
Hari ini Aisyah datang berkunjung ke rumah Abimayu dan Ana.
"Boleh, Mbak. Aku akan temani dan tunjukkan di mana tempatnya." Ana berkata karena Aisyah meminta tolong kepadanya untuk memberitahunya di mana toko yang menyediakan barang yang ingin dia cari. Barang itu merupakan untuk persiapan pernikahan Abimayu dan Nayla.
"Maaf, kalau Mbak telah merepotkanmu." Aisyah berkata segan kepada Ana.
"Tidak masalah Mbak. Aku juga sudah memyetujuinya, jadi sekarang aku tidak berhak untuk marah.
Mendengar itu Aisyah sedikit terharu melihat ketegaran hati Ana. Meskipun mereka melihat sikap Ana yang angkuh, tapi di saat begini mereka juga bisa terharu melihat ketegaran hati Ana untuk menyetujui suaminya menikah lagi dengan perempuan lain.
"Mbak Aisy duduk di depan saja! Biar aku duduk di kursi belakang." Ana menghentikan Aisyah yang ingin masuk ke dalam mobil.
"Tapi...."
"Tidak apa-apa Mbak, ayo!" Ana menarik tangan Aisyah lalu membukakan pintu depan mobil dan menyuruh Aisyah masuk ke dalam.
Mereka pergi dengan menggunakan mobil Abimayu, karena pulang dari belanja mereka akan singgah di butik Ana untuk melihat pakaian pengantin bersama Nayla.
Abimayu sudah memberitahu Nayla perihal pakaian pengantin yang akan digunakan mereka nantinya, dan Nayla menyetujui jika mereka akan memakai pakaian yang telah ditawarkan oleh Ana. Bahkan Nayla mengatakan ingin rancangan gaun pengantin yang baru untuknya dari butik Ana.
Dalam perjalanan, suasana di dalam mobil mereka sangat tenang, tidak ada satu orang pun dari mereka yang memulai untuk bicara.
Tapi dalam keheningan itu, ada satu orang yang hatinya merasa tak menentu, dia adalah Abimayu. Sesekali dia melihat Ana di belakang melalui kaca mobil yang ada di depan tidak jauh dari kepalanya. Ana tidak bisa bisa melihat itu, karena dia selalu mengarahkan kepalanya ke arah samping kaca jendela mobil untuk melihat ke luar jendela. Sedangkan Aisyah, bisa melihat apa yang dilakukan oleh saudaranya itu sejak tadi. Dia melihat Abimayu sedikit gelisah, dan pandangannya tidak lepas dari melihat Ana di belakang.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang mereka tuju, Abimayu mencoba berjalan beriringan dengan Ana, tapi Ana terlihat menghindar darinya. Dia akan menjauh dan mendekat ke arah Aisyah ketika Abimayu mendekat ke arahnya.
"Ehmmm bagaiman jika dengan yang ini?" tanya Aisyah kepada Ana saat memilih satu potong pakaian.
"Itu juga bagus." Ana menjawab dengan santai, dan tidak ada rasa marah di hatinya saat Aisyah bertanya tentang pendapatnya saat membelikan sebuah pakaian untuk Nayla. ..
Selesai dengan berbelanja, mereka singgah untuk makan siang di restoran, Ana kembali memilih duduk berdekatan dengan Aisyah, dan menjauh darinya.
"Abi, kamu makan dengan tenang dulu! Nanti Ana juga akan kembali ke sini." Aisyah menegur Abimayu yang sejak tadi terus melihat ke arah di mana Ana berada, karena baru saja pesanan mereka tiba, Ana minta izin untuk pergi meninggalkan mereka berdua karena dia ingin menjawab panggilan seseorang yang tidak bisa dia abaikan.
"Kenapa dia lama sekali? Tidak bisakah dia mengatakan untuk menghabiskan makanannya lebih dulu?" Abimayu bahkan bertanya kepada Aisyah, padahal dia juga tidak tahu jawabnnya.
Aisyah hanya tersenyum melihat sikap Abimayu itu, dan dia bisa melihat ada kekhawatiran pada diri Abimayu sekarang ini.
Mendengar itu, Abimayu kembali melanjutkan makannya yang tertunda. Tapi, dia tetap menggerakkan kepalanya dan melihat ke arah Ana yang sekarang tidak terlihat lagi dipandangan mereka. Ana mengambil tempat yang terlalu jauh untuk menjawab panggilan itu.
Saat Aisyah dan Abimayu telah menyelesaikan makanannya, barulah Ana terlihat kembali di hadapan mereka.
Melihat Aisyah dan Abimayu telah menghabiskan makanannya, Ana tidak berselera lagi untuk makan. Dia sudah merasa kenyang melihat makananannya yang masih utuh di atas meja.
"Ayo kita pergi!" ajak Ana.
Aisyah dan Abimayu heran melihat Ana yang tidak duduk di kursi setelah kembali, dan bahkan mengajak mereka untuk pergi.
__ADS_1
"Kamu belum memakan makanannya," ucap Aisyah dengan suara lembutnya.
"Aku tidak berselera lagi untuk memakannya."
"Tidak! Jika kamu tidak makan, kita tidak akan pergi dari sini!" Suara lelaki Abimayu terdengar membenarkan perkataan saudaranya Aisyah sambil melihat ke arah Ana yang masih berdiri.
"Aku benar-benar tidak merasa lapar lagi saat ini."
"Sekarang, bukan masalah kamu lapar atau tidak, tapi kamu harus makan karena sudah waktunya makan siang!"
Akhirnya Ana duduk di kursinya dan menyuap makanan ke dalam mulutnya. Dia tidak ingin berdebat dengan Abimayu saat ini, mendengar suara Abimayu saja dia merasa sangat tidak suka apalagi harus berdebat dengannya.
Di saat Ana makan, Aisyah minta izin pergi ke toilet dan meninggalkan mereka berdua. Ana makan dengan sangat pelan, sesekali dia menghentikan makanannya untuk menggeser rambutnya yang tergirai ke arah belakang, karena itu sedikit menganggu pergerakannya. Semua itu tidak lepas dari penglihatan Abimayu, dan dia melihat dengan tajam apa yang dilakukan Ana itu.
Lama Abimayu melihat Ana yang sedang menghabiskan makanannya, dan Ana tidak peduli kepadanya. Dia hanya menikmati makanannya tanpa ingin melihat ke arah Abimayu yang berada di samping sedikit jauh dari nya. Sebab dia duduk di antara Abimayu dan Aisyah, tapi dia lebih mendekat ke arah Aisyah.
"Jika sedang makan begini, seharusnya kamu mengikat ini dulu supaya kamu bisa makan dengan tenang." Abimayu tiba-tiba telah berdiri di belakang Ana dan mengikatkan rambutnya yang tergirai karena sejak tadi dia melihat Ana yang kesusahan menyuap makanannya karena rambutnya yang berserakan.
"Apa yang Mas Abi lakukan?" tanya Ana karena tanpa dia sadari Abimayu telah berada di belakangnya.
"Jika kamu makan sambil mengurus rambutmu, maka kita akan pergi dari restoran sini sekitar dua jam lagi." Abimayu berkata sambil kembali duduk ke kursinya karena telah selesai mengikat rambut Ana.
"Ayo kita pergi sekarang!" ajak Ana yang sudah berdiri dari tempat duduknya lagi, dan berjalan pergi meninggalkan Abimayu tanpa sempat lagi ditahan olehnya. Akhirnya Abimayu mengikuti Ana yang berjalan di depannya dan jika dia tetap memaksa, maka dia dan Ana akan berdebat di restoran ini.
__ADS_1
Di perjalanan menuju mobil, Abimayu melihat Ana yang membuka ikatan rambutnya dengan kasar dan membuang benda yang sengaja diikatkan oleh Abimayu ke rambutnya. Sebenarnya, Abimayu hanya bermaksud untuk memudahkan Ana agar tidak terganggu saat makan dengan rambutnya. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa melakukan itu, karena saat melihat Ana seperti kesusahan saat memakan makanannya, dia hanya ingin membantu agar Ana tidak kesusahan lagi karena rambutnya yang tergirai.