
Hari ini setelah beberapa bulan lamanya, Umi Aida mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke rumah Nayla. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Nayla hingga tidak ada kabar yang pasti dia dapatkan.
Sampai di rumah Nayla, Umi Aida disambut langsung oleh orang tua Nayla.
"Nay," ucap Umi Aida lembut, sambil memegang dan menggengam tangan Nayla yang kurus dan terasa dingin. Hatinya juga menjadi sendu ketika melihat keadaan Nayla. Dia tidak menduga bahwa Nayla menjadi seperti yang dia lihat sekarang ini.
"Coba kamu jujur, apa yang kamu rasakan saat ini?" lanjutnya bertanya setelah dia meminta kepada orang tua Nayla untuk meninggalkan mereka berdua. Dari penglihatannya, dia melihat Nayla sedang menyembunyikan sesuatu di hati dan fikirannya yang dia pendam sendiri, sehingga membuat dia menjadi lemah seperti tidak bernyawa.
"Maaf, Umi," jawab Nayla. Dia berusaha untuk duduk, hingga dia benar-benar duduk sejajar dan berhadapan dengan Umi Aida.
Nayla tidak bisa membendung air matanya, dia menangis terisak di hadapan Umi Aida, sampai bahunya ikut berguncang.
Baru kali ini, dia menangis selama dia terbaring sakit. Bahkan, dengan orang tuanya pun dia berusaha menahan airmatanya. Dia merasa malu, jika penyebab sakitnya ini diketahui oleh orang lain. Dia berusaha untuk menyembunyikan semuanya. Tapi, saat ini, di depan Umi Aida, dia tidak tahan lagi dan menumpahkan tangisnya hingga dia terisak.
Melihat Nayla yang menangis, Umi Aida memeluknya dengan lembut. Dia bisa merasakan, betapa kurusnya tubuh Nayla yang ada di pelukannya ini.
"Maaf, Umi. Sakit ini, penyebanya adalah saya sendiri." Nayla mulai bercerita dengan suara lemahnya.
Umi Aida menyentuh pipi Nayla yang berwarna pucat. Dulunya pipi itu tampak berisi, dan sekarang yang terlihat jelas hanya garis wajahnya.
"Kamu boleh cerita, Nak. Biar kamu bisa sembuh!" ucap Umi Aida sambil mengelus pundak Nayla dengan wajah prihatinnya.
"Aku," baru satu kata yang keluar dari mulut Nayla, dia menangis kembali sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kalau kamu masih menyimpannya, kamu akan terus begini, Nak." Umi Aida yakin bahwa Nayla memang benar sedang memendam sesuatu di hatinya yang belum bisa dia lepaskan.
"A a aku malu, Umi." Nayla berkata sambil terisak.
"Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa. Tapi, Umi berharap, kamu bisa melawan rasa atau apapun yang sekarang menganggu dirimu. Segala sesuatu, kita harus ikhlas untuk menerimanya. Apapun itu, semuanya. Karena, semua takdir Allah itu adalah baik bagi hambanya, hanya tinggal bagaimana cara kita menjalaninya."
__ADS_1
"Aku salah, Umi. Aku terlalu terbawa perasaan," ucap Nayla mulai berbicara lagi.
"Umi tahu, dan semua butuh waktu, tapi kamu tidak boleh terlalu berlarut." Nasehatnya kepada Nayla. Meskipun dia tidak tahu perasaan apa yang dipendam Nayla, dan dia hanya mengetahui jika sesuatu itu melibatkan perasaan, semua harus bisa kita ikhlaskan. Semua yang terjadi, dibaliknya pasti ada kebaikan.
"Dulu, aku pernah menyukai Abimayu." Nayla berkata jujur kepadanya.
Umi Aida sempat terkejut dan tidak percaya ketika mendengarnya. Lalu dia mengingat, bahwa Abimayu pernah mengatakan dia sudah memiliki calon wanita yang akan dia lamar saat ingin dijodohkan dengan Ana.
"Nayla." Panggil Umi Aida dengan pelan.
"Ya, aku adalah wanita yang akan dilamar oleh Abimayu," lanjut Nayla. "Aku sudah berusaha, Umi. Aku juga tahu kalau aku salah. Tapi, hatiku tidak sejalan dengan fikiranku. Aku ingin sembuh, Umi. Tapi, setiap hari, hatiku seperti tercabik, rasanya sakit, Umi. Sakit sekali, aku sudah berusaha melawan. Tapi, kenyataannya aku semakin hancur dengan keadaan begini."
Nayla kembali terisak, dan Umi Aida kembali memeluknya. Sekarang, Umi Aida tahu penyebab sakit yang diderita oleh Nayla. Itu sebabnya, orang tua Nayla mengatakan jika penyakit Nayla tidak terlihat oleh dokter.
"Umi tahu, Nak. Itu memang sakit, tapi kamu terus coba lepaskan secara perlahan." Menitik juga airmata Umi Aida akhirnya setelah tahu keadaannya. Dulu, dia tidak tahu siapa wanita yang ingin dilamar oleh putranya. Ternyata, wanita itu adalah Nayla.
...----------------...
"Aku baik-baik saja!" jawab Abimayu sambil dengan wajahnya yang nampak lesu.
"Aku tidak percaya! Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan, sepertinya kamu tidak bersemangat dan seperti sedang memikirkan sesuatu!" Heri menjelaskan pendapatnya ketika melihat Abimayu.
"Aku baik-baik saja, Heri!"
"Aku hanya khawatir melihatmu, Abi. Apa kamu sedang mempunyai masalah?"
"Heri! Aku baik-baik saja! Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan dengan-ku."
"Hemmm baiklah, aku akan tetap mau mendengarkan jika kamu ingin bercerita." Heri berkata, karena dia tahu Abimayu sedang tidak baik-baik saja. Berteman dengan Abimayu sudah sejak lama, membuat dia memgetahui jika Abimayu sedang mempunyai masalah.
__ADS_1
...----------------...
Ketika pulang ke rumah, Abimayu melihat Ana yang sedang duduk di sofa menunggunya.
"Aku punya sesuatu untuk Mas Abi." Ana sudah berjalan mendekat ke arah Abimayu yang hanya melihatnya dengan pandangan tidak suka.
"Ayo kita duduk dulu!" ajak Ana sambil menarik tangan Abimayu dan membawanya ke sofa. Sedangkan Abimayu masih diam dan sama sekali tidak ingin bicara.
"Ini untuk Mas Abi!" Ana mengulurkan sebuah kotak berukuran kecil ke hadapan Abimayu.
"Aku sepertinya tidak membutuhkan hadiah itu!" akhirnya Abimayu membuka mulutnya juga untuk bicara.
"Tidak baik menolak pemberian orang, Mas Abi." Ana sejak tadi mencoba untuk bersabar dengan penolakan Abimayu.
"Aku tidak membutuhkan sesuatu darimu."
"Kalau begitu, aku akan membukanya untuk Mas Abi!" Ana sudah mulai memaksa Abimayu supaya menerima hadiah yang dia berikan.
Abimayu hanya melihat apa yang dilakukan Ana.
"Ini, Mas Abi coba pakai dulu! Pasti akan terlihat bagus jika Mas Abi memakainya."
Sebuah jam tangan berwarna hitam dipegang oleh Ana. Sebagai seorang pria yang termasuk suka memakai jam tangan, Abimayu bisa mengetahui bahwa jam tangan yang dipegang oleh Ana adalah sebuah jam tangan yang harganya tidak murah, itu juga dari merk terkenal yang sudah terjamin kualitasnya.
"Mas Abi tahu, ini adalah jam tangan keluaran terbaru, ini juga barang limited edition."
"Aku juga tahu, kamu adalah seseorang yang suka membuang uang dengan untuk membeli sesuatu yang tidak berguna," sindir Abimayu kepada Ana.
"Siapa yang mengatakan ini adalah barang yang tidak berguna? Ini sangat berguna bagi Mas Abi, supaya Mas Abi tidak lupa waktu untuk pulang ke rumah." Ana juga membalas perkataan Abimayu dengan sebuah sindiran.
__ADS_1
Ana terus memaksa Abimayu untuk memakai jam tangan yang telah dia belikan. Hingga jam tersebut melekat di tangan Abimayu yang membuat Ana tersenyum melihatnya, karena saat ini Ana belum menyerah untuk menaklukkan hati Abimayu agar bisa menerima dirinya.