Belenggu Ceo Arogant

Belenggu Ceo Arogant
bab 68


__ADS_3

Karena percekcokkan tadi pagi Zio dan Silvana kini perang dingin. Keduanya tidak ada yang mau saling menyapa satu sama lain di tambah dengan mereka yang begitu keras kepala membuat tak ada yang mau mengalah.


Ini sudah masuk jam makan siang jika biasanya Zio akan menghampiri Silvana maka berbeda dengan siang ini. Zio sama sekali tidak menjemput Silvana jangankan menjemput memunculkan saja batang hidungnya di depan Silvana tidak.


Brak


“Kenapa dia belum kesini juga?” Zio menggebrak mejanya dengan keras karena Silvana tidak datang-datang ke ruangannya.


Zio terduduk dengan wajah lesu dan tanpa adanya binar semangat di matanya. Wajahnya sejak tadi dingin dan datar.


“ARGA..!”


Arga yang sedang berada di depan ruangan Zio langsung terperanjat kaget dengan teriakan sang Bos. Dengan langkah cepat ia menuju ruang Zio dengan wajah yang memucat.


“Ada apa Tuan?” tanya Arga dengan menatap Zio dengan penuh tanda tanya.


“Mana pelayan itu?”Zio bertanya dengan nada datar dan juga dingin menatap tajam Arga.


“Pelayan mana Tuan?”


“Apa kamu mulai pikun ha..? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mencari Pelayan?” sentak Zio dengan suara yang rendah namun penuh kekesalan.


Glek


Arga yang baru menyadari akan hal itu langsung menelan ludah dengan susah paya. Pria itu benar-benar lupa dengan pa yang di katakan oleh Tuannya itu.


“Aku tidak mau tahu, sebentar malam pelayan itu harus sudah berada di mansion yang aku tinggali bersama Silvana. Jika belum juga maka, kamu tanggung sendiri akibatnya.”


“Akan saya kerjakan Tuan,” Arga segera berbalik keluar dari ruangan Zio dengan wajah pucat.


“Arga bodoh, kenapa bisa kamu lupa jika bos mu yang galak dan kejam itu baru saja memerintahkan kamu mencari pelayan.” Arga merutuki kebodohannya sendiri yang karena lupa dengan tugas apa yag diberikan oleh sang Bos.


Namun, baru saja keluar Arga kembali membuka pintu dengan memunculkan hanya kepalanya saja.


“Tuan.” Panggil Arga kepada Zio.

__ADS_1


“Apalagi Arga? Apa kamu mau aku mengirim kamu ke kutub utara?” Zio menatap tajam orang kepercayaannya itu.


“Itu…, di luar ada Nona Angelina yang ingin bertemu dengan anda.” ucap Arga dengan lancar.


Zioo yang mendengar nama wanita itu langsung berwajah datar dan dingin. Kekesalannya semakin memuncak karena di waktu-waktu seperti ini bukannya Silvana yang menemuinya justru ia ditemui oleh ulat keket yang sangat dibencinya itu.


“Untuk Apa Lagi ulat keket Angelina sialan itu, datang ke perusahaan? Apa perlu aku membuat akinya sekalian biar mampus?” guman Zio yang menggertakkan giginya menahan amarah.


“Suruh masuk!” titah Zio dengan duduk santai di kursi kerjanya.


Ceklek


“Zio sayang aku datang…,”


Angelina masuk ke dalam ruangan Zio dengan senyuman terlebar di wajahnya. Biasanya Jika dia datang ke perusahaan ini dia akan langsung diusir sebelum memasuki ruangan Zio. Jika pun bisa masuk ke dalam ruangan itu maka Angelina harus melakukan penerobosan. Namun kali ini Zio sendiri yang mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan itu.


Angelina merasa besar kepala dengan menganggap jika Zio sudah mulai tertarik dengannya. Wanita itu masuk dengan langkah bahagia tanpa menyadari apa yang sedang menunggunya di dalam sana.


“Untuk apa kamu datang kemari ulat keket?” sarkas Zio yang langsung menatap tajam Angelina.


“Berapa kali aku katakan jika aku tidak tertarik dengan ulat keket sepertimu? Bahkan kamu tak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan istriku Silvana.”


“Zio kamu..,”


“Kamu cantik karena make up sehingga terlihat seperti nenek-nenek. Sedangkan istriku Silvana tetap cantik walaupun tanpa make up sekalipun. Kamu seksi tapi untuk semua orang sedangkan istriku hanya untukku seorang. Istriku mahal sedangkan kamu ya barang murah.”


Angelina yang mendengar kata-kata tajam dan kejam Zio hanya bisa menelan ludah. Kenapa pria di depannya itu selalu berkata kasar dan kejam terhadapnya. Angelina mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku tajamnya menancap di telapak tangannya. Semua pria yang melihatnya akan bertekuk lutut padanya tapi kenapa pria yang di sukainya justru menatapnya dengan hina.


Lebih parahnya lagi pria itu membandingka dirinya dengan wanita yang menurut Angelina hanya wanita biasa. Wanita dengan kasta rendah tapi Zio begitu memujanya. Apa sebenarnya kelebihan Silvana dibandingkan dengan dirinya pikir Angelina dengan tatapan tajam penuh kebencian memikirkan Silvana.


“CUKUP..!” Angelina berteriak keras dengan amarah yang meluap-luapkan emosinya.


“Kenapa kamu selalu memuji wanita sialan itu? Apa bagusnya dia? Dia hanyalah wanita miskin dengan kasta rendah bahkan tidak tahu asal usulnya. Lalu kenapa kamu begitu mencintainya?” lanjut Angelina yang menatap tajam Zio.


“Karena dia adalah Silvana yang akan terus menjadi dirinya sendiri.” Jawab Zio dengan enteng.

__ADS_1


Terdengar konyol tapi itulah yang menarik perhatiannya pada Silvana. Wanita yang melakukan apapun yang dia mau tanpa peduli apa kata orang.


“Jika aku menjadi sepertinya, apa kamu juga akan mencintaiku?”


“Tidak.”


“Kenapa? Kamu bilang kamu mencintainya karena dia seperti itu. Lalu bagaimana jika aku berubah sepertinya? Kenapa kamu juga belum bisa menjawab iya?”


“Karena kamu tetaplah kamu dan dia tetaplah dia. Angelina tetaplah Angelina dan Silvana tetaplah Silvana. Kamu tidak akan bisa menjadi seperti Silvana, walaupun kamu bisa. Kamu hanya akan menyerupai sepertinya bukan menjadi dirinya. Lebihnya lagi kamu hanya akan menjadi bayang-bayang miliknya.”


Deg


Angelina tertegun mendengar pengakuan Zio yang begitu menohok hatinya. Apa itu? Kenapa Zio justru memberinya sebuah teka teki yang semakin membuatnya sakit. Matanya memerah menahan amarah da juga kekecewaan sekaligus.


Dengan amarah yang meluap-luap Angelina berbalik berjalan menuju pintu ruangan Zio. Angelina keluar dari ruangan Zio dengan membanting pintu dengan keras sebagai pertanda jika wanita itu benar-benar marah.


“Apa yang kamu lakukan di ruangan Suamiku?” tanya Silvana datar.


Angelina yang mendengar suara orang yang dia benci langsung mendongak menatap lurus Silvana yang berdiri dengan melipat tangannya di dada.


“Bukan urusanmu,” jawab Angelina ketus yang menatap tajam Silvana.


“Semua menjadi urusanku saat orang yang kau usik adalah suamiku.”


“Dia bukan suamimu, dia bukan milikmu. Dia milikku yang kau rebut, aku calon istrinya yang sah dan kau muncul merebut semuanya.” Tekan Angelina yang dengan suara rendah.


“Aku bukan orang asing aku istrinya. Kamu yang wanita asing, kamu hanya pilihan tua bangka itu yang di lakukan hanya untuk kepentingan perusahaan sedangkan aku adalah pilihan Zio sendiri. Aku tak merebut siapa pun tapi harusnya kamu yang tidak muncul di dalam hidup kami.” Balas Silvana tak kalah tajamnya.


Kedua wanita beda profesi itu saling melempar tatapan tajam dan mematikan. Keduanya tak ada yang mau mengalah terus saling melempar serangan lewa tatapan.


“Dasar wanita sialan.” Teriak Angelina dengan amarah yang tak bisa di bendung lagi.


“Saa wanita sialan dan kamu wanita mur4h4n.” Balas Silvana dengan enteng.


“Kau…,” Angelina yang tak bisa membendung lagi amarahnya langsung mengangkat tangannya mengayunkan ke arah wajah Silvana untuk menampar wajah itu.

__ADS_1


Plak


__ADS_2