
Ana tidak tahan melihat Abimayu yang terlalu memohon, hingga Abimayu merendahkan dirinya untuk meminta maaf kepadanya.
"Ayo berdiri, Mas! Jangan seperti ini, aku juga bukan orang yang pantas diperlakukan seperti ini." Ana berkata dengan perasaan sesak di dadanya.
"Maafkan Mas, Ana." Abimayu kembali meminta maaf.
"Aku juga bukan orang yang baik dulunya, Mas. Jadi aku tidak berhak untuk menilai orang lain bersalah kepadaku. Sekarang, aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang bersama apa yang masih aku punya sekarang, dan untuk cerita masa lalu itu, biarlah dia hanya menjadi cerita yang mungkin di simpan rapi di dalam fikiran. Kita jalani saja kehidupan masing-masing, dan untuk Fatimah, aku juga sudah memberikan izin kepada Mas untuk bisa menemuinya."
Abimayu kembali berdiri setelah mendengar perkataan Ana. Dia tahu, luka yang dia goreskan di hatinya sangat lah dalam, sehingga tidak ada kesempatan baginya lagi untuk bisa kembali kepada Ana.
"Ya, maafkan Mas jika terlalu memaksa kamu untuk menerima, seandainya Mas merasakan apa yang kamu rasa, mungkin Mas juga belum tentu bisa menerimanya." Abimayu berkata sambil melihat wajah Ana dengan sendu.
"Aku juga minta maaf, jika selama menjadi istri Mas Abi, aku menjadi istri yang durhaka dan tidak mendengar apa yang Mas Abi katakan."
Abimayu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Tidak, Ana! Kamu bukan istri yang seperti itu, mungkin Mas lah yang terlalu kasar menjadi seorang suami, bahkan Mas sanggup menuduh kamu berbuat sesuatu yang tidak pernah sama sekali kamu lakukan."
"Lupakan saja, Mas. Mungkin itu juga teguran terhadap-ku. Jika tidak ada cerita kita yang begitu, mungkin selamanya aku akan menjadi orang yang merugi, menjadi orang yang terlalu jauh dari ajaran agama. Aku bersyukur, di balik semua yang terjadi, aku bisa mendapatkan hikmah dari semuanya."
"Ya, Mas juga menyadari itu, karena kejadian kita inilah Mas mendapatkan banyak pelajaran. Selama ini Mas juga terlalu sibuk dengan dunia kerja, sehingga melupakan untuk belajar tentang hal mendasar yang harus di miliki untuk menopang diri dari berbagai macam bara kehidupan."
Akhirnya Ana dan Abimayu sama-sama saling memaafkan dan melupakan kisah lalu, meski mereka tidak bersama lagi.
Sekarang hanya karena Fatimah lah yang nantinya akan membuat mereka bisa bertemu, jika tidak ada Fatimah di antara mereka, mungkin Ana tidak akan pernah bisa dia lihat lagi.
...----------------...
"Fatimaaah..." panggil Ana kepada putri kecilnya ketika mereka sudah ingin tidur di malam harinya.
__ADS_1
"Iya, Bunda." Fatimah menyahut Ana dengan suara lucunya.
"Ehmmmm apa Fatimah suka dengan paman yang memberi Fatimah mainan yang banyak itu?" tanya Ana kepada Fatimah untuk memastikan perasaan putri kecilnya ini ketika bertemu dengan sang ayah yang tidak dia ketahui.
"He em, " Fatimah berkata.
"Apa itu jawaban yang bagus kalau Bunda bertanya?" Ana menegur Fatimah yang menjawab pertanyaan dengan bergumam saja.
"Maaf, Bunda."
"Ya, Fatimah senang?" tanya Ana sekali lagi.
"Iya Bunda."
"Apa Fatimah bisa panggil paman itu dengan ayah?" Ana bertanya lagi sambil mengelus rambut Fatimah dengan pelan.
"Ayah itu apa, Bunda?" Fatimah bertanya dengan polosnya, karena dia hampir tidak pernah mendengar kata ayah ketika mereka tinggal di pesantren.
"Abi?" ucap Fatimah, dia masih merasa bingung karena belum mengerti dengan semuanya. Tapi Ana ingin memberitahu Fatimah secara perlahan agar dia bisa mengenal orang tuanya sendiri, meskipun nantinya mereka tidak akan bersama.
"Paman itu abi nya Fatimah." Ana berkata dengan sendu, karena tiba-tiba saja dia merasakan sesak di dada nya ketika memberitahu bahwa Abimayu adalah ayah dari Fatimah.
"Sekarang tidur, ya!" Ana menyuruh Fatimah untuk tidur.
Tanpa menunggu waktu yang lama, Fatimah sudah tertidur, mungkin karena dia merasa lelah karena seharian ini hampir dia habiskan dengan bermain bersama Abimayu. Ketika Fatimah bermain bersama Abimayu, dia bisa melihat betapa bahagianya Fatimah, karena selama ini dia jarang mendapatkan perhatian yang begitu besar dari seorang pria dewasa. Meskipun sewaktu tinggal di pesantren suami Sarah juga sangat perhatian kepadanya karena dia sering bermain bersama Hawa. Tapi tetap ada perbedaan yang terlihat saat dia bersama Abimayu.
Ana belum merasa mengantuk saat ini, lalu dia memutuskan untuk turun ke bawah karena dia juga merasa lapar.
Saat dia turun ke bawah, dia menemukan sang mama sedang duduk sendirian di ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur, Ma?" tanya Ana saat dia mendekat ke arah ruang tamu.
"Mama masih belum mengantuk, Sayang." Kiran menjawab.
"Ehmmm apa Mama teringat dengan papa?" tanya Ana menebak alasan mamanya yang mengatakan bahwa dia belum mengantuk.
Kiran menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan perkataan Ana.
"Bagaimana dengan kamu, Sayang?" sekarang Kiran yang bertanya kepada Ana.
"Aku juga belum bisa tidur, Ma." Ana menjawab sambil menghela nafasnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya. Dia ingin bermanja lagi dengan sang mama, meski dia telah memiliki seorang anak.
"Apa kamu memikirkan Abimayu?" Kiran membalik pertanyaan kepada Ana.
Ana tidak menjawabnya, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa keputusan kamu tentang hubungan kalian, hem?" tanya Kiran sambil menyisir rambut Ana dengan jarinya.
"Keputusan apa, Ma? Kami memang seharusnya sudah dari dulu tidak bersama, sebelum Mas Abi memutuskan untuk menikah dengan Nayla. Sekarang itu sudah terwujud, jadi tidak perlu ada yang mesti di perbaiki lagi." Ana memberikan jawaban dari pertanyaan mama nya.
"Bagaiman dengan Fatimah, Sayang?" Kiran memikirkan cucu nya yang sama sekali tidak tahu tentang orang tuanya.
"Mas Abi sudah aku izinkan bertemu dengannya, Ma. Dia boleh bertemu dengan Fatimah dalam beberapa hari. Nanti juga Fatimah akan mengerti keadaan itu jika dia sudah beranjak menjadi besar." Ana berkata dengan yakin atas keputusannya.
"Ya, mama hanya terfikirkan dengan Fatimah," ucap Kiran dengan sendu.
"Aku masih belum bisa jadi orang yang baik, Ma. Jika aku terus memaksa untuk menerima Mas Abi lagi, aku takut setiap hari akan menambah dosa-ku karena hati-ku yang masih belum bisa menghapus semua kisah lalu di antara kami. Aku sudah mencoba untuk tidak mengingatnya, Ma. Tapi di saat aku melihatnya secara langsung, hati-ku masih menyimpan rasa benci. Aku takut, Ma. Jika kebersamaan kami nantinya membuat aku menjadi orang yang membenci setiap saat karena masih belum bisa mengendalikan diri jika melihat Mas Abi."
"Mama tahu, Sayang. Mama juga merasa bersalah dengan kamu, karena dulu mama tidak percaya dengan apa yang kamu katakan." Kiran megang pipi Risa mengingat dia pernah menampar pipi itu dengan tangannya.
__ADS_1
"Ma, mama tidak bersalah. Aku saja yang dulu nya jadi anak yang tidak mendengar apa kata orang tua." Ana membantah ucapan Kiran, karena dia tidak ingin mama nya merasa bersalah lagi kepadanya.
Mereka bercerita hingga larut malam yang akhirnya membuat mata mereka mengantuk dan pergi tidur ke kamar masing-masing.