Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 45


__ADS_3

Paginya seperti biasa Abimayu berolahraga pagi sebelum berangkat bekerja. Pulang dari berolahraga dia tidak melihat Ana berada di ruang makan, di sana hanya terlihat pelayan yang sedang menyiapkan sarapannya.


"Apa Mas Abi telah kembali dari berolah raga?" tanya Ana kepada pelayan karena dia baru saja turun ke bawah dan langsung menuju ruang makan dengan pakaiannya yang sudah rapi.


"Sudah, Nyonya." Pelayan itu menjawab dengan sopan.


"Kamu siapkan semua untuk Mas Abi!" suruh Ana kepada pelayan itu untuk menyiapkan peralatan makan Abi yang biasanya dia melakukannya.


"Ken... "


"Lakukan saja, saya sedang tidak ingin merepotkan diri saya." Ana berkata seolah selama ini dia telah merasa direpotkan dengan terus melayani Abimayu.


Pelayan itu hanya mengangguk dan tidak ingin bertanya lagi alasannya.


Dari atas tangga, suara langkah Abimayu sudah terdengar turun ke bawah, dan dia terlihat sudah mendekat ke arah ruang makan.


Ana hanya melihatnya sekilas dan melanjutkan menyiapkan sarapan yang ingin dimakannya.


"Biar saya saja!" ucap Abimayu ketika pelayan ingin menyiapkan sarapannya, sambil melihat ke arah Ana yang seperti tidak mempedulikan keberadaannya saat ini.


"Shhhhh." Ana mendesih pelan saat ingin memasukkan makanan ke mulutnya, karena dia baru merasakan sakit di pipinya ketika dia membuka mulutnya saat ini.


Abimayu sempat mendengar suara desisan itu, tapi dia hanya melihat Ana sebentar dan melanjutkan makannya.


"Auuuhhh"


Suara Ana terdengar kembali di telinga Abimayu. Dia merasa Ana sengaja mengeluarkan suara begitu.


Sedangkan Ana terlihat menghentikan suapan nya kembali dan memegang pipinya yang terasa sakit.


"Shhhhhh."


Abimayu menghentikan makannya dan benar-benar melihat ke arah Ana. Saat ini dia melihat Ana yang menutup ke dua matanya sedang menenangkan dirinya dari rasa sakit.


Abimayu melihat Ana lebih lekat, karena dia merasa heran kepada Ana yang selalu mendesis saat makan pagi ini.

__ADS_1


Abimayu sedikit mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya sehingga alis matanya hampir menyatu. Dia melihat pipi Ana sebelah kanan terlihat sedikit merah dan ada bekas seperti jari tangan yang terlihat samar.


"Kenapa melihatku?" tanya Ana dengan gerakan mulutnya yang sedikit terkatup.


Abimayu tidak menjawab tapi dia terus melihat ke arah pipi Ana yang lebam itu.


"Apa yang Mas Abi lihat?" tanya Ana dengan wajah kesalnya.


"Kenapa dengan pipimu?" akhirnya Abimayu bertanya juga karena merasa tidak tahan jika dia tidak menanyakan itu, karena bekas tamparan itu terihat sedikit jelas di pipi Ana yang putih.


Ana tidak ingin menjawab pertanyaan Abimayu, karena jika dia terus bicara maka pipinya akan semakin sakit.


Ana hanya menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dari duduknya dan ingin pergi.


"Tunggu! Kamu jawab aku dulu!" tahan Abimayu kepada Ana.


Tapi Ana tidak mendengarkan itu, dan dia terus melangkah pergi. Saat ingin sampai di depan pintu, tiba-tiba tangannya ditarik yang membuat tubuhnya berbalik.


"A.... shhhhhh." Belum sempat dia bertanya, pipinya kembali terasa sakit karena dia tidak sadar telah membuka mulutnya dengan lebar.


Saat ini tubuh Abimayu berjarak sangat dekat dengan Ana, sehingga dia bisa melihat dengan lebih jelas ke arah pipi Ana.


"Mas Abi tidak perlu tahu! Untuk apa Mas Abi menanyakan ini?" Ana berbicara dengan giginya yang sedikit terkatup.


"Kamu tinggal jawab saja pertanyaanku! Dan tidak usah mendebat-ku!" Abimayu menegaskan.


"Jika Mas Abi ingin tahu, aku akan memberitahunya! Ini adalah bekas tamparan orang tua-ku karena Mas Abi telah berhasil mengungkapkan kebenaran tentang-ku kepada mereka!" Ana mengucapkan kata itu dengan perlahan dan sedikit dia tekan, karena dia ingin Abimayu mendengarnya dengan jelas.


Setelah itu, Ana menarik tangannya yang masih dipegang oleh Abimayu dan pergi dari hadapan Abimayu.


"Kamu jangan pergi dulu!" perintah Abimayu kepada Ana. Tapi Ana tidak ingin mendengar dan terus berjalan ke arah mobilnya lalu pergi meninggalkan Abimayu yang masih berdiri di depan pintu rumah mereka.


...----------------...


Di dalam ruangan kerjanya, Abimayu terlihat gelisah dan tidak tenang dalam duduknya. Dia memegang ponsel di tangannya dan seperti ingin mengirimkan pesan kepada seseorang, tapi dia tampak ragu untuk melakukannya.

__ADS_1


"Hemmmm jika ingin menghubunginya, lakukan saja!" goda Heri yang sejak tadi melihat kegelisahan Abimayu.


"Aku sedang tidak ingin menghubungi siapapun." Abimayu membantah perkataan Heri yang seolah tahu apa yang ingin dia lakukan.


"Jika tidak, kenapa kamu terlihat gelisah seperti seorang gadis yang sedang menunggu dihubungi oleh kekasihnya." Heri si penggoda sudah mulai beraksi dengan godaannya yang membuat Abimayu kesal kepadanya.


"Apa kamu masih ingin bekerja di sini?" ancam Abimayu kepada Heri, karena jika tidak begitu Heri terus menggodanya.


"Baiklah, aku akan diam!" jawab Heri akhirnya.


Berhentinya Heri si penggoda tidak membuatnya diam secara langsung. Dia sesekali juga kembali memperhatikan Abimayu yang masih terlihat gelisah.


"Kamu periksa ini dulu!" Abimayu berkata sambil menyuruh Heri untuk membawa dokumen yang ada di mejanya untuk diperiksa oleh Heri.


"Ini sangat banyak, Abi!" Heri sedikit menolak perintah Abimayu kepadanya.


"Jangan menolaknya jika tidak ingin aku kirim ke luar kota." Abimayu mengancam lagi.


Akhirnya Heri membawa dokumen itu untuk dia periksa dan pergi meninggalkan Abimayu sendiri di ruangannya.


Sepeninggalan Heri, Abimayu masih memikirkan keadaan pipi Ana. Dia tidak menyangka Ana mendapatkan tamparan dari orang tuanya. Dia terus saja gelisah dan tidak tenang, apalagi membayangkan saat Ana hanya mampu terdiam tidak bisa membuka mulutnya karena menahan sakit di pipinya, dan pagi ini Ana sama sekali tidak menganggu nya.


...----------------...


"Kalian harus datang ke rumah-ku malam ini!" Ana terlihat sedang berbicara di ponselnya dengan seseorang.


"Kalau bisa, kalian boleh datang sedikit ramai, tapi harus ingat apa yang aku katakan!" sambung Ana lagi.


Ana mengakhiri panggilannya sambil tersenyum kecil. Saat itu, Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Apa pipimu masih sakit?" Ana membaca sebuah pesan yang membuat dia tertawa begitu kuat.


"Auuuhhh." Rasa sakit di pipinya kembali menyadarkannya.


Dia masih tersenyum tipis sambil membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya sekali lagi. Dia melihat nama pengirim pesan tersebut yang membuatnya juga tidak percaya.

__ADS_1


Ternyata Abimayu mengirim dia sebuah pesan untuk menanyakan tentang keadaan pipinya, yang membuat Ana bisa tertawa dengan sedikit kuat.


Ana hanya membiarkan pesan tersebut tanpa membalasnya. Sedangkan di tempat lain, sang pengirim pesan kepada Ana itu, terlihat sedang menunggu balasan dari pesan yang dia kirim. Dia terus menunggu dan sedikit berharap pesan itu akan dibalas oleh Ana.


__ADS_2