Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 88


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu, rencana bulan madu yang diinginkan oleh Abimayu tidak juga terealisasi. Ana tidak ingin membebankan orang tuanya untuk menjaga Fatimah demi untuk pergi mereka pergi berbulan madu. Abimayu juga mengerti dengan itu, dan dia tidak terlalu memaksakan.


"Ana... aku tidak menyangka kamu bisa berubah seperti ini," ucap Risa yang begitu terkejut melihat perubahan pada diri Ana saat ini.


Semenjak Ana kembali mereka belum pernah bertemu sama sekali karena Rida dan suaminya Viko pindah ke luar kota karena suaminya bekerja di sana. Sekarang mereka telah kembali lagi ke kota yang sama dengan Ana, dan setelah mereka kembali dia langsung ingin menemui Ana di rumahnya.


"Aku sangat rindu dengan kamu, Risa." Ana berkata dengan sendu karena dia benar-benar sangat merindui sahabatnya ini.


"Ana... apa aku boleh melihat wajahmu?" tanya Risa dengan polos dan membuat Ana semakin terharu. Dia tahu Risa berkata begitu bukan karena ingin mengejeknya, tapi dia benar-benar ingin melihat wajah Ana sahabatnya.


Ana tersenyum di balik cadarnya lalu mengangguk dengan pelan. Tapi sebelumnya Ana lebih dulu melihat ke tempat di mana Abimayu dan Viko berada.


Ana membuka cadar nya dengan pelan, dan tanpa dia sadari ternyata Risa sudah menitikkan air mata di depannya.


"Aku sangat merindukan kamu, Ana." Risa berkata sambil menggambur ke dalam pelukan Ana. Dia benar-benar menangis saat ini karena sangat terharu.


Dari jauh Abimayu yang sedang duduk bersama Viko bisa melihat kedua wanita yang sedang berpelukan itu. Dia berjaga-jaga supaya Viko tidak membalikkan tubuhnya saat ini, karena posisi Viko sekarang sedang membelakangi Ana dan Risa. Dia tidak rela jika wajah Ana dilihat oleh Viko, dia hanya ingin wajah sang istri itu kini hanya bisa dilihat oleh nya dan hanya miliknya. Meskipun dulu wajah itu sudah pernah dilihat oleh banyak orang, tapi berbeda dengan sekarang.


"Bunda... Fatimah mau adik kecil seperti ini." Fatimah berkata sambil menunjukkan bayi kecil yang sedang dipegang oleh Viko ketika mereka telah berkumpul di ruang tamu.


Sekarang Risa sudah mempunyai dua orang anak, satu berumur setahun di atas Fatimah, dan satu lagi baru mencapai umur sekitar 9 bulan.


"Hemmmm Fatimah mau adik begini?" tanya Risa mengulangi perkataan Fatimah dan dijawab oleh anggukan okeh Fatimah.


"Fatimah boleh suruh Bunda dan Abi membuatnya." Risa berkata sambil tertawa karena melihat tatapan mengancam dari Ana.


"Risa! Kamu apa-apa an? Kamu bisa merusak otak anak-ku nantinya." Ana berkata sedikit kesal kepada Risa.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Fatimah boleh suruh Abi membuatnya, pasti akan cepat jadinya." Sekarang giliran Viko yang tersenyum karena menggoda Abimayu.


"Kalian berdua sama saja," ucap Abimayu.


Risa dam Viko tertawa bersama karena berhasil menggoda sahabat mereka itu. Sedangkan Ana hanya menggelengkan kepala melihat sikap seoasang suami istri yang datang bertamu ke rumah mereka hari ini. Jika Fatimah sering bertemu dengan mereka, bisa-bisa Fatimah akan meminta hal yang lebih aneh lagi nantinya. Bukan aneh, tapi permintaan Fatimah yang sekarang tidak memungkinkan untuk terbuat dalam waktu yang dekat, karena itu butuh proses sedikit lama yang memakan waktu 9 bulan lamanya.


...----------------...


Sepulangnya Risa da Viko dari rumah mereka, Fatimah ternyata masih mengingat permintaannya yang tadi. Sebelum mereka tidur Fatimah kembali mengungkit adik kecil yang dia inginkan.


"Bunda, Fatimah mau dibuatkan adik kecil seperti yang tadi." rengek Fatimah kepada Ana.


Ana memukul keningnya mendengar perkataan Fatimah, ternyata Fatimah menyerap apa yang dikatakan oleh Risa dan Viko kepadanya.


"Sayang...Fatimah kan sudah punya adik kecil," ucap Ana mengingatkan Fatimah kepada sepupunya anak dari saudara Abimayu.


"Tapi, kan. Fatimah boleh melihatnya, iya, kan?"


"Fatimah mau adik kecil seperti kakak yang tadi, Bunda. Ayo buat untuk Fatimah, Bunda."


"Ya Allah, Risa...." Ana menyebut nama Risa dengan kesal karena telah berhasil menanamkan pelajaran terbaru untuk putri kecilnya.


"Fatimah tahu, adik kecil itu yang memberikan adalah Allah. Jadi, kalau Fatimah ingin adik kecilnya, Fatimah harus berdoa sama Allah dulu supaya Allah berikan Fatimah adik kecilnya."


Ana memberikan penjelasan yang bisa diterima oleh gadis kecilnya ini. Dia tidak ingin Fatimah terus diracuni oleh perkataan Risa kepadanya.


"Kenapa Mommy itu tadi bilang kalau Bunda sama Abi bisa membuatnya?" Fatimah berkata dan teringat kembali dengan ucapan Risa yang dipanggil Fatimah dengan Mommy karena permintaan Risa sendiri. Dia ingin Fatimah memanggilnya dengan sebutan Mommy.

__ADS_1


Saat ini Abimayu hanya menjadi pemerhati dan pendengar saja, karena dia sedang bergelut dengan sebuah laptop di tangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali dia juga tersenyum saat Fatimah bertanya dan meminta dengan sifat anak-anak nya yang begitu polos.


"Sayang, kalau Allah sudah kabulkan doa Fatimah untuk diberikan adik kecil, maka adik kecil itu akan tinggal di dalam perut Bunda dulu, setelah itu baru adik kecilnya boleh dikeluarkan kalau perut Bunda sudah besar."


"Fatimah berdoa dulu supaya Allah kasih Fatimah adik kecil, dan perut Bunda akan besar." Fatimah berkata lagi dengan polosnya.


"Ya Allah, berikan Fatimah adik kecil biar perut Bunda besar, Amiiin."


Abimayu yang mendengar Ana yang berdoa, tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa sedikit kuat karena perkataan yang diucapkan Fatimah sudah tidak sesuai lagi. Saat ini Abimayu sangat terhibur dengan tingkah polos putri kecilnya itu.


Beberapa menit kemudian Fatimah terlihat sudah memejamkam matanya dan tertidur dengan pulas. Sedangkan Ana dan Abimayu masih lagi terjaga dengan urusan masing-masing. Abimayu sibuk dengan kerjanya, dan Ana sibuk dengan ponsel di tangannya karena sedang melihat perkembangan butik nya setelah dia menggantinya dengan produk pakaian yang berbeda. Ternyata perkembangan produk pakaian baru yang dia jual di butik nya juga berkembang dengan pesat. Dia merasa sangat bersyukur dengan itu.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Abimayu yang telah menyelesaikan pekerjaannya dan sudah berjalan mendekat ke arah ranjang.


"Lagi memeriksa perkembangan butik, Mas."


"Hemmm bagaimana dengan butiknya, Sayang?"


"Alhamdulillah sudah banyak pelanggannya, Mas."


"Alhamdulillah." Abimayu ikut senang mendengarnya. Sebenarnya, Ana sudah dilarang oleh Abimayu untuk bekerja, tapi Ana tetap ingin kembali mengelola butiknya, dan Abimayu juga tidak keberatan tapi dengan syarat Ana hanya mengontrol butiknya saja dari rumah. Ana juga tidak menolak dengan syarat itu karena dia tidak ingin menjadi istri yang durhaka kepada suaminya lagi.


"Atau sekarang kita coba buat adik untuk Fatimah lagi?" Abimayu sudah mulai menggoda Ana dengan pertanyaannya yang sedikit nakal.


"Mas..." Ana berkata sambil melihat Abimayu dengan raut wajahnya yang sedikit merungut, karena mereka sudah melakukannya setiap hari, tapi Abimayu masih saja merasa belum puas.


Abimayu tersenyum melihat wajah Ana yang begitu, sebenarnya dia hanya ingin menggida Ana saja karena dia tahu itu tidak mungkin mereka lakukan sekarang. Dia hanya mencoba nasibnya saja, jika Ana bersedia maka dia akan sangat senang, dan jika beralasan dia juga tidak memaksa. Hari ini di juga sudah melakukan itu sebelum Risa dan Viko datang berkunjung ke rumah mereka siang tadi.

__ADS_1


__ADS_2