Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 28


__ADS_3

Di tinggal Viko yang membawa Risa, Abimayu terpaksa pulang bersama Ana menggunakan mobilnya.


"Apa kamu juga mabuk?" tanya Abimayu tiba-tiba kepada Ana ketika mereka sudah di jalan pulang.


"Kalau aku mabuk, keadaan aku akan sama dengan Risa. Mas Abi bisa lihat, kan? kalau aku masih sadar," jawab Ana dengan cepat.


"Kamu memang sama dengan Risa, sama-sama tidak punya malu. Apa tujuan kalian datang ke sini? Sudah berapa pria yang menyentuh kalian malam ini, ha?" kembali Abimayu menuduh Ana tanpa tahu sebenarnya apa yang terjadi.


"Mas, kamu jangan asal menuduh. Aku hanya datang untuk menjemput Risa!" Bela Ana pada dirinya.


"Alasan konyol apa yang kamu coba katakan?"


"Itu bukan alasan, tapi kenyataan!"


"Buktinya sudah ada, kamu keluar dari klub itu."


"Tapi, bukan berarti apa yang Mas tuduhkan itu benar."


"Bukan hanya aku, semua orang juga tidak akan mempercayai ucapanmu. Melihat penampilanmu begini, dan keluar dari klub, tidak ada yang akan percaya jika kamu adalah seorang wanita yang bersih."


"Hem... jika aku merubah pakaianku, apa Mas bisa menerimaku? " Ana mencoba bertanya kepada Abimayu tentang pendapatnya, karena selama ini, salah satu yang membuat Abimayu marah kepadanya karena dia yang selalu berpakaian seksi.


"Jangan jadikan aku sebagai tumbal untuk menutupi keburukanmu, aku berharap mendapatkan wanita yang bersih, yang tidak pernah disentuh oleh pria manapun. Jika kamu berubah, belum tentu aku bisa menerima. Karena aku sudah tahu keburukanmu dari awal."


Jawaban terakhir Abimayu sudah menghancurkan keinginannya. Selamanya Abimayu tidak akan pernah bisa menerimanya.


...----------------...


Di tempat lain, Viko sudah membawa Risa ke rumahnya dan dia sudah membaringkan Risa di atas ranjang.


"Aku tidak membunuh bayi kita." Risa masih berkata begitu sejak Viko membawanya hingga mereka sampai di rumah ini.


"Aku ingin muntah." Tiba-Tiba Risa berkata tanpa sadar.


Mendengar itu, Viko membawa Risa ke kamar mandi agar dia tidak muntah di atas ranjang.


"Uweeek, uweeeekkk." Risa sudah memuntahkan isi perutnya.


Setelah muntah, Risa seperti memiliki kesadaran kembali. Dia membasuh mulutnya, lalu memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Viko!" ucap Risa saat sadar bahwa orang yang ada di dekatnya adalah Viko.

__ADS_1


Viko masih berdiri tidak menjawab sapaan Risa dan terus melihatnya.


"Maaf," ucap Risa lalu berjalan ingin meninggalkan Risa.


"Kamu tidak boleh pergi!" Viko berkata sambil memegang lengan Risa ketika yang sudah berjalan meninggalkannya.


"Viko, lepaskan aku! Aku tidak tahu kenapa bisa bersamamu. Jika aku sadar, aku juga tidak ingin datang ke sini. maaf, sudah merepotkanmu." Risa berkata pelan dan telah menyadari bahwa sekarang dia berada di tempat Viko.


"Kamu tidak boleh pergi! Kamu harus jelaskan dulu apa yang mau aku dengar!"


"Untuk apa lagi semuanya di jelaskan? Kamu sudah tahu kalau aku yang telah membunuh bayi kita. Tentang apa lagi yang ingin kamu dengar ha? Semuanya sudah jelas." Risa berkata sedikit kuat karena Viko terus mendesaknya untuk memberikan penjelasan.


"Benarkah orang tuaku yang membuat kamu keguguran?" tanya Viko dengan wajah tajam melihat Risa.


Mata Risa terbuka lebar mendengar perkataan Viko.


"Tidak! Siapa ya memberitahumu begitu?"


"Kenapa kamu tidak ingin memberitahuku alasannya, Risa?"


"Bukankah kamu yang tidak percaya padaku? Aku sudah katakan kalau aku keguguran, tapi kamu tidak percaya, apa lagi yang harus aku jelaskan? Aku juga sudah menerima kalau kamu menuduhku membunuhnya, aku juga terima. Sekarang, alasan apa lagi yang ingin kamu dengar, ha? "


"Kamu sendiri yang mengatakan, orang tuaku yang membuatmu keguguran!"


"Aku tidak pernah mengatakan itu kepadamu."


"Ya. Tapi saat kamu mabuk, kamu mengatakan semuanya."


"Hanya orang bodoh yang mempercayai perkataan orang mabuk!" ucap Risa sinis.


"Aku memang bodoh, ya. Aku bodoh, aku tidak harus mempercayai perkataanmu itu." Viko berkata sambil memegang kedua pundak Risa.


"Kamu... pem...bu...nuh..., kamu pembunuh, kamu pembunuuuuuhhh" Viko berteriak kencang di depan wajah Risa untuk memuaskan hatinya yang selama ini terasa sesak.


Risa hanya bisa diam saat Viko kembali menuduhnya membunuh bayi mereka.


"Ya, orang tuamulah yang sudah membuat aku keguguran. Dari awal kamu sudah tahu kan kalau mereka tidak suka padaku." Akhirnya Risa berkata jujur kepada Viko.


"Kenapa kamu tidak jujur padaku?" suara Viko terdengar pelan dan dengan raut wajah yang sedih.


Risa menggelengkan kepalanya di tangan Viko.

__ADS_1


"Kamu tidak percaya padaku, dari awal aku sudah mengatakan aku tidak menggugurkan bayiku, sekarang biarkan aku pergi! Kamu sudah tahu semua alasannya."


Ketika Risa ingin pergi, tiba-tiba tubuhnya di peluk oleh Viko.


"Hei, apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Aku ingin pulang!" Risa memberontak di pelukan Viko.


"Kamu tidak boleh pergi!" suara Viko terdengar serak.


"Lepas! Aku ingin pummmffmm." Perkataan Risa terputus karena Viko mencium bibirnya.


plak


Risa melayangkan sebuah tamparan ke pipi Viko saat Viko sudah melepaskan ciumannya.


"Kamu boleh menamparku sepuasnya!" Viko berkata pelan di depan wajah Risa.


"Ak... ehmmm," belum sempat Risa berkata, Viko kembali mencium bibirnya. Kali ini Risa menikmati ciuman yang diberikan Viko dan juga membalasnya.


"Aku mencintaimu," ucap Viko saat dia menghentikan ciuman mereka sebentar untuk mengatur nafas.


Akhirnya Risa tidak berkata lagi dan menyambut bibir Viko yang kembali menciumnya.


Mereka terus saling berpagutan, tangan Viko sudah meraba dan menyentuh setiap inci tubuh Risa. Dia tidak akan melewatkan sedikit pun kesempatan ini. Dan akhirnya mereka melewati malam panas yang panjang, saling melepas kerinduan yang selama ini terpendam.


...----------------...


Mobil yang di kendari Abimayu telah sampai di depan rumah mereka.


"Jangan lupa! Bersihkan tubuh kotormu itu untuk menghilangkan jejak sentuhan pria yang menyentuhmu malam ini." Abimayu berkata kepada Ana saat mereka sudah keluar dari mobil.


"Biarkan saja jejak pria itu tinggal di tubuhku, supaya aku bisa mengingat kenikmatan yang telah mereka berikan kepadaku." Ana tidak lagi membela dirinya, tapi dia membuat dirinya seolah seperti melakukan yang dituduhkan Abimayy kepadanya.


"Hem, akhirnya kamu mengakui juga apa yang telah kamu lakukan," ucap Abimayu dengan sinis.


"Ya, karena dengan suamiku sendiri aku tidak diberikan kepuasan, jadi lebih baik aku mencarinya dari pria lain yang bisa memberikan aku itu."


"Ana!" Abimayu merasa panas sendiri mendengar perkataan Ana.


"Kenapa marah, bukannya selama ini Mas Abi sudah tahu kalau aku seringa menjajakan tubuhku kepada para pria di luar sana? Jadi untuk apa Mas Abi marah sekarang?"


"Aku tidak marah karena itu, tapi aku merasa marah karena telah kamu bohongi selama ini." Abimayu berkata sambil masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Ana. Sedangkan Ana hanya mampu tersenyum pahit melihat Abimayu yang terus menuduhnya.

__ADS_1


__ADS_2