koala" ancam Zio mengedipkan sebelah matanya ke arah Silvana.
"Tapi aku tidak mungkin keluar dengan sendal berbulu ini Zio. bisa di tertawaan aku" teriak Silvana kesal yang malah membuat Zio tertawa keras.
HAHAHAHA
"Berhenti tertawa Zionard" teriak Silvana tambah kesal Karna di tertawakan oleh Kenzo.
"Okey, aku diam" kata Zio berusaha meredakan tawanya lalu kembali berjalan mendekati Silvana.
Hap
__ADS_1