Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 76


__ADS_3

"Assalamualaikum nenek." Suara ceria Fatimah mengucapkan salam ketika mereka tiba di rumah.


"Waalaikumsalam." Kiran menyambut kedatangan anak dan cucu nya itu kembali. Kemarin dia sempat khawatir sebelum Ana memberi kabar bahwa mereka menginap di rumah Umi Aida.


"Ma, aku ke kamar dulu." Ana berkata karena merasa lelah dan ingin langsung istirahat setelah dia menyalami sang mama. Sedangkan Fatimah si gadis kecil yang sangat suka bermain itu dia tinggalkan bersama sang nenek.


Ana berjalan masuk ke dalam kamarnya, lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


Saat ini hati Ana sedang dilanda gelisah mengingat hubungan Fatimah dan sang ayah yang semakin dekat. Dia tidak mempermasalahkan tentang kedekatan mereka, tapi karena dia akan tetap ikut terseret ke dalam hubungan itu karena putri kecilnya yang belum mengerti keadaan mereka sama sekali.


Jika bukan karena Fatimah, Ana mungkin tidak akan pernah mau menampakkan diri kepada Abimayu lagi. Bukan karena dia membenci, tapi dia ingin memadamkan rasa getaran di hatinya yang masih saja berdebar ketika bertemu dengan Abimayu. Ternyata perasaan nya yang dulu belum bisa dia hapus sepenuhnya, apalagi dia sekarang lebih sering bertemu dengan Abimayu.


Ting


Terdengar suara bunyi ponselnya


"Assalamualaikum Ana. Aku Justin. Apa kabar? "


Membaca pesan itu, Ana mengerutkan keningnya. Dia heran kenapa Justin bisa tahu nomor ponselnya, padahal selama kembali dia tidak pernah memberikan nomornya kepada siapapun kecuali orang terdekatnya.


"Waalaikumsalam, alhamdulillah aku baik."


Ana membalas pesan Justin, tapi dia tidak ingin bertanya apapun, hanya membalas apa yang ditanya Justin kepadanya. Dia tidak ingin berlarut dalam berbalas pesan nantinya bersama Justin.


"Apa boleh aku menemuimu? Ada yang aku ingin bicarakan denganmu."


Justin kembali mengirim pesan, Ana semakin bingung dibuat Justin dan bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan Justin dengannya. Selain itu, Justin seperti sangat berbeda dan Ana bisa melihat dari pesan yang dia kirim.


"Jika boleh, aku akan menemuimu di rumah! "


Ana tidak tahu apa maksud Justin saat ini, tapi mengingat dulu dia berteman dekat dengan Justin dan sering datang juga ke rumahnya, Ana akhirnya mengizinkan Justin untuk datang.


...----------------...


"Apa kamu sudah menyerah untuk mengejar istrimu?" tanya Heri saat mereka ingin pulang dari perusahaan sore harinya.

__ADS_1


Abimayu mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Heri yang tiba-tiba.


"Aku sedang berjuang sekarang, Heri."


"Lalu, siapa wanita bercadar yang mengantarmu tadi pagi? Apa itu istri barumu, dan kamu sudah melupakan ibu dari anakmu itu?" tanya Heri lagi, karena tadi pagi dia sempat melihat seorang wanita bercadar keluar dari mobil yang sama dengan Abimayu.


"Dia Ana," jawab Abimayu yang membuat Heri terkejut sampai matanya dia buka dengan lebar.


"Ya, dia Ana. Istri yang dulu aku sakiti dan abaikan," lanjut Abimayu berkata sendu.


"Kamu jangan menyerah dulu, jika kamu benar-benar tulus kepadanya, pasti ada cara yang akan membuat kalian bisa kembali lagi, dan jika tidak bisa itu berarti sudah jalan yang terbaik untuk kalian." Heri berkata dengan serius sambil menepuk pundak Abimayu, saat ini dia tidak berani untuk mengolok Abimayu karena melihat raut wajah Abimayu yang sendu.


"Ya, sekarang lepaskan tanganmu dari pundakku! Aku sedikit geli melihat kamu yang terlalu rapat denganku."


Heri melihat kesamping dan menyadari bahwa saat ini jarak mereka sangat dekat, jika ada seseorang yang melihat, mereka bisa akan salah paham.


Heri tersenyum lebar menampakkan deretan giginya kepada Abimayu dan semakin mendekatkan lagi dirinya.


"Heriiiii," Gumam Abimayu menahan kesalnya.


"Ini untuk Fatimah." Kata Abimayu saat dia telah sampai ke rumah orang tua Ana.


"Ini untuk Bunda," lanjut Abimayu menenteng satu plastik lagi di tangannya.


"Yeee, Bunda... ini untuk Bunda." Fatimah berlari menghampiri Ana yang sedang turun dari atas tangga sambil membawa hadiah yang diberikan Abimayu kepada Ana, dia ingin Ana segera memberikan kepada Ana hadiah dari sang ayah.


Ana belum menerima plastik yang diberikan oleh Fatimah kepadanya. Dia lebih dulu melihat ke arah Abimayu yang berpura sedang membuka plastik mainan yang dibawanya untuk Fatimah.


"Ambil Bunda! Ini dari Abi untuk Bunda." Fatimah terus memaksa Ana untuk mengambil plastik yang ada di tangannya, karena Ana sama sekali belum menerimanya. Dia tidak tahu bahwa sang ibu sedang menahan gejolak di hati nya.


Ana akhirnya mengambil plastik dari tangan Fatimah karena dia terus berusaha sebelum dia mengambilnya, dab sambil masih melihat tajam ke arah Abimayu yang tetap sibuk berpura dengan mainan yang dia bawa untuk Fatimah.


Fatimah kembali berlari ke arah Abimayu, dan dengan cepat Abimayu membawa Fatimah bermain ke tempat yang lain untuk menghindar dari Ana. Dia takut Ana akan menolak pemberian darinya. Dia hanya ingin membelikan hadiah untuk Ana, dan tidak ada maksud yang lainnya.


Sedangkan Ana masih berdiri di tangga melihat anak dan ayah itu pergi meninggalkannya. Ana tidak memahami dengan yang dilakukan Abimayu saat ini, dia merasa Abimayu sekarang datang tidak hanya untuk menemui Fatimah, tapi ada maksud lain yang disembunyikan Abimayu.

__ADS_1


Ana hanya bisa menarik nafas, lalu berjalan menuju ruang tamu karena dia akan menunggu kedatangan Justin.


...----------------...


Ana sudah berada di ruang tamu bersama mamanya dan juga Justin yang telah berjanji akan datang menemui Ana.


"Tante senang melihat kamu sekarang, Justin. Tidak di sangka kamu sudah jadi pengusaha sukses." Kiran memuji Justin yang duduk di sofa berseberangan dengan dia dan Ana.


"Terima kasih, Tante," ucap Justin sambil melirik ke arah Ana yang masih terdiam.


"Apa kabar, Ana?" lanjut Justin bicara.


"Aku baik, Justin. Apa sebenarnya yang ingin kamu bicarakan dengan-ku? Kamu seperti berbeda dari biasanya?"


Gaya Ana bicara masih seperti dulu terhadap Justin, karena Justin memang teman baiknya sejak dulu bersama Risa.


"Maaf kalau kedatangan-ku membuat kamu terkejut, aku sudah pernah melihatmu diwaktu paman Ardi meninggal, tapi aku tidak sempat menyapa kamu," jelas Ardi. Ternyata dia juga bisa mengenali kedatangan Ana saat itu, meskipun Ana telah memakai cadar.


Ehmmmm


Ana hanya bergumam pelan.


"Aku datang ke sini ingin menyampaikan niat-ku. Jika kamu bersedia, aku ingin melamar kamu, Ana."


Mata ana terlihat membesar karena sangat terkejut mendengar perkataan Justin.


Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini, dan dia tidak bisa berfikir dengan baik. Apa maksud Justin yang tiba-tiba saja datang melamarnya? Sedangkan dulu dia tidak pernah sekali pun menanggapi bahkan sudah menolak Justin ketika menyatakan rasa sukanya.


"Justin..."


"Aku tidak memaksa Ana, tapi aku meminta kamu untuk memikirkannya dulu." Justin langsung menghentikan ucapan Ana.


"Aku akan tetap menerima apapun keputusanmu nantinya!"


Ana menjadi bingung saat ini, kenapa Justin tiba-tiba saja berani datang untuk melamarnya?

__ADS_1


Di tengah percakapan mereka di ruang tamu, Abimayu tidak sengaja mendengar apa yang mereka bicarakan di saat dia ingin berpamitan pulang.


__ADS_2