Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 14


__ADS_3

Sekarang Ana telah ikut bergabung dengan Abimayu dan temannya. Mereka tidak ada yang berbicara satu pun setelah mengetahui Ana adalah istrinya Abimayu. Mereka sudah merasa malu kepada Abimayu karena sempat mengoda Ana di depannya.


"Kenapa kalian hanya diam?" tanya Ana yang sudah mulai bosan karena tidak ada satu orang pun dari mereka yang berbicara. Apalagi Abimayu, sejak tadi dia hanya sibuk memainkan ponselnya tanpa peduli dengan Ana.


Mereka masih saja terus diam karena masih tidak berani untuk berbicara kepada Ana.


"Aku sangat bosan jika begini saja," ucap Ana sendiri.


Ana mencoba menghubungi Risa karena dia merasa Risa sudah pergi sangat lama. Dia ingin memastikan apakah Risa akan pulang dengannya atau tidak.


Panggilan Ana yang pertama tidak dijawab oleh Risa, dia terus menghubungi hingga Risa menjawab panggilannya.


"Ana, tolong aku. Kami berada di belakang kafe," suara Risa terdengar di seberang.


Belum sempat Ana menjawab, ponsel Risa telah terdengar dimatiakan, dia juga sempat mendengar suara Risa yang berteriak. Ana menjadi khawatir dengan Risa saat ini.


"Bantu aku mencari Risa dan Viko! temanku sedang tidak baik-baik saja." Ana berkata sambil berdiri dari duduknya dan dia juga sudah menarik tangan Abimayu.


"Untuk apa kamu ikut campur masalah orang lain?" sindir Abimayu yang sempat terkejut ketika Ana tiba-tiba menarik tangannya.


"Aku bukan ingin ikut campur, tapi aku mau menolong temanku. Ayo Mas!" ucap Ana dan menarik kembali tangan Abimayu.


"Itu masalah mereka, jangan ikut campur!" Abimayu masih menolak, karena dia merasa tidak perlu harus ikut campur dengan urusan orang lain.


"Kalau sesuatu terjadi dengan temanku, kalian akan ikut bertanggung jawab," ancam Ana karena sudah emosi melihat Abimayu dan temannya tidak ingin pergi membantunya mencari keberadaan Risa dan Viko.


"Ayo kita pastikan! Tidak ada salahnya jika kita lihat mereka dulu. Mereka pergi juga sudah agak lama." Salah seorang teman Abimayu akhirnya angkat bicara.


Ana tersenyum mendengarnya karena teman Abimayu ada yang mendengar perkataannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua setuju untuk melihat Risa dan Viko. Mereka semua keluar dari dalam kafe, dan berjalan menuju tempat yang sudah disebutkan oleh Risa


Setelah tiba di area belakang kafe, tempat itu terlihat sepi dan tidak ada seorang pun yang berada di situ. Mereka semua mengarahkan pandangan ke sekeliling area itu, tapi mereka tidak menemukan apa yang mereka cari.


"Sepertinya mereka tidak ada di sini." Salah satu dari mereka berkata.


"Kita lihat lagi, siapa tahu mereka ada," ucap Ana berharap bisa menemukan Risa di sini, karena dia sempat mendengar Risa mengatakan bahwa dia berada di belakang kafe ini.


"Coba kamu lihat tempat ini! dari ujung sini sampai ke ujung sana tidak ada seorang pun yang terlihat," bantah Abimayu sedikit emosi, karena dia juga tidak melihat ada Risa dan Viko di situ.


Tempat itu sedikit luas, terlihat seperti lapangan yang ditumbuhi oleh banyak rumput, sehingga mereka dengan mudah bisa melihat keadaannya.


Ana masih melihat ke sekeliling untuk memastikan, karena dia sangat yakin kalau Risa ada di sini.bk


"Mungkin mereka sudah pergi. Ayo kita kembali!" ajak teman Abimayu karena mereka benar-benar tidak melihat ada apapun di situ.


Mereka semua akhirnya berbalik arah dan kembali menuju ke kafe. Sambil berjalan, Ana masih memutar kepalanya untuk melihat ke arah belakang, dan berharap tiba-tiba Risa muncul di situ.


"Di sana," ucap Ana sambil menunjukkan sebuah bangunan kecil seperti rumah. Bangunan itu terlihat seperti tidak berpenghuni, karena jendela dan pintunya tertutup rapat.


Ana tidak ingin berlama-lama lagi. Ia berlari ke arah bangunan itu, dan diikuti oleh Abimayu bersama temannya. Mereka ingin memastikan, apakah benar di rumah itu ada Viko dan Risa.


"Risa... Risa..." Ana memanggil Risa sambil menggedor pintu rumah itu.


Ana terus menggedor pintu, tapi tidak ada yang membukanya, karena pintunya tertutup rapat dan terkunci.


"Risa...." panggil Ana lagi.


"Ana, to....."

__ADS_1


Ana bisa mendengar suara Risa dari dalam, dan dia sudah yakin kalau Risa ada di rumah ini. Abimayu baru tiba bersama temannya, sedangkan Ana tiba lebih dulu karena ia yang pertama berlari dari mereka semua.


"Cepat dobrak pintunya!" suruh Ana kepada Abimayu. "Risa ada di dalam." Ana memberitahu.


"Pintunya kenapa?" tanya AbimayuAbimayu karena tidak menyadari jika pintunya terkunci.


"Pintunya di kunci, Bodoh! " tanpa sadar Ana berkata kepada Abimayu.


Abimayu diam terpaku mendengar Ana berkata begitu. Dia menjadi emosi karena merasa malu kepada temannya karena Ana berkata kasar kepadanya.


"Ayo kita pulang! Biarkan saja dia yang mendobrak pintunya. Dia hanya khawatir kepada temannya dam kita tidak perlu khawatir kepada Viko. Aku yakin Viko tidak melakukan apa-apa kepada temannya, dan biarkan Viko dan kekasihnya menyelesaikan masalah mereka." Abimayu berkata dan sudah berbalik ingin meninggalkan Ana.


"Tidak, Kalian harus buka pintunya!" Ana mencoba menahan Abimayu, dan ke tiga teman Abimayu terlihat saling berpandangan. Mereka bingung harus bagaimana karena Viko juga teman mereka, dan mereka berpendapat sama dengan Abimayu, karena Viko tidak akan berbuat macam-macam kepada Risa.


"Kalian cepat buka pintunya! Mereka ada di dalam, jika kalian tidak mau, kalian akan tanggung akibatnya," ancam Ana kepada mereka semua.


"Risa.... Risa....kamu baik-baik saja." Ana kembali berteriak memanggil nama Risa.


Mendengar Ana yang terus berteriak memanggil Risa, akhirnya salah seorang teman Abimayu memutuskan untuk mendobrak pintu itu. Mereka masih berada di situ dan belum pergi karena merasa bingung harus bagaimana.


Braaakk


Pintu rumah itu sudah terbuka lebar dan oemandangan yang pertama dilihat mereka adalah Risa yang terduduk lemas di lantai sambil menekuk lututnya. Penampilannya sudah berantakan, ada darah di samping bibirnya, dan pipinya terlihat merah seperti bekas tamparan.


Tidak jauh dari Risa, ada Viko yang berdiri dengan penampilan nya yang juga sudah berantakan.


"Risa...." Ana berjalan ke arah Risa dengan cemas, dan setelah berada di dekat Risa Ana memegang pundak Risa karena dia ingin melihat keadaan Risa.


"Sssssshhhhh" Risa mendesih pelan karena Ana memegang pundaknya yang terasa sakit, lalu dengan segera Ana melepaskan pegangannya.

__ADS_1


Sedangkan Viko juga dihampiri oleh Abimayu dan temannya. Wajah Viko terlihat merah, nafasnya turun naik karena menahan marah. Mereka belum berani bertanya karena melihat Viko yang masih dalam keadaan marah.


__ADS_2