Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 72


__ADS_3

Abimayu pagi ini di perusahaannya terlihat begitu semangat melakukan aktivitasnya.


"Apa kamu baru saja mendapatkan hadiah?" tanya Heri sebagai seorang teman bagi Abimayu.


"Apa yang kamu bicarakan? Siapa yang mendapatkan hadiah?" jawab Abimayu dengan kembali bertanya dengan wajah bingungnya.


"Sepertinya hari ini kamu telah kembali menjadi Abimayu yang dulu lagi." Heri berkata dengan wajah penasarannya.


Huffff


"Ya... Ana telah mengizinkan aku bertemu dengan Fatimah," ucap Abimayu. Tapi dengan seketika raut wajahnya berubah seketika.


"Syukurlah... aku ikut bahagia mendengarnya." Heri berkata, karena selama ini dia juga bisa melihat bagaimana keadaan Abimayu ketika dia ditinggalkan oleh istrinya saat itu. Hampir berbulan-bulan dia tidak masuk ke perusahaan karena mencari istrinya. Dia seperti tidak peduli lagi dengan perusahaannya.


"Kenapa sekarang wajahmu nampak muram kembali?" tanya Heri ketika melihat raut wajah Abimayu berubah ketika dia berkata telah di izinkan bertemu dengan anaknya.


"Hanya Fatimah yang bisa aku temui sekarang, Her." Abimayu berkata sambil menyapu wajahnya.


Mendengar itu Heri bisa mengerti maksud dari perkataan Abimayu.


"Apa ibunya tidak bisa kamu temui?" Heri menebak.


"Ya, dia tidak ingin menerima-ku lagi," ucap Abimayu sambil menundukkan kepalanya dan menopangnya dengan satu tangannya di atas meja.


"Hemmmm ternyata ada juga wanita yang menolakmu," ucapa Heri sambil tersenyum.


Abimayu menegakkan kembali kepalanya melihat ke arah Heri yang baru saja berbicara.


"Apa maksudmu mengatakan seperti itu, Heri?" ucap Abimayu dengan kesal.


"Ya, aku mendukung istrimu yang telah menolakmu, karena sejak dulu aku belum pernah melihat seorang wanita yang menolak dirimu, bahkan wanita yang tidak kamu kenal pun bisa menyukaimu," ucap Heri bangga sambil tersenyum, dia teringat sewaktu mereka sama-sama sekolah sarjana dengan Abimayu, banyak sekali wanita yang menyukai Abimayu. Apalagi sekarang dia menjadi seorang pengusaha yang sukses, dengan latar belakang anak seorang Kiayai tersohor, pasti tidak ada wanita lagi yang menolaknya jika dia ingin mendekati mereka.


"Heri...." Abimayu berkata sambil menekan suaranya karena menahan kesal dengan ucapan Heri.


"Makanya jadi pria jangan terlalu nernafsu, berharap punya istri dua, ternyata ke duanya meninggalkanmu, bahkan kamu di tinggalkan oleh ke duanya secara bersamaan."

__ADS_1


Heri tertawa sambil mengingatkan Abimayu tentang kebenaran yang telah terjadi.


"Keluar kamu dari ruangan-ku, Heri. Jika perlu besok kamu tidak perlu datang lagi untuk bekerja!" kesabaran Abimayu sudah habis mendengarkan perkataan Heri.


"Hemmmm baiklah, aku berhenti," ucap Heri dengan tawanya yang masih tersisa karena telah berhasil membuat Abimayu marah.


"Tapi, apa kamu menyerah begitu saja?" tanya Heri dengan serius.


"Dia benar-benar tidak menginginkan aku lagi, Heri. Melihat-ku saja dia tidak mau." Abimayu memberi penjelasan kepada Heri.


"Ckkk, dasar pria lemah. Sekarang tentu saja dia sangat membencimu, karena mungkin luka di hatinya masih ada. Tapi kamu jangan langsung menyerah, kamu harus bisa membuat dia percaya bahwa kamu benar-benar telah menyesal dengan semuanya, dan itu juga butuh waktu, bukan seperti membalik telapak tanganmu. A bi ma yu." Heri sang penasehat telah muncul.


Sedangkan Abimayu terdiam mendengarkan penjelasan Heri kepadanya.


"Aku harus bagaimana?" Abimayu bertanya seperti orang bodoh.


"Dasar pria bodoh! Kamu harus mengambil hatinya, sekarang masih ada kesempatan karena ada anak di antara kalian. Jangan sampai dia dilamar oleh pria lain kamu baru akan benar-benar menyesal."


...----------------...


Abimayu menggelengkan kepalanya, dan tanpa dia sadari dia telah sampai di depan rumah orang tua Ana. Sepulang dari perusahaan dia menyempatkan waktu untuk datang bertemu Fatimah. Meski tubuhnya terasa lelah, tapi itu akan hilang ketika dia bisa melihat wajah Fatimah yang selalu senang saat dia datang.


"Ayo Nek, kita main dulu." suara Fatimah terdengar di telinga Abimayu sebelum dia mengucapkan salam.


"Assalamualaikum," ucap Abimayu.


Fatimah yang mendengar suara Abimayu, langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk rumah.


"Abi...." terdengar suara Fatimah berteriak memanggil.


Abimayu berhenti sejenak untuk memastikan siapa yang dipanggil oleh putrinya kecilnya ini sambil melihat ke sekitarnya.


"Abi!" Fatimah kembali memanggil yang membuat Abimayu kembali melihat ke sekitar, tapi dia tidak menemukan siapapun lagi yang ada di situ selain dari dirinya.


Fatimah berlari ke arah Abimayu dengan raut wajahnya senangnya karena melihat mainan yang di pegang oleh Abimayu di tangannya.

__ADS_1


Deg


Seketika jantungnya berdetak, dia hampir saja menjatuhkan mainan yang dia pegangnya jika dia tidak mengenggamnya dengan kuat.


"Fatimah mau mainannya, Abi." Fatimah sudah merengek manja di samping Abimayu sambil memegang mainan yang juga dipegang oleh Abimayu.


Abimayu dengan perlahan menurunkan tubuhnya ke bawah dan mensejajarkan dirinya dengan Fatimah.


"Fatimah panggil paman apa, Sayang?" tanya Abimayu dengan sendu, dan tangannya kini telah memegang tubuh kecil Fatimah dengan lembut.


"A.. bi," ucap Fatimah dengan pelan sambil melihat ke arah mainan terletak di samping Abimayu.


Abimayu tidak bisa menahan rasa bahagianya, dia memeluk Fatimah hingga tubuh kecil Fatimah tidak terlihat lagi karena tertutupi oleh dirinya. Dia mendekap tubuh Fatimah dengan erat dengan perasaan bahagia bercampur sedih. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Abi..., Fatimah mau mainannya!" terdengar suara Fatimah bicara di dalam pelukan Abimayu.


"Ya, ini untuk Fatimah," ucap Abimayu dengan perasaan haru sambil melepaskan pelukannya.


Fatimah belum bisa mengerti sekali dengan apa yang terjadi sekarang ini, meskipun begitu Abimayu sudah merasa sangat bahagia karena Fatimah telah memanggilnya dengan sebutan Abi, itu berarti dirinya telah diakui oleh Fatimah sebagai orang tuanya.


Abimayu menemani Fatimah yang terus bermain, mereka sengaja di tinggalkan oleh Kiran berdua saja karena dia ingin memberikan waktu kepada Abimayu untuk bertemu Fatimah.


"Assalamualaikum.." terdengar suara mengucapkan salam dari arah luar kembali.


"Bunda...." teriak Fatimah ketika melihat Ana yang baru saja tiba.


Abimayu hanya bisa diam ditempatnya, ingin menyambut kepulangan Ana, tapi dia tidak ada hak untuk itu lagi.


Semakin Ana mendekat ke arah Fatimah, semakin kencang detak jantung Abimayu. Matanya juga tidak bisa dia palingkan dari melihat Ana.


"Bunda, Abi bawa mainan banyak," ucap Fatimah dengan polosnya kepada Ana. Sedangkan Ana sedikit terkejut mendengar panggilan Fatimah yang telah berubah kepada Abimayu.


Ana sama sekali tidak melihat ke arah Abimayu, meskipun dia tahu pria yang dulu pernah dia cintai itu berada di dekatnya. Sedangkan Abimayu masih menata debaran jantungnya yang kian berdebar tidak karuan. Seketika dia terbayang dengan ucapan Heri kepadanya, yang menyuruhnya untuk mengambil hati Ana kembali.


Mungkinkah jika dia berusaha Ana akan bisa menerimanya lagi?

__ADS_1


__ADS_2