Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 56


__ADS_3

Sekarang Ana dan Abimayu telah berada di rumah Umi Aida dan Kiayai Mustapa karena hari pernikahan Abimayu dan Nayla tinggal beberapa hari lagi.


Semua keluarga Abimayu sudah berkumpul semua di rumah itu, kecuali dari keluarga saudara Abimayu yang sudah meninggal, mereka sudah jarang datang karena istri almarhum saudaranya itu telah menikah lagi dengan seorang ustadz di daerahnyadaerahnya, dan mereka juga dipercayakan Kiayai Mustapa untuk mengelola pesantren yang ditinggalkan almarhum anaknya itu.


Selain itu, orang tua Ana juga datang ke rumah itu untuk membantu persiapan pernikahan Abimayu dan Nayla. Mereka masih merasa sangat bersalah kepada Umi Aida dan Kiayai Mustapa.


"Kenapa menatap-ku seperti itu?" Ana bertanya kepada Abimayu yang terus menatapnya saat mereka berada di dalam kamar setelah tiba di rumah orang tuanya beberapa menit yang lalu.


"Apa kamu bisa lebih sopan sedikit?" Abimayu berkata dengan tenang.


"Apalagi yang Mas Abi risaukan dengan-ku saat ini?"


"Aku hanya ingin kamu lebih menyopankan pakaianmu, karena di rumah ini banyak orang yang seharusnya tidak melihat bagian tubuhmu yang terlihat ketika kamu memakai pakaian yang terbuka." Abimayu mencoba mengatur bicara agar tidak membuat Ana marah saat ini. Dia berbicara dengan hati-hati karena dia juga tidak ingin mereka berdebat yang bisa membuat semua orang yang ada di rumah ini mendengarnya.


"Aku sudah bilang, aku tidak ingin memakai pakaian tertutup itu lagi, dan semua orang juga telah mengetahui aku yang sebenarnya. Untuk apalagi aku harus menutupinya dari mereka semua."


"Ya, tapi paling tidak jangan memakai yang terlalu terbuka." Abimayu tetap berusaha untuk membujuk Ana meskipun dia tahu ini tidak akan berhasil. Dia merasa sangat segan dan malu kepada semua orang apalagi dengan abahnya jika Ana tetap dengan pendiriannya menggunkan pakaiannya yang semuanya terlihat seksi di matanya.


Akhirnya Ana memutuskan untuk memakai baju lengan pendek dan celana panjang yang longgar, dan dia juga tidak memakai hijab. Lalu dia ikut bergabung dengan semua orang dengan penampilan nya yang berbeda sendiri.

__ADS_1


Saat dia ikut bergabung dengan keluarga yang lain, dia hanya duduk diam tanpa bicara sedikit pun, dia hanya duduk sambil memainkan ponselnya. Dari arah yang sedikit berjarak, Abimayu terus melihat ke arah Ana yang hanya diam dan sesekali memainkan ponselnya.


"Aku pergi menjawab panggilan dulu." Ana berkata sambil berdiri karena ingin menjawab panggilan dari ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.


Beberapa menit kemudian Ana kembali setelah menjawab panggilannya dengan raut wajah yang bahagia.


"Ma, ayo kita pulang! Aku akan ikut bersama kalian!" Ana berkata kepada mama nya yang juga berada di rumah itu saat ini.


"Bukannya kalian akan di sini sampai hari pernikahan?" Kiran menjawab, dan merasa heran dengan ajakan Ana. Dia juga bisa melihat raut wajah Ana yang bahagia. Dia tahu, putri manjanya itu sekarang sedang bahagia, karena apapun yang sedang dirasakan oleh putrinya, dia juga bisa merasakan itu. Saat dulu Ana bersedih ketika mereka menanyakan tentang kebenaran itu kepadanya, dia juga merasa sedih. Tapi mereka tetap mengabaikan Ana karena sudah terlanjur kecewa kepadanya, mulai saat itu hubungan mereka sedikit merenggang, Ana juga seperti menjauhkan diri dari mereka, apalagi dia mengetahui mereka menyetujui pernikahan Abimayu dan Nayla.


"Sepertinya aku tidak bisa mengahadirinya!" jawab Ana masih dengan raut wajah bahagianya.


"Kenapa? Bukankah kamu sudah menyetujuinya?" tanya Kiran penasaran dengan alasan Ana saat ini.


"Lalu apa?" Kiran sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban Ana.


"Mama tahu, aku barusan di hubungi oleh Agency dari luar kota, katanya aku akan mengahadiri acara untuk pengesahan, karena usahaku masuk dalam salah satu rekomendasi usaha yang bekualitas tinggi. Mama tahukan, kalau aku sudah lama ingin mendapatkan itu." Ana menjelaskan dengan rasa bahagianya. Dia hanya bisa berbagi kebahagiaan ini dengan mamanya, karena hanya mereka yang tahu keinginannya ini sejak dulu.


Di sisi lain, degup jantung Abimayu telah berdetak dengan kencang mendengar kabar yang disampaikan oleh Ana. Hatinya merasa gelisah seakan dia tidak ingin Ana pergi ke acara tersebut dan ingin Ana tetap di sini bersamanya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang! Aku perlu menyiapkan barang-barangku, karena aku akan berangkat besok!" ajak Ana lagi kepada sang mama yang masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk pergi.


"Aku yang akan mengantarmu!" tiba-tiba terdengar suara Abimayu bicara dari arah tempat duduknya.


Ana memutar tubuhnya menghadap ke arah Abimayu yang sudah berdiri dari duduknya dan melihat ke arahnya.


"Tidak! Ana menolak dengan cepat "Mas Abi sebentar lagi akan menikah, silahkan persiapkan semuanya di sini! Maaf mungkin aku tidak bisa mengahdirinya, karena sepertinya aku di sana sampai hari pernikahan kalian, dan akan pulang besoknya." Ana menjelaskan lagi supaya orang yang ada di sini juga tidak akan salah paham dengan kepergiannya. Dia takut mereka akan berfikir bahwa dia sengaja menghindar dari pernikahan Abimayu ini.


"Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan di perusahaan." Abimayu kembali berkata dan memberikan alasan yang semua orang tidak tahu apakah itu benar atau tidak, karena di saat Ana ingin pergi dia juga mengatakan ada urusan di perusahaannya.


"Bukannya Mas Abi sudah menyerahkan kepada Heri?" Ana bertanya dengan heran, karena sebelum mereka ke sini, Abimayu mengatakan sudah menyerahkan pekerjaan selama dia tidak masuk bekerja kepada Heri.


"Masih ada yang ingin aku jelaskan kepadanya!" Abimayu memberikan alasannya lagi karena Ana sedikit curiga kepadanya.


"Sebaiknya, Mas Abi hubungi saja dia! Perjalanan ke rumah kita memakan waktu yang lama." Ana memberikan sebuah solusi agar Abimayu tidak terlalu kerepotang untuk bolak balik lagi karena hari pernikahannya sudah dekat.


"Ayo! Aku akan tunggu kamu di mobil!" ajak Abimayu yang sudah berjalan meninggalkan semua orang yang ada di situ.


"Mungkin Abimayu benar, Nak. Kamu boleh ikut pulang bersamanya dulu," ucap Umi Aida. Dia tidak tahu, apakah yang dikatakan anaknya benar atau tidak. Tapi karena dia seorang ibu, dia juga tahu apa yang saat ini sedang dirasakan Abimayu.

__ADS_1


Akhirnya Ana mengalah, karena tidak ingin berdebat dengan semua orang yang ada di sini. Dia langsung ke luar tanpa berpamitan kepada semuanya.


Abimayu sudah duduk di dalam mobil menunggu Ana, dia tersenyum samar ketika melihat Ana keluar dari dalam rumah dengan wajah kesalnya. Saat masuk ke dalam mobil, Ana menghempaskan pintunya dengan kuat yang membuat senyum Abimayu semakin terlihat jelas di bibirnya. Akhir-akhir ini dia lebih sering melihat wajah kesal Ana, karena disebalik kesalnya itu Abimayu bisa melihat sikap manja Ana yang sudah lama Abimayu ketahui, dan dia terlihat menyukai wajah kesal itu saat ini.


__ADS_2