
Pagi ini Ana telah bersiap-siap dengan putri kecilnya. Saat Fatimah bangun dari tidurnya, dia langsung menangis dan menanyakan sang ayah. Dia masih kecewa dengan ketidakhadiran sang ayah kemarin, sehingga pagi ini dia menyambung kembali rasa kecewanya itu dengan menangis kembali.
Ana tidak tahu harus bagaimana lagi, dia juga sudah membujuk Fatimah agar bisa diam, tapi Fatimah tetap melanjutkan tangisnya.
Dia mengalah dan ingin menghubungi Abimayu, tapi dia teringat bahwa semalam Abimayu telah memberitahu bahwa hari ini dia juga tidak bisa datang menemui Fatimah.
"Kita akan pergi melihat, Abi!" ucap Ana dan membuat Fatimah memelankan tangisnya mendengar perkataan Ana.
"Fatimah ketemu, Abi?" tanya nya dengan tangisnya yang sudah reda.
"Iya, Sayang. Fatimah akan bertemu Abi hari ini." Ana memberitahu kembali agar putrinya mengerti.
"Yeee bertemu Abi." Suara riang Fatimah memenuhi kamar yang mereka tempati.
Ana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. Dia sudah memutuskan untuk membawa Fatimah bertemu Abimayu, mereka hari ini akan pergi ke pesantren dan Ana juga ingin bertemu dengan Umi Aida dan Kiayai Mustapa.
Sejak mereka kembali dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan mertuanya itu, dan ternyata dia baru mengetahui dari sang mama bahwa Umi Aida sekarang sedang kurang sehat. Makanya dia tidak terlihat di saat papa Ana meninggal satu bulan yang lalu.
...----------------...
"Ini di mana, Bunda?" tanya Fatimah di saat mereka telah sampai di pesantren.
Di situ terlihat para santri yang sibuk dalam kegiatan yang akan dilakukan mereka.
Ana dan Fatimah berjalan beriringan saling bergandeng tangan menuju rumah Umi Aida. Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi Ana ketika masuk ke lingkungan ini, tapi dia juga tetap meminta izin kepada petugas di depan pintu masuk.
"Assalmualaikum." Ana mengucapkan salam sebelum masuk. Tapi dia dan Fatimah masih tetap berdiri di luar pintu sebelum tuan rumahnya keluar menyambut mereka.
"Walaikumsalam." Suara Umi Fatimah terdengar menyahut dari dalam.
Umi Aida berhenti sejenak sebelum sampai di depan pintu, wajahnya sedikit heran melihat siapa yang datang ke rumahnya, apalagi orang yang dia lihat memakai cadar di wajahnya. Dia mencoba mengingat, tapi dia juga tidak mengenali siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya itu.
"Umi..." Ana memanggil Umi Aida dengan pelan.
Saat itu Umi Aida berjalan mendekat, lalu melihat seorang gadis kecil yang memakai hijab di kepalanya sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Ya allah, Ana..." Suara Umi Aida terdengar sedikit kuat menyebut nama Ana. Dia bergegas berjalan mendekat ke arah Ana, tanpa sempat Ana menyalami tangannya, Umi Aida langsung memeluk tubuh Ana.
Setitik airmata jatuh di pelupuk mata Ana, mengingat betapa durhaka nya dulu dia kepada mertuanya ini.
Umi Aida juga tidak bisa menahan rasa harunya, dia sudah menangis sambil masih memeluk tubuh Ana.
"Maafkan aku, Umi," ucap Ana yang juga sudah menangis.
"Kamu tidak ada salah dengan Umi, Sayang." Umi Aida berkata sambil melepas pelukan nya.
Ana menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah jadi menantu yang durhaka kepada Umi dulu."
"Tidak, Sayang. Kamu tidak begitu." Umi Aida juga mencium pipi Ana yang tertutup cadar.
Ana tersenyum haru, sungguh mertuanya ini sejak dulu tidak berubah. Dia masih tetap sama, masih menjadi orang yang lembut hatinya.
"Fatimah, ayo salim Eyang dulu." Ana memanggil Fatimah yang sudah tidak lagi berdiri di sampingnya. Dia sekarang sedang melihat ke arah para santri yang ramai di depan sana.
"Eyang." Panggil Fatimah dengan senang karena ternyata dia masih mengingat wajah Umi Aida saat ini.
"Ini Eyang nya Fatimah, ya." Umi Aida telah menyambut tangan kecil Fatimah, lalu membawa tubuh Fatimah dalam dekapannya.
Melihat itu, Ana kembali menitikkan air matanya. Akhirnya Fatimah bertemu juga dengan semua keluarganya setelah beberapa tahun ini dia hanya bertumpang kasih kepada orang lain yang menyayanginya sewaktu mereka tinggal di pesantren Sarah.
Sangat terlihat raut wajah kebahagiaan pada Umi Aida melihat kedatangan Ana dan Fatimah, sudah sejak lama dia menunggu waktu ini, dan akhirnya tercapai juga.
"Fatimah minta bertemu Mas Abi, Umi. Dia tidak berhenti menangis di rumah." Cerita Ana kepada Umi Aida setelah mereka sudah saling melepas rindu dan bermaafan.
"Sebentar lagi mungkin Abi pulang, karena sudah tiba waktu shalat zuhur."
Sekarang Abimayu tidak berada di rumah itu, dia sedang sibuk di sekitar pesantren, dan dia juga belum mengetahui kedatangan Ana dan Fatimah.
"Abi... Abi..." Suara Fatimah terdengar memanggil sang ayah ketika melihat Abimayu yang berjalan dari jauh ke arah rumah.
__ADS_1
Abimayu yang sedang berjalan menatap dengan tajam siapa gadis kecil yang sedang melompat gembira di depan pintu rumah mereka. Dia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa itu adalah Fatimah. Dia sedikit mempercepat jalannya, bahkan dia sudah berlari kecil agar cepat sampai.
"Fatimah...hemmm Abi rindu sekali dengan Fatimah." Abimayu berkata saat sudah tiba di dekat Fatimah, dan sekarang Fatimah telah berada di dalam gendongannya.
Abimayu membawa Fatimah masuk ke dalam rumah, lalu matanya melihat wanita bercadar itu sedang duduk bersama uminya di ruang tamu sambil bercerita.
Kembali hatinya merasakan desiran aneh saat matanya bertemu dengan mata Ana yang juga sempat melihat ke arahnya sebentar.
Belum lama Abimayu menemani Fatimah bermain, terdengar suara adazan dari Musholla pesantren.
"Fatimah di sini dulu, ya. Abi mau shalat dulu."
Fatimah anak yang terlalu rindu dengan Abinya menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin ditinggalkan Abimayu.
"Sayang, tidak boleh begitu, Abinya Fatimah shalat dulu, nanti main lagi." Ana menegur putrinya yang tidak ingin ditinggal oleh Abimayu.
Hati Abimayu menghangat mendengar Ana berbicara, dia membayangkan seakan mereka saat ini memang sedang jadi sebuah keluarga yang utuh. Seketika Abimayu menggelengkan kepalanya, sungguh dia sekarang kadang menjadi seorang pria yang dilema oleh rasa cinta kepada seseorang.
"Fatimah ikut Abi shalat saja ya, Bunda." Jawab Fatimah dan sudah menghentikan bermainnya, dia takut akan ditinggalkan oleh Abimayu.
Abimayu tersenyum mendengar jawaban putrinya itu.
"Boleh, ayo kita siap-siap dulu."
Abimayu langsung menyetujui permintaan Fatimah.
"Mukena nya mana, Bunda?"
Sekarang Abimayu menjadi bingung mendengarnya.
Tanpa disadari Abimayu dan Ana kembali saling bertatapan. Ana juga menjadi bingung, karena selama ini jika dia mengajak Fatimah shalat, pasti memakai mukena. Saat ini dia tidak membawanya karena dia juga sedang tidak shalat.
"Fatimah pakai punya Eyang saja, ya." Umi Aida memecah kebingungan di antara Ana dan Abimayu. Dia membawakan hijabnya yang sedikit besar agar bisa digunakan Fatimah sebagai mukena.
Akhirnya Fatimah pergi bersama Abimayu, mereka berjalan saling bergandengan ke musholla pesantren, dan Ana yang tinggal di rumah merasakan sesak di dadanya ketika melihat pemandangan itu.
__ADS_1