Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 58


__ADS_3

Di dalam kamar Abimayu telah rapi dengan pakaian pengantin yang dirancang oleh butik Ana sendiri. Selama ini dia sangat menantikan hari di mana dia akan mengucapkan lafadz ijab qobul untuk Nayla. Tapi di saat waktunya telah tiba ada rasa yang yang mengganggu hati dan fikirannya.


tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Abimayu, tapi dia tidak menyadarinya karena sekarang fikirannya sedang kacau.


Klek


Terlihat Umi Aida berdiri di balik pintu kamar yang ditempati Abimayu saat ini.


"Abi....," panggil Umi Aida dengan pelan sambil berjalan ke arah Abimayu yang duduk di pinggir ranjang yang sudah memakai pakaian pengantinya sambil membungkukkan tubuhnya, dengan kedua tangannya diletakkan di atas lututnya untuk menopang kepalanya yang menunduk.


"Abi..." Panggil Umi Aida kembali karena Abimayu seperti tidak menyadari kedatangannya.


"Ayo kita berangkat sekarang! Semua orang sudah menunggu," lanjut Umi Aida bicara sambil memegang pundak Abimayu.


Abimayu masih tetap dalam posisinya yang membuat Umi Aida terheran. Dia sedikit menundukkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas apa yang dilakukan Abimayu.


"Hiks, hiks, hiks, U... umi." Umi Aida mendengar suara isak tangis Abimayu meski tidak terdengar kuat sambil memanggilnya.


"Kamu kenapa, Nak?" ucap Umi Aida terkejut dan khawatir karena mendengar isak tangis Abimayu yang terdengar sedih.


"U.. u.. umi, Abi merindukan Ana." Abimayu berkata masih dalam posisi membungkukmembungkuk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Abi merindukan dia, Umi." Ulang Abimayu kembali.


Abimayu akhirnya mengatakan rasa hatinya yang beberapa hari ini dia tahan. Dia menyadari bahwa saat ini dia merindukan sang istri yang sama sekali tidak tidak ada kabarnya selama dia pergi, bahkan pesan yang sempat dia kirim belum di balas oleh Ana. Dia juga sudah mencoba menghubungi Ana tapi panggilannya sama sekali tidak pernah dijawab oleh Ana.

__ADS_1


"Umi, Abi rindu Ana Umi." Abimayu menegakkan tubuhnya. Saat ini sesak di dadanya semakin terasa ketika dia mengungkapkan rasa hatinya kepada Umi Aida.


Umi Aida merasa sendu melihat keadaan anaknya yang terlihat lesu dan tidak bersemangat sama sekali. Bahkan matanya terlihat merah karena sudah menangis meskipun tidak terlalu kuat.


"Tolong hubungi Ana, Umi. Abi ingin bicara dengannya." Abimayu minta tolong kepada Umi Aida. Mungkin jika Umi Aida yang menghubunginya, Ana akan menjawab panggilannya.


Melihat Abimayu yang begitu, Umi Aida mencoba untuk menghubungi Ana, tapi beberapa kali dia hubungi, Ana tetap tidak menjawab panggilannya.


"Ayo kita pergi dulu, keluarga Nayla sudah menunggu kita." Akhirnya Umi Aida berkata, karena dia sudah di hubungi oleh keluarga Nayla sebelum masuk ke kamar Abimayu.


"Umi...," ucap Abimayu dan menahan langkah kaki Umi Aida yang sudah ingin pergi.


"Abi, Mungkin saat ini Ana sedang tidak bisa diganggu sama sekali, nanti kita akan coba hubungi dia lagi. Dia juga sudah berjanji akan pulang sehari setelah ini." Umi Aida mencoba untuk memberikan pengertian kepada Abimayu, meskipun dia juga merasakan sendu di hatinya saat ini karena teringat dengan Ana.


"Tapi, Um..." Abimayu berkata tertahan.


Bukan itu sekarang yang diinginkan oleh Abimayu. Jika tentang Ana akan kembali besok, dia juga sudah mengetahui. Tapi sekarang dia ingin bicara dengan Ana, dia juga belum tahu apa yang akan dia katakan nanti seandainya Ana bisa menjawab panggilan darinya, tapi sekarang dia ingin Ana menjawab panggilannnya dan bahkan jika bisa dia ingin Ana sekarang ada di dekatnya.


Abimayu akhirnya berdiri dari duduknya dan melihat kembali penampilannya di depan kaca. Setelah dia merasa penampilannya sudah rapi kembali, dia melangkahkan kakinya yang terasa berat saat ini untuk pergi ke rumah Nayla.


...----------------...


Di kamarnya Nayla sudah terlihat sangat cantik karena telah selesai didandani.


"Bagaimana, Ma?" tanya Nayla kepada sang mama. Dia merasa gelisah karena keluarga Abimayu belum tiba di rumah mereka.


"Mereka akan tiba sebentar lagi, kamu jangan khawatir," jawab sang mama, karena dia sudah memghubungi Umi Aida untuk menanyakan di mana mereka sekarang.

__ADS_1


Nayla terlihat menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban mama nya. Tapi saat ini meski dia sudah tahu bahwa keluarga Abimayu sedang menuju ke rumahnya, hatinya masih tetap gelisah dan tidak tenang.


Di luar kamarnya setelau beberapa waktu kemudian


Abimayu sudah berjabat tangan dengan orang tua Nayla untuk melafadzkan ijab qabul. Saat orang tua Nayla telah mengucapkan lafadz nya, mulut Abimayu seperti terkunci dan tidak bisa dia buka. Jantungnya terus berdegup tanpa henti, dan hatinya terasa perih saat ini bahkan dia hampir menitikkan air mata.


Orang tua Nayla kembali mengulang lafadz nya, dan lagi-lagi Abimayu tidak bisa menyambutnya.


Dari tempat duduknya Umi Aida juga terlihat gelisah karena melihat Abimayu, bahkan di rumah itu sudah terdengar suara orang-orang karena merasa heran melihat Abimayu yang belum juga mengucapkan lafadz ijab qabul itu.


Untuk yang ke tiga kalinya terdengar suara seorang wanita yang keluar dari dalam.


"Tidak usah di lanjutkan!" suara wanita itu terdengar di keheningan saat semua orang menunggu Abimayu melafazkan ijab qabul. Wanita itu adalah Nayla, pengantin wanita yang ingin dinikahi oleh Abimayu saat ini.


Nayla berdiri di tengah-tengah tamu undangan yang berhadir dan masih menggunakan pakaian pengantin di tubuhnya. Dia juga melihat ke arah Abimayu yang sejak tadi juga sudah menatapnya. Mata mereka saling berpandangan untuk pertama kalinya. Nayla bisa melihat dari mata Abimayu bahwa sekarang dia sangat gelisah, dan Nayla juga tahu Ana yang tidak berhadir di sini karena sedang pergi keluar kota.


"Nayla." Panggil Umi Aida sambil berjalan mendekat ke arah Nayla.


"Batalkan saja pernikahannya, Umi!" ucap Nayla lagi yang membuat semua orang terkejut mendengar.


"Kenapa, Nayla?" tanya orang tua Nayla yang juga sudah mendekat ke arahnya.


"Aku tidak ingin melanjutkannya." Nayla berkata tanpa ada keraguan di hatinya lagi.


"Tapi..."


"Ma, aku benar-benar tidak ingin melanjutkan pernikahan ini." Nayla kembali berkata tentang penolakannya dengan perasaan sedihnya, bahkan dia sudah menangis di depan semua orang saat ini.

__ADS_1


"Nayla, Umi Aida memeluk Nayla yang menangis, dia ingin menenangkan dan memberi kekuatan kepada Nayla saat ini, meski dia tidak tahu kenapa Nayla menangis dan membatalkan pernikahannya.


"Maafkan aku, Umi," ucap Nayla yang masih berada dalam pelukan Umi Aida.


__ADS_2