Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 37


__ADS_3

Tiba Ana masuk ke dalam rumah, dia melihat Abimayu yang duduk di sofa ruang tamu seperti sedang menunggunya.


"Mas Abi menungguku?" tanya Ana langsung lalu mendekat ke arah Abimayu dan menghempaskan tubuhnya di samping Abimayu.


"Apa kamu kelelahan karena selesai bersenang-senang dengan pria yang mengantarkanmu itu?" tuduh Abimayu.


"Mas Abi, jangan memancing ku, aku sedang tidak ingin berdebat karena aku sangat lelah." Ana berkata sambil memeluk Abimayu dari arah samping.


"Lepaskan, Ana!" ucap Abimayu. Dia sangat marah karena tetap saja Ana berhasil menyentuhya dengan gerakannya yang tiba-tiba.


"Biarkan sebentar saja, Mas. Aku benar-benar sangat lelah hari ini." Ana berkata pelan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Abimayu.


"Jangan salahkan aku jika aku kembali menyakitimu." Abimayu telah memegang tangan Ana lalu melepaskannya dari tubuhnya dengan sedikit memutar, sehingga Ana kesakitan.


"Auuuuhh sakit, Mas!" sambil Ana mengipaskan jari-jarinya.


"Aku sudah katakan, tapi kamu tetap keras kepala!"


"Ingat, Mas. Aku ini ist..."


"Stop! Jangan ingatkan aku itu lagi, kamu tidak pantas dipanggil dengan sebutan itu."


Ana sudah melihat Abimayu yang duduk menjauh darinya.


"Aku ingin bicara baik-baik denganmu," kata Abimayu dengan serius.


"Ingin bicara apa? Aku ingin lihat, bicara baik yang bagaimana Mas Abi maksudkan."


"Aku serius Ana. Sekarang kamu dengarkan baik-baik! Kamu tahukan dari awal aku mengatakan aku tidak bisa menerimamu?"


"Hemmm"

__ADS_1


"Sekarang aku ingin memberikan penyelesaiannya, supaya kita tidak berlarut dalam hubungan ini."


"Apa penyelesaiannya? Jangan katakan jika kita harus berpisah lagi! Itu tidak akan terjadi," bantah Ana langsung.


"Dengarkan aku dulu!"


"Kalau akhirnya akan ke arah itu, untuk apalagi Mas Abi melanjutkannya? Aku tidak terima apapun alasannya." Kembali Ana memotong pembicaraan Abimayu.


"Ana! Aku belum selesai dengan perkataanku, kenapa kamu langsung memotongnya? Selain keras kepala, kamu juga seorang yang tidak sopan."


"Hemmmm, katanya ingin bicara baik-baik, begitu saja sudah tidak tahan." Ana berkata menyindir Abimayu.


"Terserah padamu! jika kamu masih tetap dengan pendirianmu, maka jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu di kemudian hari." Abimayu mengancam Ana, tapi itu diacuhkan oleh Ana.


...-------------...


Setelah mereka berbicara malam itu, Abimayu benar-benar menjauhkan diri dari Ana. Banyak sekali sesuatu yang selama ini yang menjadi kebiasannya, sekarang sudah jarang dia lakukan. Seperti saat sarapan pagi, sekarang dia telah jarang untuk ikut sarapan bersama Ana. Dia lebih memilih untuk langsung pergi bekerja dan tidak ingin sarapan terlebih dahulu.


"Aku akan pergi jika Mas Abi setuju aku memakai pakaian pilihan-ku!" jawab Ana yang membuat Abimayu mengerti ketika Ana menjawabnya begitu.


Sekarang, setiap akhir pekan atau di hari libur kerja, Abimayu selalu mengunjungi orang tuanya. Abimayu tidak pernah ingin lagi untuk mengajak Ana, karena dia tahu Ana tidak suka pergi ke pesantren. Alasannya dia tidak ingin memakai pakaian tertutup lagi. Jika Abimayu mengajaknya, itu hanya sebuah basa-basi agar ketika ditanya oleh Umi Aida dia mempunyai jawaban untuk mengatakan Ana tidak ingin datang, dan dia merasa tidak akan membohongi uminya.


Ana juga sama, dia akan pergi ke rumah orang tuanya di saat Abimayu pergi ke pesantren. Tapi mereka berdua tidak pernah menceritakan tentang kehidupan rumah tangga mereka dengan kepada orang tua mereka. Hal itu mereka sembunyikan dengan rapi agar tidak diketahui oleh orang tuan mereka.


...----------------...


Di sebuah kamar, seorang wanita sedang terbaring lemah. Semakin hari dia semakin terlihat kurus.


Dia adalah Nayla yang jatuh sakit saat mendengar dari Heri bahwa Abimayu tidak bahagia dalam pernikahannya.


"Apa yang sakit, Nayla?" tanya orang tuanya kepada Nayla.

__ADS_1


"Tidak ada, Ma." Nayla menjawab dengan suaranya yang lemah.


"Katakan saja, Nayla. Supaya kita bisa obati sakitnya."


Nayla hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Saat ini dia memang sakit, tapi sakit itu bukan terjadi pada tubuhnya, tapi pada hati dan fikirannya. Sehingga jika di dibawa kedokter pun, sakitnya tidak akan terlihat.


Sejak satu bulan yang lalu, dia selalu bertemu dengan Abimayu yang selalu datang berkunjung ke pesantren. Mereka selalu bertemu secara kebetulan, dan saat itu, dia bisa melihat bahwa raut wajah Abimayu sedikit berbeda dengan biasanya.


Nayla sudah menyukai Abimayu sejak lama, sejak dia belajar di pesantren Kiayai Mustapa dulu, tapi dia tidak pernah mengatakan kepada siapapun tentang perasaannya itu. Hingga pada saat dia melanjutkan sarjananya di kota, Abimayu datang memdekatinya. Pada saat itu dia tidak membalas sama sekali ketika Abimayu mendekatinya, karena dia tahu bahwa itu dilarang. Dia sangat menjaga dirinya dari para lelaki yang ingin mendekatinya. Hingga pada saat mereka selesai sarjana dan sudah bekerja, Abimayu mengatakan kepadanya ingin melamarnya. Tapi semua itu tidak berlanjut karena Abimayu telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan orang lain.


...----------------...


"Umi juga belum tahu, Abah." Umi Aida memberitahu kepada Kiayai Mustapa karena mereka sudah mendengar kabar bahwa Nayla tidak masuk mengajar sudah beberapa bulan ini.


"Umi coba hubungi orang tuanya!" Ucap Kiayai Mustapa.


Di saat itu Abimayu juga sedang bersama mereka, dia baru tiba beberapa jam yang lalu.


"Memangnya Nayla kenapa, Umi?" tanya Abimayu penasaran, karena sejak tadi abah dan umi nya menyebut nama Nayla dalam pembicaraan mereka.


"Umi juga belum tahu, tapi kata ustdzah di sini Nayla izin mengajar sudah beberapa bulan ini, dan dia tidak memberitahukan alasannya." Umi Aida menjelaskan kepada Abimayu.


"Apa dia sedang sakit?" tanya Kiayai Mustapa lagi.


"Kita belum tahu pasti, Abah! Nayla benar-benar tidak memberitahu alasannya. Umi sudah coba hubungi orang tuanya, tapi mereka mengatakan Nayla baik-baik saja. Tapi jika Nayla baik-baik saja kenapa dia tidak masuk mengajar lagi?"


"Apa Umi sudah coba mendatanginya?"


"Belum, Abah. Nayla seperti tidak ingin dijumpai oleh siapapun saat ini. Jika dia memang sedang tidak sehat pasti para pemgajar di sini sudah akan datang melihatnya."


"Besok, Umi pastikan dulu kepada orang tuanya! Kalau tidak, Umi langsung saja datang ke rumahnya." Kiayai Mustapa memberikan pendapatnya. Mereka juga tidak bisa mengabaikan, karena Nayla sebagai salah seorang pengajar di pesantren di sini, mereka merasa mempunyai tanggung jawab untuk memastikan keadaan Nayla. Jika Nayla sakit, maka mereka akan berkunjung untuk melihatnya.

__ADS_1


Abimayu hanya bisa mendengarkan pembicaraan abah dan uminya, karena hal yang dibicarakan mereka tidak ada hubungan dengannya, dan yang pasti sekarang dia mengetahui bahwa mungkin Nayla sedang tidak baik-baik saja.


__ADS_2