Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 62


__ADS_3

4 tahun kemudian


Jauh di sebuah sudut kota yang berbeda, seorang wanita menggunakan pakaian tertutup serta dilengkapi dengan cadar di wajahnya sedang berjalan beriringan dengan seorang putri kecilnya menuju sebuah rumah sambil membawa plastik besar di tangannya.


"Bunda, kenapa tadi banyak orang tidak memakai jilbab? Kata bunda, perempuan itu rambutnya tidak boleh kelihatan dan harus ditutup? seperti Fatimah." tanya putri kecil itu yang terus memegang jemari bundanya sebelah kanan sambil berjalan.


Wanita itu tersenyum dibalik cadarnya, sungguh putri kecilnya ini selalu bertanya jika melihat sesuatu yang terasa janggal di hatinya.


"Fatimaaaah, di luar sana tidak semua orang mempunyai keyakinan yang sama dengan kita, mungkin orang yang Fatimah lihat tadi berbeda keyakinan dengan kita. Juga mungkin orang itu masih merasa tidak nyaman kalau memakai hijab. sedangkan kita, Bunda dan Fatimah adalah seorang muslim, dalam agama kita diwajibkan untuk memakai hijab bagi perempuan. Teruuuuusss Fatimah anak Bunda juga senang kalau pakai hijab, iya kan?" wanita itu bertanya lagi kepada putri kecilnya.


"Iya bunda, kata Bunda Fatimah akan dapat pahala kalau memakai jilbab," ucap putri kecil itu dengan bahagia.


"Fatimah benar, Fatimah anak pintar." Puji wanita itu kepada putri kecilnya.


Wanita itu kembali tersenyum ketika putrinya telah memahami apa yang pernah dia katakan dan ajarkan selama ini.


Mereka terus berjalan hingga sampai di depan pintu rumah yang mereka tuju, dan itu adalah sebuah rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka.


"Fatimaaaaaah!"


Terdengar suara memanggil nama gadis kecil itu dari arah belakang.


"Kak Hawaaaaaaa." Gadis kecil itu langsung berlari ke arah orang yang memanggilnya saat dia berbalik.

__ADS_1


"Kak Hawa pulang?" pertanyaan gadis kecil itu membuat mereka yang mendengar menjadi bingung, karena dia bertanya dengan kata yang ambigu.


"Iya, Sayang. Kak Hawa sudah pulang, sekarang kalian boleh bermain lagi." Kata seorang wanita yang bersama dengan anak yang bernama Hawa itu. Dia tetap mengerti apa yang di maksud oleh gadis kecil bernama Fatimah itu.


"Yeeee, senang, senang," ucap gadis kecil itu karena terlalu bahagia.


"Kapan kembali, Kak Sarah?" tanya wanita bercadar itu.


"Beberapa menit yang lalu, Sya. Hawa terus mengajak ke sini karena ingin bermain dengan Fatimah," ucap orang yang bernama sarah itu kepada wanita bercadar yang dipanggilnya dengan Tasya.


Ya, wanita bercadar itu adalah Ana, Anastasya. Sekarang dia menamakan dirinya dengan Tasya.


Empat tahun yang lalu, dia bertemu dengan sarah. Saat itu Sarah menolongnya ketika dia ingin dilecehkan oleh seorang pria saat ingin pulang kembali ke kotanya. Dia merasakan trauma yang besar, sehingga dia tidak mengizinkan Sarah untuk meninggalkannya. pada Akhirnya Sarah membawanya pulang ke rumahnya, dan ternyata Sarah tinggal jauh di sudut kota di sebuah pesantren.


"Kakak bawa sesuatu untuk kamu." Sarah memberikan sebuah plastik kecil untuk Ana.


"Bukan apa-apa, itu hanya oleh-oleh buat kamu, Itu buatan mertua Kakak, kamu pasti suka karena itu makanan dari kota kamu," jawab Sarah mengingatkan Ana dengan tempat tinggalnya yang sudah beberapa tahun dia tinggalkan dan tidak pernah kembali.


Sarah selalu membawakan Ana makanan jika dia pergi ke luar kota berkunjung ke rumah mertua dari almarhum suaminya yang pertama. Sekarang Sarah sudah menikah lagi dengan seorang Ustad dan mereka mengambil alih untuk mengelola pesantren peninggalan almarhum suaminya dulu. Ana hanya tahu itu, karena dia tidak ingin terlalu banyak bertanya tentang kehidupan Sarah, baginya dia sudah merasa bersyukur karena Sarah telah membantunya selama ini. Meskipun dia masih mempunyai keluarga, tapi dia belum bisa untuk bertemu mereka lagi saat ini.


"Kak Sarah, aku tidak ingin merepotkan, Kakak sudah ban...,"


"Jangan pernah berkata begitu lagi, Kakak pergi dulu." Sarah langsung memotong ucapan Ana.

__ADS_1


Sarah pergi sambil mengucapkan salam dan meninggalkan Ana yang masih berdiri di depan pintu rumahnya dengan perasaannya yang selalu sendu mengingat kebaikan Sarah kepadanya.


...----------------...


Di tempat lain


"Umi....apa Abi tidak akan bertemu dengan Ana lagi selamanya?" tanya Abimayu kepada uminya.


Sekarang dia memilih tinggal di pesantren bersama orang tuanya, jika dia tinggal di rumahnya akan membuat dadanya sesak, karena selalu teringat akan Ana di situ.


"Kamu jangan berputus asa, terus saja berdoa dan minta kepada Allah supaya kamu dipertemukan kembali dengan Ana." Umi Aida berkata menjawab pertanyaan Abimayu, karena dia sangat mengerti bahwa sekarang Abimayu sangat merindukan Ana yang mereka tidak tahu di mana dia berada sekarang.


"Abi menyesal Umi, Abi sangat menyesal atas apa yang telah Abi lakukan kepada Ana selama ini," ucap Abimayu demgan sedih.


"Jika dulu kamu tidak bisa menerima sikap Ana, seharusnya kamu bisa membimbingnya supaya menjadi lebih baik." Umi Aida teringat akan Abimayu yang dulu menegur Ana dengan cara yang mungkin sedikit kasar karena dari awal telah menolak Ana dalam hatinya.


"Abi sudah melakukan itu Umi, tapi Ana tetap menolak," jawab Abimayu sedikit membela dirinya.


"Ya, Umi tahu jika dia menolak, tapi itu karena kamu menegurnya dengan cara yang keras. Seharusnya kamu menegurnya dengan cara yang lembut. Meskipun Ana dikatakan sudah dewasa dan bisa berfikir dengan baik, tapi tetap saja kamu harus melakukannya dengan cara yang lembut. Jika Ana belum mau merubahnya, kamu jangan marah dan terus menyalahkannya. Tapi kamu harus selalu mengingatkannya terus dengan cara yang lembut, bukan dengan cara yang keras, karena kita sebagai manusia tidak bisa mengukur seseorang itu baik atau buruk kecuali hanya Allah yang berhak."


Abimayu terdiam mendengarkan nasehat dari uminya. Dia merasa terpukul dan menyadari bahwa selama ini dia terlalu keras terhadap Ana, bahkan dia pernah dengan jelas mengatakan tidak akan menerima Ana meskipun dia merubah penampilan dan sikapnya. Semua itu dia katakan karena selama ini dia telah salah menilai dan menganggap Ana adalah wanita yang suka menjajakan tubuhnya.


"Abi mengaku salah, Abi mengakui jika Abi juga masih banyak kekurangan selama ini. Abi terlalu menjadi orang yang egois sehingga membuat Abi lupa untuk belajar suatu hal yang bisa membentengi diri Abi dari semua yang telah Abi lakukan selama ini." Abimayu berkata mengakui kesalahannya dwngan raut wajah yang begitu menyesal.

__ADS_1


"Sekarang semua sudah berlalu, tidak ada gunanya untuk menyesalinya, dan yang perlu kamu lakukan sekarang adalah terus belajar dan memperbaiki diri. Suatu hari jika kamu bertemu dengan Ana, kalian bisa menyelesaikan semuanya dengan baik," ucap Umi Aida sambil mengelus pundak putra bungsunya itu.


Abimayu hanya menganggukkan kepala dan memahami apa yang dikatakan oleh uminya. Dia berharap Ana bisa kembali lagi kepadanya dan dia tetap akan menunggu sampai Ana


__ADS_2