
"Abi...." teriak seorang anak kecil yang datang bersama Nayla dan langsung menghambur ke pelukan Abimayu.
Abimayu juga bereaksi sama saat melihat anak laki-laki itu. Dia sangat senang ketika melihat anak itu lagi.
"Fais, anak sholeh Abi." Abimayu berkata sambil menciumi pipi anak laki-laki kecil itu.
Di tempat duduknya, Ana melihat Abimayu dengan tatapan tajam.
"Ana..." Panggil Nayla kepada Ana dan berjalan mendekat ke arahnya. Dia sudah tahu bahwa wanita bercadar itu adalah Ana, karena dia sempat melihat foto pernikahan ke dua mereka dari suaminya. Saat itu mereka tidak bisa menyaksikan acara itu, dan baru kali ini dia sempat bertemu kembali dengan Ana.
Ana melihat Nayla yang berjalan ke arahnya. Dia juga ingin meminta maaf kepada Nayla karena sikapnya dulu.
"Maafkan aku, Ana." Nayla berkata sambil mengulurkan tangannya kepada Ana.
Tangan Nayla disambut oleh Ana
"Aku juga meminta maaf padamu, Nay. Dulu aku sudah berkata kasar kepadamu." Ana mengakui kesalahannya.
"Kamu tidak salah, Ana. Akulah yang bersalah waktu itu, karena rasa marah aku sampai membuat kalian berpisah."
Ana menggelengkan kepalanya, karena dia juga menyadari perpisahan dia dulu dengan Abimayu karena dia yang egois. Jika dia mau menjawab panggilan Abimayu sebelum dia memutuskan untuk tidak kembali, mungkin dia dengan cepat mengetahui jika Nayla tidak jadi menikah dengan suaminya.
"Ayo kita lupakan masa lalu itu, Nay. Itu juga suatu pembelajaran untuk kita."
Nayla menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan Nayla.
"Jadi gimana keputusannya, Nay?" tanya Umi Aida di saat Nayla sudah saling bermaafan dengan Ana.
"Mas Habib memilih untuk ke sini saja, Umi."
__ADS_1
"Umi senang mendengarnya jika kalian akan tinggal di sini."
Deg
Tiba-tiba jantung Ana berdetak mendengar percakapan Nayla da Umi Aida. Dia menjadi gelisah sendiri mengetahui bahwa Nayla dan suaminya akan pindah ke sini.
Dia mengarahkan pandangannya kembali kepada Abimayu yang sejak tadi asyik bermain dengan putra Nayla. Melihat itu Ana menjadi kesal sendiri dan merasa ingin marah kepada Abimayu saat ini.
...----------------...
Hari sudah beranjak malam dan semua yang berada di rumah Umi Aida satu persatu telah memejamkan matanya. Tapi tidak dengan Ana dan Abimayu. Saat ini mereka tidur secara terpisah karena mereka semua tidur secara berkelompok. Satu kumpulan para wanita, dan satu lagi kumpulan para pria. Mereka harus begitu karena kamar yang ada di rumah ini tidak mencukupi untuk mereka tidur secara berpasangan semuanya.
Abimayu masih gelisah dan belum menutup matanya, dia masih terfikir dengan perkataan Sarah siang tadi. Dia ingin tahu siapa pria yang sudah berani ingin melamar istrinya itu.
Ana tidak pernah bercerita kepadanya tentang kehidupan mereka dulu saat tinggal di pesantren, dan dia juga tidak ingin memaksa Ana untuk bercerita. Dia takut jika terlalu ingin mengetahui cerita itu, Ana akan kembali merasakan rasa sakit di hatinya. Tapi dia juga sangat penasaran dengan apa yang telah dilewati Ana saat itu.
Sedangkan Ana gelisah mimikirkan putra Nayla yang terlalu dekat dengan Abimayu. Apalagi dia mendengar bahwa Nayla akan pindah ke pesantren Umi Aida karena dia dan suaminya akan mengajar di pesantren ini.
Hingga adzan shubuh tiba, Ana dan Abimayu langsung bangkit dari tidurnya dan membersihkan diri untuk melakukan shalat shubuh berjamaah. Mereka sama-sama tidak bisa tidur malam itu karena hati mereka yang sama-sama gelisah.
...----------------...
"Ayo kita main bolanya, Abi." Suara Afif memanggil Abimayu sambil menangis karena tidak ada yang ingin diajaknya bermain bola.
Abimayu yang di panggil pun tersenyum melihat ke arah Afif yang sudah menangis. Dia juga tidak ingin ditemani oleh ayah kandungnya sendiri saat bermain.
Afif adalah anak yang tidak terlalu suka dengan keramaian ketika bermain. Dia hanya akan bermain cukup dengan satu orang saja. Sedangkan para sepupunya yang lain sedang bermain bersama, dan dia tidak menyukai suasana yang begitu sehingga dia tidak mau bergabung dengan mereka saat bermain.
"Boleh, Sayang." Abimayu berkata dan mendekat ke arah Afif. Dari tempat lain ada Ana yang melihat ke arah Abimayu dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Bahkan setelah bermain, Abimayu membawa Afif pergi bersamanya karena Afif tidak ingin dia tinggalkan.
__ADS_1
Dalam seharian ini Afif selalu menempel kepada Abimayu dan tidak ingin ditinggalkan, dan Abimayu sama sekali tidak keberatan dengan itu, karena Afif dulu sangat dekat dengan Abimayu karena sebelumnya suami Nayla tidak tinggal bersama mereka. Dia tinggal beberapa tahun di luar kota karena dia bekerja di sana, Karena Abimayu adalah sepupu dengan suami Nayla, jadi dia sering sekali membawa Afif bersamanya, itu bisa sedikit melupakan rasa hatinya yang tidak menentu saat sebelum bertemu dangan Ana kembali.
"Sayang, tolong ambilkan ini dulu." Abimayu memanggil Ana yang sedang berdiri melihatnya. Dia menyuruh Ana untuk mengambilkan mainan Afif yang terjatuh. Dia tidak bisa mengambilnya karena Afif tertidur dalam gendongannya.
Ana berjalan mendekat ke arah Abimayu dengan wajah sedikit masam lalu mengambilkan apa yang disuruh oleh Abimayu.
"Sekalian buatkan ini, ya!" Abimayu meminta bantuan Ana lagi untuk mmmbentangkan alas tidur untuk Afif.
Ana tetap melakukannya tapi dengan raut wajah nya yang tidak terbaca, dan Abimayu belum menyadarinya.
"Sayang, tolong urutkan tangan Mas sebentar, rasanya sedikit sakit karena sejak tadi Afif minta di gendong."
Ana hanya diam, lalu malkukan apa yang disuruh Abimayu kepadanya yaitu mengurut bagian tangan dan pundak Abimayu.
Auuuuf
"Pelan-pelan, Sayang." Abimayu berkata merasakan sakit, karena Ana terlalu menekankan tangannya mengurut Abimayu.
"Mas saja yang lemah, di urut begitu saja sudah kesakitan," ucap Ana dengan kesal.
"Sakit, Sayang. Mas tidak berbohong." Bela Abimayu kepada dirinya.
"Kalau begitu tidak usah diurut lagi." Ana semakin kesal saat ini. Dia sudah berdiri dan ingin pergi dari Abimayu.
"Mau kemana, hem?" tanya Abimayu yang sudah menarik tangan Ana dalam posisi dia yang duduk, sedangkan Ana sudah berdiri di hadapannya.
"Mas, lepas! Di sini banyak orang." Ana sudah merasa malu dengan perbuatan Abimayu yang begitu. Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah, dan yang lainnya berada di tempat yang lain. Di ruangan itu nampak sunyi, sehingga Abimayu berani begitu kepada Ana.
"Kita tidak melakukan apapun, Sayang. Kenapa harus malu?" goda Abimayu kepada Ana yang berwajah masam terlihat dari matanya. Abimayu bisa melihat setiap raut wajah Ana di balik cadar nya. Sekarang dia tahu bahwa istrinya ini sedang menahan kesal.
__ADS_1
Ekhmmmm
Bunyi itu dikeluarkan oleh Aisyah yang sedang melewati ruang tengah tempat mereka saat ini. Aisyah hanya berniat menggoda mereka saja. Ana melapaskan pegangan tangan Abimayu dengan cepat, lalu bergegas pergi menuju orang yang berkumpul di ruangan lain. Dia merasa sangat malu kepada Aisyah, sedangkan Abimayu tersenyum simpul melihat tingkah sang istri tersebut.