
Sejak kejadian makan malam itu tak ada lagi gangguan pada hubungan Zio dan Silvana. Sudah 1 Minggu berlalu tapi Tuan Handoko tidak pernah muncul lagi. Hanya Angelina yang terus berusaha mendekati membuat Silvana muak dan ingin menghajar wanita itu seperti sekarang ini. Pagi pagi di saat harusnya semangat dan penuh senyum menyambut pagi justru mood Silvana langsung rusak karena melihat ulat bulu yang sering mendekati suaminya ada di perusahaan.
"Zio…!" Angelina berlari ke arah Zio bersiap untuk memeluk pria pujaannya itu.
Bruuuk
Awwwwh
"Jangan menyentuh suamiku jika tidak ingin aku mematahkan tanganmu itu." Ancam Silvana.
"Zio lihat…"
"Apa perlu aku membotak kepalamu baru kamu akan tobat?" Sarkas Zio.
"Zio kamu jelas tahu jika aku adalah wanita pilihan kakekmu bukan dia!" Teriak Angelina yang menunjuk Silvana dengan pandangan penuh kebencian.
"Tapi dia wanita pilihanku. Tidak ada yang bisa menentang hal itu." Tegas Zio yang pergi meninggalkan Angelina yang masih di lantai.
Aaaaaaaaah
Angelina lagi lagi hanya bisa berteriak kesal dan juga menanggung malu.Dengan kasar Angelina berdiri berbalik berjalan keluar dari perusahaan Zio dengan membawa kekesalan di dalam hati.
"Kenapa Zio selalu membela wanita itu? Apa lebihnya wanita miskin itu dibandingkan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepas Zio untuk wanita manapun. Zio hanya milikku, yah milik Angelina." Batin Angelina.
Sedangkan di tempat lain Doni dengan serius mulai mengerjakan pekerjaannya. Setelah beberapa kali di bujuk oleh Tuan Riko akhirnya Doni mau kembali ke perusahaan. Hanya saja Tuan Riko tidak tahu jika dengan kembalinya ke perusahaan adalah salah satu rencananya untuk mendapatkan Silvana.
Tok
Tok
"Masuk." Sahut Doni yang masih tak mengangkat pandangannya dari berkas di depannya.
Ceklek
"Doni..,"
Deg
Doni tertegun mendengar suara wanita yang hampir 3 Minggu ini tidak ia dengar. Wanita yang pernah menjadi selingkuhan sekaligus juga pemuasnya.
"Mona.., ada apa?" Tanya Doni datar tanpa melihat ke arah Mona.
"Doni aku hamil." Ucap Mona dengan satu kali tarikan napas.
Tak
__ADS_1
Pensil yang di pegang oleh Doni langsung terlepas dari tangannya. Tatapannya langsung terangkat menatap datar wanita di depannya itu.
"Katakan sekali lagi, Mona!"
"A-aku hamil."
Deg
Doni langsung memegang dengan tatapan yang semakin datar dan dingin kepada Mona.
"Jangan bercanda, Mona!" Bentak Doni yang menatap nyalang kepada wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu.
"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya, aku benar-benar hamil dan sudah memasuki usia 3 minggu." Ujar Mona dengan sungguh-sungguh.
"Tidak mungkin," guman Doni yang menggelengkan kepala tak percaya. "Aku tidak percaya, bisa saja itu bukan benih milikku." Kata Dodi yang menolak untuk percaya.
"Tidak, ini benar-benar anakmu dan milikmu. Setelah pergi dari kota ini aku hidup di desa aku tidak lagi melakukan pekerjaan itu. Jadi, aku yakin jika anak yang aku kandung ini adalah milikmu."
"Tapi waktu itu kamu bilang akan menghilang dari hidupku, Mona!" Bentak Doni yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya.
"Ya benar, memang benar aku melakukan dan mengatakan itu. Tapi bayiku juga saya butuhkan sosok ayah kamu harus mempertanggungkan jawaban kamu dengan menikahi aku."
"Tidak, Aku tidak akan pernah menikahi kamu. Tidak akan pernah menikah baik itu dengan kamu ataupun dengan wanita lain. Satu-satunya wanita yang akan aku nikahi hanyalah Silvana wanita yang akan menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku."
"Tapi aku telah hamil dan kamu yang telah menghamili Doni."
"A-apa ma-maksud mu?" Mona bertanya dengan gagap.
"Apalagi? Gugurkan bayi sialan itu. Aku tidak akan pernah menerima anak dari wanita manapun selain anak dari rahim Silvana."
Mona yang mendengar perkataan kejam dari Doni hanya bisa membulatkan mata. Wanita itu tak pernah menduga jika respon yang akan diberikan oleh Doni seperti ini. Bahkan dengan kejamnya pria itu memintanya untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungannya walaupun dia tahu jika bayi itu miliknya.
"K…kau.., aku tidak akan menggugurkan bayi ini. Kamu harus menikahiku secepatnya."
"Jangan bercanda wanita sialan, mana mungkin aku menikahi wanita j4l4ng dan mur4h4n sepertimu? Wanita yang menjadi istri dan ibu anak-anakku haruslah wanita baik-baik dan terhormat. Bukan wanita dari rumah p3l4cur4n." Sarkas Doni dengan sinis.
"Kamu harus tetap menikahiku, jika tidak maka kabar kehamilanku ini akan aku bawa sampai ke telinga ayahmu, Tuan Riko." Ancam Mona yang tak mau mengalah.
Plak
Doni yang emosi karena Mona yang menolak perintahnya tanpa perasaan langsung melayangkan tamparan ke pipi wanita hamil itu. Walaupun sadar jika dirinya brengsek akan tetapi Doni juga ingin mempunyai istri yang memiliki sifat baik dan terhormat bukan wanita malam.
"Gugurkan bayi itu selalu pergi dari kota ini jika kamu masih ingin selamat." Gertak Doni yang mencengkram rahang Mona.
Mona yang terobsesi ingin menjadi Nyonya kaya tentu saja menolak. Di otaknya telah tersusun rencana yang sangat rapi untuk membuat Doni tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Lepas! Dengar Doni, selama ini aku diam menuruti semua keinginanmu tapi kali ini kamu yang harus mengikuti kemauanku. Kamu pikir aku bercanda dengan ucapanku? Lihat saja, kamu akan menanggung akibatnya karena berkata kasar seperti itu."
Mona berbalik berjalan cepat keluar dari ruangan Doni dengan sebuah senyum simpul penuh kelicikan. Jika dengan cara baik-baik ia tidak bisa menaklukkan Doni maka terpaksa ia harus melakukan rencana kedua.
Brak
Doni langsung mengamuk setelah kepergian Mona. Doni tak pernah menyangka jika hari ini akan datang masalah yang didatangkan dirinya sendiri. Rencananya akan semakin sulit jika sampai kehamilan Mona sampai bocor dan dia pasti akan semakin kesulitan untuk mendekati Silvana.
“Sial, kenapa bisa hamil padahal biasanya aku pakai pengaman.”
Doni memijit kepalanya sakit memikirkan masalah hari ini yang akan menjadi bumerang dirinya sendiri. Hingga matanya melebar saat mengingat jika malam itu dirinya tidak menggunakan apapun bahkan memuntahkannya di dalam Mona.
“Sial, kenapa aku bisa sampai teledor seperti ini?” Umpat Doni yang menyesali apa yang dilakukannya.
Di tempat lain Silvana sibuk mengerjakan pekerjaannya sehingga sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya membuat wanita itu mengerutkan alis melihat sebuah nomor asing yang tertera di sana.
Temui aku di cafe bintang jam makan siang. ada hal yang ingin aku katakan padamu.
Mona
Silvana yang membaca itu tentu saja bingun. Untuk apa wanita yang menjadi selingkuhan Doni itu meminta bertemu dengannya. Silvana hanya acuh kembali meletakan ponselnya dan melanjutkan pekerjaanya yang tertunda karena membaca pesan itu.
Hingga jam makan siang datang Silvana hanya mengirim pesan kepada Zio. Jika ia ingin keluar sebentar karena ada keperluan yang mendesak.
Ting
Silvana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru di dalam Cafe itu mencari sosok yang memintanya untuk datang menemuinya.
“Ada apa?” Tanya Silvana lang the to point.
“Aku hamil,” ungkap Mona dengan gamblang.
“Lalu?”
Melihat respon Silvana diam-diam Mona tersenyum licik. Mona memberi kode beberapa orang suruhannya jika saatnya mereka bekerja.
Bruk
Silvana yang tadinya acuh kini terlihat kaget dengan apa yang di lakukan oleh Mona.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Silvana.
“Kamu memintaku berlutut aka aku lakukan. Tapi aku mohon lepaskan pria itu untukku, aku sedang hamil anaknya. Aku mohon Silvana.” Ucap Mona dengn derai air mata.
Silvana yang mendengar itu tentu saja bingun dan heran. Kenapa wanita itu berlutut dan memohon-mohon seperti itu pikir Silvana.
__ADS_1
“Oh rupanya ingin menjebakku he?”