
Sebulan setelah persetujuan Ana, Abimayu benar-benar telah sah melamar Nayla dan acara itu juga dihadiri oleh Ana. Di saat hari lamaran itu Ana bisa melihat Nayla sudah jauh lebih baik dari waktu dia kunjungi sebelumnya.
Pagi ini Ana sudah turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan yang dibantu oleh pelayan. Sedangkan Abimayu juga telah bangun dan pergi berolahraga pagi.
"Sarapan Mas Abi disiapkan pelayan saja, ya." Ana berkata kepada Abimayu yang telah duduk di kursi ruang makan, Sedangkan Ana telah sejak tadi turun ke bawah dan langsung memakan saraoannya. Sekarang dia tidak lagi menunggu Abimayu di sofa ruang tamu, dia kembali menunggu Abimayu di ruang makan seperti dulu.
"Biar aku sendiri saja!" ucap Abimayu saat pelayan sudah mulai melakukan yang di suruh oleh Ana kepadanya. Abimayu juga melihat sekilas ke arah Ana yang terus memakan sarapannya. Dia merasa setelah Ana setuju dia menikah dengan Nayla, Ana seperti berubah dan menjauhinya, karena perubahan itu sangat dia rasakan sekarang ini. Ana tidak pernah lagi menunggunya di sofa ruang tamu sebelum dia berangkat kerja, Ana juga tidak lagi pernah menahannya jika tidak ingin sarapan pagi, bah(an Ana juga tidak pernah lagi melakukan hal yang paling dia benci, yaitu menggodanya.
"Apa kalian sudah mendapatkan pakaian pengantin?" Ana bertanya ketika Abimayu telah menyuap makanannya.
Abimayu terdiam dan melihat Ana dengan lama saat mendengar pertanyaan dari Ana. Bukan karena dia curiga atau marah ketika Ana bertanya tentang itu kepadanya, tapi dia tidak tahu kenapa, hatinya terasa sendu saat Ana menanyakan hal itu kepadanya.
"Jika belum, kalian boleh datang ke butik-ku untuk melihat baju pengantin, anggap saja ini adalah sebagai hadiah dariku untuk pernikahan kalian." Ana melanjutkan bicaranya karena melihat Abimayu yang masih tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"A a kku akan beritahu Nayla." Abimayu berkata sedikit tersendat.
Hanya itu yang mampu diucapkan Abimayu untuk menjawab pertanyaan Ana. Saat ini sarapan yang di makannya terasa seperti tertahan di kerongkongannya, dan dia seperti tidak mampu untuk menelan makanan itu dengan baik.
"Aku akan menunggu kabarnya! Jika benar kalian akan memakainya, kalian harus datang ke butik-ku untuk melihatnya, atau kalian juga boleh pesan sesuai keinginan kalian."
__ADS_1
Ana berani menawarkan itu kepada Abimayu, karena dia bukan hanya memiliki butik pakaian sendiri, tapi dia juga bisa membuat gaun atau pakaian pesanan karena dia mempunyai seorang perancang busana di butik nya, jadi orang lain bisa memesan pakaian itu sesuai dengan selera model pakaian yang mereka inginkan.
"Aku akan berangkat lebih dulu!" ucap Ana setelah dia memberikan penawaran kepada Abimayu. Saat ini dia merasa sangat tidak ingin berdekatan dengan Abimayu. Sebelum Abimayu turun ke bawah, dia sangat menikmati waktu sarapannya, tapi setelah Abimayu bergabung dengannya di ruang makan, rasanya dia ingin cepat pergi dan dia tidak berselera lagi untuk memakan makanannya.
"Aku juga akan pergi!" Abimayu berkata sambil berdiri dari kursinya karena melihat Ana yang ingin pergi.
Ana melihat heran ke arah Abimayu.
"Kenapa tidak dihabiskan dulu sarapannya, Mas?" Ana bertanya karena dia melihat di piring Abimayu masih banyak sarapan yang belum dia makan.
"Aku sudah merasa kenyang," jawab Abimayu mengelak, padahal dia sengaja meninggalkan sarapannya karena tahu Ana akan pergi.
Abimayu seperti sedang menunggu Ana untuk mendekatinya, tapi ternyata Ana sudah berjalan menuju ke arah pintu rumah. Abimayu merasa tidak tenang saat itu, karena Ana tidak lagi melakukan hal biasa dia lakukan sebelum dia pergi bekerja, dan beberapa hari ini juga, dia merasakan Ana benar-benar seperti menghindar darinya.
Di perusahaan, Abimayu juga tidak fokus untuk bekerja karena fikirannya sangat terganggu dengan sikap Ana akhir-akhir ini. Bahkan banyak perkerjaannya yang dia serahkan kepada Heri untuk diperiksa. Dia takut jika terus memaksa, maka dokumen yang dia periksa akan banyak yang salah karena dia yang kurang fokus bekerja.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?" tanya Heri kepada Abimayu karena dia juga telah mengetahui kabar pernikahan itu dari Abimayu sendiri.
"Ehmmm begitulah," jawab Abimayu tidak semangat ketika Heri bertanya tentang itu.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar telah yakin?" Heri bertanya memastikan karena dia melihat Abimayu seperti sedang meragu dengan keputusan yang telah dia ambil saat ini.
"Ya." Abimayu menjawab dengan singkat. Dia tidak ingin berbicara banyak saat ini, karena dia sedang gelisah dan memikirkan sesuatu yang menganggu fikirannya setelah Ana menyetujui dia yang akan menikah lagi.
Abimayu sekarang juga lebih sering melihat ke arah ponselnya saat bekerja, karena dia sedang menunggu pesan, karena pesan itu sekarang tidak ada lagi seperti biasanya yang selalu membuat ponselnya berbunyi setiap saat.
Sedangkan Ana sekarang terlihat biasa-biasa saja. Dia tidak merasa sedang mengabaikan suaminya, hanya saat ini dia belum bisa berdekatan dengan Abimayu karena respon dari tubuhnya selalu menolak ketika ingin berdekatan dengan Abimayu, bahkan sekedar untuk mengirimkan pesan kepada Abimayu pun dia tidak bisa meski mereka tidak saling berdekatan.
"Aku pulang dulu." Abimayu berkata kepada Heri saat mereka masih memeriksa dokumen.
"Tapi ini hanya tinggal sedikit lagi." Heri memberitahu kepada Abimayu, karena pekerjaan mereka sebenarnya akan selesai sebentar lagi.
"Kamu saja yang selesaikan, aku pulang dulu," ucap Abimayu sambil terus keluar dari ruangannya dengan bergegas.
Heri sedikit heran melihat tingkah Abimayu, karena tidak biasanya dia meninggalkan pekerjaannya seperti ini. Dia akan pulang setelah semuanya selesai.
Sesampainya di depan rumah, perasaan senang dia rasakan, karena melihat mobil Ana yang sudah terparkir. Itu menandakan Ana sudah ada di rumah mereka. Abimayu turun dari mobil dan dia berharap saat ini tidak ada yang berubah lagi.
Klek
__ADS_1
Abimayu sudah membuka pintu masuk rumah mereka, dan dia langsung mengarahkan matanya ke sofa di ruang tamu. Tapi dia tidak lagi menemukan seorang wanita berpakaian seksi yang selalu menunggunya saat dia pulang bekerja sedang duduk di atas sofa. Sekarang di rumah itu terasa sangat sepi karena Ana tidak lagi menunggunya, dan dia menyadari bahwa semua benar-benar telah berubah.
Abimayu akhirnya melangkah dengan pelan dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Di lantai atas dia melihat pintu kamar yang di tempati oleh Ana tertutup rapat. Dia berharap pintu itu terbuka dengan tiba-tiba, dan Ana keluar dari kamar itu untuk menemuinya. Tapi beberapa detik dia melihat, pintu itu tetap tertutup dengan rapat dan akhirnya dia berjalan masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan.