Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 77


__ADS_3

Sejak Abimayu mendengar percakapan Ana bersama Justin, dia sudah memberi jarak untu datang ke rumah Ana. Jika dia datang melihat Fatimah, pasti dia akan meminta izin untuk membawa Fatimah ke luar, apalagi di saat hari libur bekerja, dia akan pergi seharian membawa Fatimah bersama dengannya.


Seperti hari ini, dia sudah berencana akan membawa Fatimah ke taman bermain di tengah kota, karena sekarang adalah akhir pekan.


"Ayo, Sayang. Kita berangkat!" ucap Abimayu kepada Fatimah yang telah menunggunya sejak tadi.


Di samping Fatimah juga ada Ana yang masih berdiri, dia baru selesai memperbaiki hijab Fatimah yang terlihat berantakan karena sedikit lama menunggu Abimayu datang.


Ana bisa melihat perubahan sikap Abimayu, tapi dia tidak terlalu peduli karena menurutnya itu juga baik untuk mereka agar tidak terlalu sering bertemu nantinya. Sudah sejak lama dia menginginkan ini, tapi dari sebelumnya Abimayu seperti bertahan untuk tetap bersikap demikian.


"Fatimah yang baik, ya. Dan harus dengar apa kata Abi!" Ana berkata sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Fatimah ke bawah.


"Bunda juga pergi!" ajak Fatimah kepada Ana.


"Bunda tidak bisa pergi, Sayang. Bunda kan menjaga nenek di rumah." Ana memberi alasan agar Fatimah tidak memaksanya. Beberapa hari ini alasan itu yang bisa membuat Fatimah menjadi tidak pernah memaksanya lagi ikut ketika dia pergi keluar bersama Abimayu.


"Bunda ikut," ucap Fatimah lagi yang sudah hampir menangis.


"Sayang...Bunda benar, kalau Bunda ikut, siapa yang akan menemani nenek di rumah? nanti tidak ada yang menjaga nenek." Abimayu mencoba membantu untuk membujuk Fatimah yang sudah menangis dengan kuat.


"Bunda ikut." Fatimah mengulangi perkataannya sambil terus menangis.


Abimayu sudah merasa bersalah karena Fatimah yang menangis.


"Atau kita main di rumah saja, bagaimana?" tanya Abimayu memberikan pilihan agar Fatimah bisa menghentikan tangisnya. Jika mereka bermain di rumah, maka dia masih bisa bersama Ana.

__ADS_1


Fatimah menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak setuju dengan ucapan Abimayu.


Ana menjadi bingung melihat Fatimah, Biasanya dia juga patuh dengan apa yang dikatakan Abimayu. Tapi sekarang semua alasan dan bujukan yang mereka berikan, satu pun tidak ada yang disetujui oleh Fatimah. Dia tetap ingin mereka bertiga pergi bersama ke taman bermain yang ingin dia kunjungi hari ini.


Tidak ada pilihan lain yang bisa mereka perbuat karena Fatimah juga tidak ingin berhenti menangis. Kiran mamanya Ana juga sudah menyuruh untuk mereka pergi saja karena tidak tega melihat sang cucu yang terus menangis.


...----------------...


"Maafkan, Mas. Seharusnya kamu tidak pergi ke sini." Abimayu berkata kepada Ana saat mereka sedang menunggu Fatimah yang sedang bermain. Mereka duduk si kursi panjang yang ada di taman bermain, tapi tidak saling berdekatan, dan dari situ mereka bisa melihat dan mengawasi Fatimah.


Huffff


Ana menghembuskan nafasnya sebelum menjawab perkataan Abimayu.


"Tidak masalah, mungkin dia juga ingin ditemani oleh ke dua orang tuanya saat bermain seperti anak-anak yang lain." Ana berkata dengan sedikit sedih sambil memandang lurus ke depan ke arah Fatimah yang sedang bermain dengan gembira.


Ana hanya diam mendengar bicara Abimayu.


"Kamu juga harus bahagia Ana! Kamu berhak bahagia. Mungkin karena adanya Fatimah sekarang kamu menjadi sedikit takut untuk memberi kesempatan kepada pria yang benar-benar ingin membahagiakanmu."


"Apa yang Mas Abi katakan?" tanya Ana tidak mengerti dengan maksud perkataan Abimayu.


"Kamu harus bahagia Ana. Selama hidup bersama Mas dulu, kamu tidak pernah merasakan kebahagiaan, hanya rasa sakit yang selalu Mas berikan. Kamu jangan takut untuk membuka hati lagi untuk menerima pria lain yang benar-benar tulus menyayangimu."


Deg

__ADS_1


Jantung Ana berdetak ketika Abimayu berkata begitu. Dia teringat ketika Justin datang ke rumah menyatakan niatnya. Dia tidak tahu apakah Abimayu mendengar percakapan mereka atau tidak, tapi dia bisa merasakan pada saat itu Abimayu langsung bergegas ingin pulang dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan olehnya.


"Apa Mas Abi mendengar perkataan Justin saat itu?" tanya Ana memastikan.


"Ya, maaf. Tapi Mas tidak sengaja mendengarnya." Abimayu berkata jujur bahwa dia telah mendengar percakapan mereka.


"Apa pendapat Mas Abi tentang itu?" tanya Ana lagi.


Abimayu melihat Ana di sampingnya yang duduk jauh berjarak darinya. Apa Ana tidak bisa merasakan rasa hatinya selama ini? Dia sudah berusaha untuk mencoba kembali mendekatinya, tapi Ana benar-benar tidak memberi kesempatan pada dirinya. Jika bukan karena Fatimah, mungkin dia jarang sekali bisa melihat Ana lagi.


"Mas sudah pernah meminta kepadamu untuk memperbaiki hubungan kita, dan Mas sekarang sudah menyadari bahwa itu tidak akan bisa lagi untuk diperbaiki. Mas sudah terlalu menyakitimu, sehingga tidak mungkin lagi ada kesempatan untuk Mas memeperbaikinya. Mas hanya berharap kamu bisa memaafkan Mas saat ini, dan Mas akan mundur."


"Ya, aku memang masih merasakan rasa sakit itu, apalagi ketika melihat Fatimah, dan aku juga mencoba untuk melupakan segalanya, karena aku ingin memulai hidup baru tanpa dibayangi masa lalu itu." Ana memberi penjelasan yang membuat Abimayu benar-benar yakin tidak bisa lagi mendapatkan Ana kembali.


"Mas berharap kamu bahagia dengan kehidupan baru kamu nantinya." Abimayu sudah tidak bisa menahan rasa haru di hatinya di saat mengucapkan perkataan itu kepada Ana, sehingga setitik airmata jatuh dari pelupuk matanya. Dia bergegas menghapusnya dengan satu jari tangannya.


"Apa Mas Abi tahu, aku sepertinya tidak menginginkan yang lain di dalam hidup-ku, aku hanya ingin hidup bersama Fatimah hingga dia tumbuh besar."


"Ana... Maafkan Mas jika hidup bersama Mas dulu membuat kamu takut untuk memulai kembali kehidupan barumu. Mas hanya berharap, Mas akan tetap di izinkankan bertemu dengan Fatimah jika kalian mempunyai keluarga yang baru nantinya. Kamu harus bahagia Ana, Mas yakin kamu akan mendapatkan pria yang tulus menyayangi kamu nantinya."


Abimayu merasakan sesak di dadanya, dia sepertinya sudah menyerah karena dia menyadari Ana tidak akan bisa menerimanya lagi. Selama ini dia juga sudah berusaha, tapi sepertinya Ana benar-benar tidak bisa menerimanya lagi. Dia akan mundur dan melepaskan Ana karena dia juga ingin melihat Ana bahagia meskipun tidak bersamanya lagi.


Abimayu berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Ana, dia menyusul Fatimah ke tempat di mana Fatimah bermain.


Sedangkan Ana diam duduk diam di tempatnya, dan dia bisa melihat Abimayu yang mendekat ke arah Fatimah.

__ADS_1


Apa yang di inginkan Ana telah tercapai, dia sudah menyadari bahwa selama ini Abimayu masih berusaha untuk mengambil hatinya. Tapi akhirnya dia menyerah sendiri karena Ana benar-benar tidak ingin memberikan dia kesempatan.


__ADS_2