
"Kapan akan selesai?" tanya Abimayu kepada Heri, karena mereka belum pulang dari perusahaan.
"Mungkin sekitar satu jam lagi." Heri menjawab.
Heuuffff
Abimayu terdengar menghela nafasnya dengan pelan, sesekali dia terus melihat ke arah ponselnya.
"Kamu sangat keras kepala. Jika kamu memang menunggu pesan darinya, kenapa kamu tidak langsung menghubunginya saja?" Heri kembali menggoda Abimayu yang dia lihat masih saja seperti sedang menunggu sesuatu dari ponselnya.
"selesaikan saja pekerjaanmu dengan cepat."
"Jika kamu terus menunggu dan tidak menghubunginya, maka kamu tidak akan tahu keadaannya." Heri sang penasehat sudah bicara kembali.
"Baiklah, aku akan pergi dan meninggalkan semuanya kepadamu." Abimayu sudah mengancam Heri.
"Baiklah, aku akan berhenti," ucap Heri mengalah.
...----------------...
Pukul 10 malam Abimayu baru tiba di rumah karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang sudah menumpuk bersama. Sampai sekarang perasaannya masih sedikit terasa tidak tenang karena Ana sama sekali tidak membalas pesannya.
Dug dug dug dug
Abimayu disambut dengan suara musik yang sangat keras ketika membuka pintu rumahnya.
"Yeee..... ayo kita bersenang-senang hari ini! Huuuu." terdengar sorak gembira begitu ramai di dalam rumahnya.
"Ayo bersulang!"
Tringg
Abimayu melebarkan bola matanya menatap setiap orang yang begitu ramai sedang berpesta di rumah mereka dengan kerlap kerlip lampu yang membuat dia sedikit pusing melihatnya. Ditambah dengan beberapa orang wanita yang berpenampilan seksi dengan rambut yang berwarna semua.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, ha?" Abimayu sudah berjalan melewati beberapa orang yang sedang bergoyang menikmati musik dan menghampiri Ana yang duduk di sudut ruangan sambil tersenyum melihat ke arah temannya menikmati pesta yang dia adakan.
"Ha, apa?" Ana sedikit berteriak karena suara Abimayu di telan oleh musik yang sangat kuat.
"Hentikan semua ini!" Abimayu juga ikut berteriak kepada Ana agar Ana bisa mendengar suaranya.
"Apa? Aku tidak mendengarnya!" Ana kembali berteriak dan mendekatkan wajahnya kepada Abimayu sambil tersenyum samar yang tidak bisa dilihat oleh Abimayu.
Abimayu melihat ke sekeliling lagi, beberapa orang sedang berjoged dan sebagian lagi sedang menikmati segelas air di tangan mereka yang dia tidak tahu itu air apa. lalu dengan langkah sedikit cepat, Abimayu menghampiri tempat dari mana suara musik itu berada.
Tiba-tiba suara musik yang keras berhenti karena Abimayu memutus kabel pada alat musik yang mengeluarkan suara itu.
Semua yang berada di ruangan itu berhenti seketika dan melihat ke arah Abimayu. Mereka tidak menyadari jika Abimayu telah berada di tengah-tengah mereka karena sedang menikmati musik. Mereka juga menatap Abimayu dengan heran.
"Sudahi pesta kalian!" Ucap Abimayu sedikit kuat.
Abimayu berkata untuk semua orang yang berada di rumahnya, agar menyudahi pesta itu dan pergi dari rumahnya. Dia benar-benar tidak tahan melihat mereka semuanya.
"Tidak boleh begitu, Mas. Kami baru saja memulai pestanya." Suara Ana terdengar untuk melawan Abimayu.
"Aku tidak gila, Mas. Kami hanya berpesta. Mana ada orang yang berpesta disebut gila."
"Tidak! Sekarang suruh para temanmu untuk kembali."
"Aku tidak ingin. Kami akan melanjutkan pestanya. Ayo semuanya lanjutkan saja pestanya." Ana tidak mempedulikan larangan Abimayu kepadanya.
"Jika melihatmu yang keras kepala begini. Mungkin aku lebih baik untuk mempercepat pernikahan-ku!" Abimayu berkata dan mampu membuat Ana menghentikan aksinya.
"Apa maksud Mas Abi?" tanya Ana sambil melihat Abimayu dengan pandangannya yang tajam. Abimayu kembali membahas sesuatu yang sangat dia benci.
"Maksudku, jika aku sudah menikah, aku bisa tenang, aku bisa pergi kepadanya tanpa harus menyaksikan kelakuan burukmu ini!" Abimayu menjawab dan membalas tatapan Ana dengan tidak kalah tajamnya.
Semua orang yang berada di rumah itu hanya bisa diam dan menyaksikan pertengkaran di antara mereka.
__ADS_1
"Aku sudah bilang, tidak akan mengizinkan Mas Abi menikah lagi!" Ana kembali berkata untuk mempertahankan prinsipnya, karena sampai kapan pun dia tidak akan mengizinkannya.
"Terserah padamu. Aku juga tidak meminta persetujuanmu, aku hanya memberitahumu!" Abimayu sudah berbalik dan pergi naik ke lantai atas meninggalkan Ana bersama temannya.
Awalnya dia ingin memastikan keadaan pipi Ana yang sejak tadi dia fikirkan, tapi ketika sampai di rumah, dia bahkan menemukan suatu kejadian yang membuat rasa simpatinya kepada Ana menghilang tanpa jejak.
"Berhenti, Mas Abi!" Suara Ana terdengar jelas kepada Abimayu karena ternyata Ana mengikutinya dari belakang menuju kamarnya.
"Mas Abi tidak boleh menikah! Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah menyetujuinya!" lanjut Ana bicara dan berdiri di hadapan Abimayu untuk menghentikannya masuk ke dalam kamarnya.
"Aku juga sudah mengatakan, aku tidak meminta izin darimu, tapi aku memberitahumu!" Abimayu berkata dengan tegas untuk lebih memperjelas kepada Ana.
"Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi sampai kapan pun! Aku akan beri tahu kepada umi jika Mas Abi terus melakukannya" Ana mencoba mengancam Abimayu dengan cara akan mengatakan kepada orang tuanya.
Abimayu tersenyum seperti mengejek Ana, dan itu membuat Ana merasa kesal.
"Silahkan saja! Itu juga tidak akan berarti apa-apa karena mereka juga sudah mengetahuinya." Jujur Abimayu kepada Ana, lalu masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Ana yang berdiri terdiam.
Ana tidak menyangka bahwa semua orang telah mengetahui tentang Abimayu yang akan menikah lagi. Sungguh hatinya sangat sakit, karena sepertinya semua orang telah menyetujui jika Abimayu akan menikah lagi. Sedangkan dia, tidak ada yang berpihak kepadanya.
Ana kembali menyeret langkah kakinya turun ke bawah dan bergabung kembali bersama para temannya yang masih tetap berada di rumah itu.
"Ayo, lanjutkan saja pestanya." Ana berkata kepada semua orang yang masih berada di situ.
"Ayo, lanjutkan saja, jangan peduli dengannya. Dia memang orang yang tidak suka keramain." Ana memberitahu.
Sekarang Ana tidak hanya duduk melihat temanya yang berpesta seperti saat tadi. Tapi dia ikut berjoged bersama mereka untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya. Dia ingin menikmati pesta yang telah dia buat sendiri dan tidak peduli jika Abimayu akan memarahinya lagi.
"Huuuuuu Ayo nyalakan lagi musiknya, dan lebih keraskan lagi." Ana berteriak sekuat-kuat nya karena suaranya juga sudah bersatu dengan suara musik yang keras.
Ana terus meliuka-liukkan tubuhnya, tapi dia memilih berjoged dengan teman wanitanya, bukan dengan pria yang ada di situ.
Seberapa kuat dia mencoba menghilangkan sesak di dadanya, tapi rasa sakit itu tetap terus menyakiti hatinya saat ini.
__ADS_1
Sedangkan di kamarnya, Abimayu mencoba menutup telinga dengan kedua tangannya. Suara musik dari lantai bawah terdengar sampai ke kamarnya yang membuat dia tidak bisa beristirahat dengan tenang.