Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 68


__ADS_3

Pagi ini sekali Abimayu telah bersiap di rumah, dia ingin cepat pergi, karena dia sudah bertekad akan menjumpai Ana hari ini di rumah orang tuanya.


Beberapa hari ini dia menahan dirinya untuk pergi, meskipun hatinya meronta ingin segera menjumpai Ana. Dia tidak ingin menganggu Ana dengan dia yang datang, karena dia tahu Ana masih berduka atas kepergian papa nya.


"Umi, Abi pergi dulu! Umi doakan Abi." Abimayu berkata kepada Umi Aida di saat dia ingin pergi.


"Umi selalu mendoakan kamu, Nak." Umi Aida berkata dengan sendu. Dia juga sekarang merasa sangat bahagia, karena mendapat kabar dari Abimayu bahwa Ana telah kembali. Dia ingin sekali bertemu dengan Ana, tapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk dia pergi. Dalam beberapa bulan ini kondisi tubuhnya kurang sehat.


"Apa Ana bisa memaafkan Abi, Umi?" tanya Abimayu karena meragu dengan dirinya.


"Jika kamu ingin maaf darinya, kamu tidak boleh berputus asa." Umi Aida memberikan semangat kepada Abimayu, dia juga tidak pasti apakah Ana bisa memaafkan Abimayu. Tapi, setidaknya Abimayu harus terus mencobanya.


Abimayu menganggukkan kepalanya, dia juga setuju dengan perkataan umi nya, karena selama ini dia terus berusaha mencari Ana salah tujuannya adalah untuk meminta maaf kepada Ana atas apa yang telah dia lakukan selama ini.


...----------------...


Mobil Abimayu sudah berada di depan rumah orang tua Ana saat ini. Dia langsung turun dan melangkahkan kakinya menuju pintu rumah orang tua Ana.


"Assalamualaikum." Abimayu memberikan salam sebelum dia masuk. Dia juga melihat ke sekitar rumah, dan rumah itu terlihat sangat sepi.


"waalaikumsalam." terdengar suara dari dalam rumah memyambut salam nya, dan ternyata itu suara mertuanya.


"Nak Abi, ayo silahkan masuk!" ajak Kiran kepada Abimayu. Kiran tidak membenci Abimayu, meskipun dia telah mengetahui bahwa ternyata Abimayu telah salah paham terhadap Ana selama ini, karena dia juga merasa bersalah kepada Ana. Mereka salah karena sebagai orang tua tidak ingin percaya kepada anak mereka sendiri.


"Saya boleh bertemu dengan Ana, Ma?" tanya Abimayu langsung mengatakan tujuannya untuk datang saat ini.


"Boleh, mama panggilkan Ana dulu, ya!" ucap Kiran sambil berjalan pergi meninggalkan Abimayu di ruang tamu.

__ADS_1


Di tempat duduknya Abimayu kembali merasa gelisah, dia takut jika Ana tidak ingin bertemu dengannya.


Dia juga teringat saat di rumah Sarah, ternyata wanita yang dia lihat memakai cadar itu Ana istrinya. Tapi di saat itu dia selalu melihat Ana membelakangi nya, mungkin karena memang tidak ingin bertemu dengannya. Hampir di seluruh kota dia mencari keberadaan Ana selama ini, tapi dia tidak menemukannya. Ternyata Ana tinggal di sudut kota selama ini bersama Sarah yang masih menjadi keluarganya.


Abimayu mendengar suara langkah kaki, dan matanya langsung melihat ke arah suara itu.


Hatinya menjadi sedikit lega karena ternyata Ana tidak menolak untuk bertemu dengannya.


"Apa kabar Ana?" tanya Abimayu memulai pembicaraan karena Ana hanya diam ketika dia telah duduk bersamanya di sofa ruang tamu.


"Baik!" jawab Ana singkat. Dia seperti tidak ingin membuka mulutnya untuk berbicara dengan Abimayu, tapi dia juga tidak ingin menjadi orang yang tidak sopan karena tidak menjawab pertanyaan Abimayu.


Abimayu mendengar jawaban itu dengan perasaan perih, tidak ada lagi tersemat panggilan Mas yang selama ini Ana gunakan untuk memanggilnya.


"Mas datang mau meminta maaf denganmu!" ucap Abimayu lagsung.


"Untuk apa meminta maaf?" tanya Ana dengan suara sedikit tegas.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena kalian tidak bersalah." Ana seolah membenarkan bahwa selama ini yang salah hanyalah dirinya.


Abimayu merasakan hatinya bagai tertusuk mendengar perkataan Ana.


"Mas minta maaf, Ana." Abimayu mengulangi sambil melihat wajah Ana yang tertutup cadar. Meskipun wajah itu tidak bisa dia lihat sepenuhnya, tapi dalam ingatannya, wajah itu tidak pernah dia lupakan.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, karena kalian tidak bersalah. Kalian jangan takut, aku tidak akan menganggu hidup kalian. Aku akan mundur, karena selama ini itu yang kalian harapkan. Aku akan mengurus surat perceraian kita, agar hubungan kita menjadi jelas." Ana berkata dengan yakin.


Abimayu benar-benar terpukul dengan perkataan Ana. Jika boleh jujur, dia ingin melihat sikap Ana yang dulu, yang selalu mempertahankannya, bukan dengan Ana sekarang yang dengan mudah berkata akan melepaskannya seperti yang pernah dia inginkan dulu. Sekarang Ana telah menyetujui untuk bercerai dengannya di saat dia ingin memperbaiki segalanya.

__ADS_1


"Ana..." panggil Abimayu pelan. "Mas dengan Nayla... "


"Jangan katakan apapun! Aku tidak ingin mendengarnya! Aku sudah katakan tidak akan menganggu kehidupan kalian, aku akan pastikan itu." Ana mencoba menghentikan Abimayu agar tidak menyebutkan hubungannya dengan Nayla, karena itu membuat hatinya kembali berdarah.


"Kami tidak jadi menikah!" ucap Abimayu sambil menundukkan kepalanya.


Ana terkejut karena mendengar dengan jelas perkataan Abimayu.


"Mas dengan Nayla tidak jadi menikah!" Abimayu mengulangi perkataannya untuk memperjelas.


Ana terdiam dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari Abimayu.


Beberapa hari ini dia memang tidak ingin mendengar cerita Abimayu, karena dia tidak ingin merasakan sakit di hatinya lagi. Tapi sekarang dia sangat terkejut Abimayu berkata jika dia tidak jadi menikah dengan Nayla.


Ana masih diam dan belum menanggapi perkataan Abimayu, lalu tiba-tiba Fatimah muncul di hadapannya membawa sebuah makanan baru yang ingin dia perlihatkan.


"Bunda, ini mainan baru Fatimah." Fatimah berkata dengan riang, dan belum sempat Ana menjawab, dia sudah kembali berlari pergi. Dia hanya ingin memberitahu Ana tentang mainannya.


"Apa Fatimah anak kita?" suara Abimayu terdengar kembali berbicara.


Ana juga masih diam dan seperti tidak ingin memberitahu tentang Fatimah kepada Abimayu.


"Ana, Fatimah anak kita, kan?" Abimayu menebak sendiri untuk menjawab pertanyaannya. Dia tidak tahan untuk menanyakan tentang Fatimah kepada Ana, karena hatinya juga sangat meyakini itu.


"Ya, maaf kalau aku melahirkannya. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan meminta pertanggungjawaban atas dirinya, karena Aku menyadari dia ada karena aku telah membuat suatu kesalahan besar dalam hidup seseorang." Ana berkata dengan rasa sakit karena teringat akan ucapan Abimayu dulu kepadanya.


"Ana, Mas...!"

__ADS_1


"Jangan takut, Aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan itu, dan aku tidak akan meminta petanggung jawaban apapun untuk dirinya." Ana berkata kembali untuk meyakinkan Abimayu.


Sedangkan Abimayu kembali merasak terpukul dengan jawaban dan pernyataan yang diberikan Ana. Dia tida tahu bagaimana lagi nantinya dia akan memperbaiki semuanya dengan Ana, karena terlalu banyak luka yang telah dia goreskan di hati Ana.


__ADS_2