
"Itulah balasan orang yang berani mengusik ku!" Ucap Zio yang menyeringai licik.
Zio tersenyum licik setelah mengirimkan pesan penuh ultimatum kepada Doni. Zio yakin pasti pria itu disana sedang mengamuk karna perusahaan miliknya hampir bangkrut.
Zio tidak peduli jika di katakan pengecut karna menyerang saingan cintanya dengan menyerang perusahaan miliknya. Bagi Zio siapa saja yang berani mengusik miliknya maka akan Zio hancurkan sehancur-hancurnya.
Ceklek
"Tuan….!"
Zio yang mendengar suara yang sangat di kenali ya langsung menoleh ke arah asal suara. Tatapan tajamnya langsung berganti dengan tatapan hangat penuh kasih menatap ke arah wanita di depannya yang tak lain adalah Silvana. Wanita yang amat Zio cintai, wanita yang mampu membuat Zio tertarik begitu besar padanya ibaratkan magnet yang menarik besi begitu pula Zio yang telah tertarik pada Silvana dari awal pertemuan.
Dengan langkah ringan Zio melangkah mendekati sang kekasih. Sampai di depan Silvana sudah biasa bagi Zio yang akan langsung memeluk wanita itu.
"Kita di kantor Tuan…" Ujar Silvana datar yang mendorong Zio.
Zio yang di dorong Silvana hanya mendengus kesal. Inilah yang tidak di sukai oleh Zio kekasihnya itu selaku bersikap asing dan datar bila di kantor.
"Tapi kamu kekasihku sayang…." Protes Zio yang tidak peduli penolakan Silvana kembali memeluk sang kekasih.
"Zio aku datang membawa berkas yang harus kamu tanda tangani sekarang juga karna sebentar lagi kita akan meeting dengan kolega bisnis kamu yang berada di Inggris." Terang Silvana yang dengan kesal menarik rambut Zio hingga Zio langsung meringis melepaskan pelukannya dari tubuh Silvana.
"Kok di tarik sih… aku tuh masih kangen sayang…" ujar Zio yang kembali mengambil ancang-ancang untuk memeluk Silvana.
Tak
__ADS_1
"Tanda tangani sekarang juga, jangan membuat ku marah hingga kamu akan tahu akibatnya." Silvana langsung melempar tatapan tajam ke arah Zio.
Deg
Zio yang mendengar ancaman Silvana langsung membulatkan mata sebelum berjalan ke arah kursi kerjanya. Kenzo baru ingat jika saat ini wanitanya itu sedang datang bulan, akan sangat berbahaya bila membuatnya kesal atau marah. Bisa-bisa dirinya yang akan di jadikan bulan-bulanan oleh sang kekasih.
Dengan raut wajah datar Zio mengambil satu persatu berkas yang di berikan Silvana. Tanpa membacanya Zio langsung membubuhinya dengan tanda tangan miliknya.
Kenapa tidak perlu membacanya karna Zio yakin dengan Silvana tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Ambillah…" Zio menyodorkan berkas yang sudah di tanda tangani-nya kepada Silvana.
Silvana langsung mengambil berkas di tangan Zio lalu berbalik pergi. Namun Baru beberapa langkah melangkah Silvana kembali membalik badannya ke arah Zio.
"Jangan lupa sebentar lagi kita berangkat…!" Pesan Silvana yang mengingatkan Zio untuk segera siap-siap karna akan segera berangkat.
"Dasar gila..!" Umpat Silvana yang mempercepat langkah kakinya keluar dari ruangan Zio.
Hahahaha
Zio yang tak tahan menahan tawar lagi langsung tertawa terbahak-bahak. Bagi Zio wajah marah Silvana begitu menggemaskan dan terlihat seksi di matanya secara bersamaan.
"Sssst kamu membuatku gila baby." Desis Zio yang menggigit bibirnya mengingat bagaimana menggemaskan wajah marah Silvana tadi.
"Sangat bodoh pria yang melepasmu hanya demi mengejar sebuah bongkahan batu kali. Hanya demi sebuah batu kali dia sampai melepaskan berlian berharga seperti mu dan tentunya Aku tidak akan sama seperti dia yang bodoh. Aku akan menjagamu dan melindungimu walaupun semesta memisahkan kita aku tidak akan menyerah untuk terus mengejar dan mendapatkan kamu dalam pelukan." Kata Zio dalam hati yang penuh tekad dan keyakinan yang kuat akan memiliki Silvana.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain Doni yang sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas yang ada di atas mejanya kembali di usik dengan bunyi ponsel yang terus berdering sedari tadi.
Doni yang merasa terganggu dengan bunyi ponsel itu langsung mengambilnya dengan kasar menekan ikon hijau meletakkannya di dekat telinganya.
"Ada apa lagi Mona….? Aku lagi sibuk mengurus kekacauan yang terjadi di perusahaan baru-baru ini." Bentak Doni yang sudah sangat kesal dengan wanita pemuas nafsunya itu.
"Iya iya….! Nanti aku mampir."
"Aku tidak bisa sekarang Mona…. Jangan memerintahkan seenakmu aku bukan babu mu sialan..!" Umpat Doni yang langsung mematikan sambungan telfonnya.
Doni benar-benar muak dan kesal pada wanita yang menjadi selingkuhannya selama ini. Wanita itu terus menelfonnya merayunya untuk datang menemuinya di apartemen miliknya.
Sampai saat ini satu kesimpulan yang Doni dapat simpulkan dari semuanya yaitu nafsunya menyalahkan semuanya. Bukan salah Mona yang berlaku murahan karna memang dia seperti itu tapi sebagai lelaki yang memiliki kekasih harusnya tidak sampai bermain api dengan wanita lain.
Sedangkan di tempat lain Mona mengamuk habis-habisan karna berulang kali Doni menolaknya. Padahal dulu-dulu Doni tidak pernah menolaknya bahkan jika bersama kekasihnya dulu Silvana Doni akan meninggalkan Silvana dan datang menemuinya.
Prang….
"Sial! Kenapa Doni sekarang mulai menjauh dariku sekarang…? Ini tidak bisa di biarkan. Aku sudah berhasil menyingkirkan Silvana ****** itu hanya selangkah lagi aku akan menjadi Nyonya Atmadja. Hanya perlu Doni menikahi ku maka aku akan langsung menjadi nyonya kaya." Guman Mona yang selalu bermimpi untuk menjadi nyonya kaya.
Mona duduk tenang memikirkan langkah apa yang harus di lakukannya nanti agar bisa menjerat Doni menjadi miliknya.
"Baiklah, jika dengan cara seperti ini tidak mempan yah tinggal aku jebak." Ucap Mona dengan senyum licik terbit di bibirnya.
Mona tidak peduli jika Doni mau membencinya atau tidak mencintainya. Bagi Mona itu tidak penting karna yang penting adalah menjadi Nyonya Atmadja.
__ADS_1
Soal cinta sekarang mudah, Mona yakin seiring berjalannya waktu Doni bisa mencintainya juga.