Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 65


__ADS_3

Saat sore tiba, Ana masih terus gelisah karena memikirkan Fatimah yang masih berada di rumah Sarah saat ini, dia takut Fatimah benar-benar akan merepotkan Sarah, dia ingin sekali menjemput Fatimah dan mengajaknya pulang, tapi itu tidak bisa dia lakukan karena nantinya dia akan bertemu Abimayu. Meskipun dia telah menggunakan cadar, dia masih merasa belum bisa untuk melihat Abimayu sekarang.


Dia juga sudah lebih tenang saat ini setelah tadi sempat menangis ketika mengingat Abimayu yang berbicara dengan seorang anak laki-laki dan juga Nayla.


"Assalamu'alaikum, Bundaaa." Tiba-tiba terdengar suara nyaring Fatimah memanggilnya dari luar.


"Bundaaa."


Mendengar suara Fatimah yang memanggilnya Ana menjadi sedikit lega. Kegelisahannya sejak tadi sedikit berkurang.


"Wa'alaikusalam." Ana menjawab salam Fatimah, lalu melihat ke sekeliling.


"Fatimah pulang sendiri, Sayang?" Ana bertanya sambil melihat ke sekitar Fatimah, lalu melihat kembali ke arah Fatimah yang menganggukkan kepalanya yang menunduk.


"Maaf, Bunda." Fatimah berkata sambil menundukkan kepalanya.


Melihat itu, Ana hanya bisa tersenyum. Dia mengerti untuk apa kata maaf itu diucapkan oleh putrinya. Dia juga mengerti apa yang dilakukan oleh Fatimah tadi bukanlah suatu kesalahan bagi anak yang berumur 4 tahun sepertinya. Itu hanya naluri seorang anak kecil yang pada dasarnya senang jika bermain.


"Bunda tidak marah, Sayang." Ana menyamakan tubuhnya dengan Fatimah, lalu mencium pipi putri kecilnya itu yang masih menundukkan kepalanya dengan raut wajahnya yang sedikit ketakutan.


"Fatimah main apa dengan kak Hawa?" tanya Ana untuk memancing supaya Fatimah kembali ceria.


"Kak Hawa banyak temannya, Bunda. Fatimah juga banyak temannya." gadis kecil itu sudah kembali ceria ketika ditanya tentang permainannya.


Ana kembali tersenyum mengartikan sendiri perkataan putrinya yang terkadang masih harus kita cerna terlebih dahulu apa maksudnya.


"Kak Hawa juga punya Eyang, Punya Mmbaaah, punya Umi banyak, punya Abi banyak, adik kecil, adik kecil lagi, kakak besar." Fatimah berkata sambil memainkan jarinya untuk menghitung jumlah orang yang dia temui.


Hati Ana menjadi sendu mendengarnya. Seandainya Fatimah tahu, bahwa semua orang yang dia jumpai di rumah Sarah adalah juga keluarganya, mungkin dia akan lebih senang lagi.


Ana tidak menyangka bahwa alam rahim suaminya Sarah adalah saudara laki-lakinya yang telah meninggal sejak lama. Ana juga sempat bertanya dalam hatinya, apa maksud dari semua ini? Tenyata selama ini dia masih berhubungan dengan keluarganya Abimayu meskipun dia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan Abimayu.


"Fatimah sudah shalat?" tanya Ana kepada Fatimah, karena biasanya dia selalu mengajak Fatimah untuk shalat.

__ADS_1


"Sudah, Bunda. Fatimah shalat sama teman Fatimah," jawab Fatimah dengan rasa bahagia karena hari ini dia mendapatkan teman baru yang dia tidak mengerti bahwa pertemuan mereka hanya beberapa hari saja.


"Alhamdulillah, Fatimah anak sholehahnya, Bunda." Ana berkata sambil mencium pipi Fatimah, dan setelah itu dia membawa Fatimah untuk pergi membersihkan diri karena hari sudah sore.


Sekarang dia akan lebih sedikit menjaga Fatimah lagi agar tidak terjadi kejadian seperti yang tadi. Dia akan memberikan pengertian kepada putrinya ini untuk tidak pergi ke rumah Sarah dulu, karena dia takut akan merepotkan Sarah dan karena Abimayu dan keluarganya masih berada di rumah itu.


...----------------...


"Amiin." keluarga Abimau terdengar mengaminkan doa di makan almarhum abi nya Hawa yang dibacakan oleh Kiayai Mustapa.


Pagi ini mereka telah menyampaikan niat untuk berziarah ke makam Almarhum suami Sarah. Setelah mereka selesai berdoa, mereka kembali lagi ke rumah Sarah.


Jarak dari rumah Sarah ke makam tidak terlalu jauh, karena makam itu terletak di sekitar pesantren ini.


Abimayu berjalan paling akhir dari mereka semua, dan dia berjalan sangat pelan karena dia ingin melihat pemandangan di sekitar pesantren ini yang terlihat sangat indah karena berdekatan dengan pegunungan.


"Bunda, bunganya boleh diambil?"


Tiba-tiba Abimayu mendengar suara anak kecil di sekitar dia berjalan.


"Kenapa, Bumda?"


"Kalau banyak nanti mubazir, karena mubazir itu temannya siapa?"


"Temannya setaun, Bunda."


"Ehmmm anak sholehah Bunda pintar sekali."


Deg


Jantung Abimayu tiba-tiba berdebat mendengar satu suara lagi, yaitu suara seorang wanita dewasa. Suara itu mengingatkan dia kepada seseorang.


Abimayu terus berjalan mendekat ke asal suara yang dia dengar itu. Saat sudah dekat, dia melihat seorang gadis kecil sedang bermain di sebuah taman yang ada di sekitar pesantren ini, dan dia ditemani oleh seorang wanita dewasa yang dia panggil dengan Bunda sedang duduk di kursi panjang dengan arah membelakanginya.

__ADS_1


"Fatimah!" Abimayu bicara sendiri karena gadis yang dia lihat itu adalah Fatimah yang bertemu dengannya di rumah Sarah kemarin.


Abimayu terus memperhatikan mereka dari jarak yang sedikit jauh, karena dia terhalang pagar pembatas, dan juga mereka sepertinya berada di kawasan tempat santri putri sehingga dia tidak bisa masuk ke kawasan itu.


"Tapi Fatimah mau banyak, Bunda."


"Sayang, kasihan bunganya. Mereka juga hidup, kalau Fatimah mengambilnya berarti mereka akan mati nantinya, mereka juga tumbuh untuk membuat taman ini jadi indah. Kalau Fatimah mengambil mereka nanti tamannya tidak indah lagi."


"Ehmmm dua saja ya, Bunda?"


Abimayu melihat Fatimah menunjukkan dua buah jarinya kepada wanita yang membelakangi dia itu, dan Abimayu juga menyadari bahwa wanita itu adalah wanita bercadar yang dia lihat saat di rumah Sarah kemarin. Dia sempat melihat wanita berhenti sejenak, dalam posisi membelakang dan setelah itu dia berjalan dengan cepat seperti ingin berlari.


"Yeeee dua." Fatimah melompat gembira karena wanita itu membolehkan dia mengambil bunga yang sejak tadi sudah dia inginkan.


"Ayo kita kembali ke rumahrumah."


"Iya, Bunda. Fatimah ambil ini dulu."


Setelah Fatimah selesai mengambil bunganya, Abimayu melihay mereka berjalan bergandengan tangan pergi meninggalkan taman itu. Abimayu terus melihat sampai mereka menghilang dari pandangan matanya.


Huffffff


Abimayu menghembuskan nafasnya dengan kuat. Dia ingin menormalkan kembali detak jantungnya, karena masih belum kembali normal.


Abimayu merasa suara wanita itu sangat mirip dengan suara wanita yang selama ini dia cari, tapi dia tidak yakin karena wanita yang dia cari itu sangat jauh berbeda penampipannya dengan wanita bercadar yang dia lihat saat ini.


Abimayu meninggalkan tempat itu dan melangkah pergi kembali pulang ke rah Sarah.


"Dari mana Abi?" tanya Umi Aida ketika dia tiba di rumah.


"Abi dari melihat-lihat sekitar pesantren, Umi." Abimayu menjawab dengan sedikit tidak bersemangat.


Umi Aida hanya tersenyum mendengar jawaban Umi Aida.

__ADS_1


"Apa gadis kecil bernama Fatimah itu datang kemari?" tanya Abimayu tiba-tiba. Dia merasa sangat senang melihat Fatimah, karena Fatimah mampu membuat hatinya menghangat dan seperti mampu melepaskan sedikit rindunya kepada seseorang yang selama ini sangat dia rindukan. Dia ingin melihat Fatimah lagi meski sebelum dia kembali tadi, dia juga sudah melihat Fatimah.


__ADS_2