Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 82


__ADS_3

"Ini untukmu" Heri memberikan sebuah undangan pernikahan kepada Abimayu yang dia letakkan di atas meja.


Abimayu yang sedang melihat dokumen berhenti sejenak, lalu melihat ke arah Heri dengan serius.


"Siapa yang akan menikah?" tanya Abimayu penasaran sambil mengambil undangan yang diletakkan Heri di atas mejanya.


Abimayu melebarkan matanya ketika membaca nama yang tertulis di undangan tersebut.


"Apa kamu serius?" Abimayu seperti tidak percaya saat ini.


"Hei, mana ada orang yang main-main dengan undangan yang telah dia sebarkan." Heri sedikit kesal mendengar tanggapan Abimayu.


Abimayu tertawa kuat melihat raut wajah kesal Heri.


"Ya, selamat, Heri. Akhirnya kamu menikah juga dengan wanitamu itu," ucap Abimayu memberikan selamat.


"Kamu harus datang! Aku tidak ingin mendengar alasan apapun itu!" Heri berkata mengancam Abimayu.


"Hemmm kita lihat saja nanti," goda Abimayu kepada Heri.


"Bagaimana dengan istrimu saat ini?" tanya Heri kepada Abimayu.


Abimayu sedikit bingung dengan pertanyaan Heri, dia tidak tahu maksud dari pertanyaan itu.


"Kenapa dengan istri-ku?" Abimayu bertanya sambil menautkan ke dua alisnya.


"Apa sudah ada tanda-tanda?" Heri berkata sambil memainkan matanya kepada Abimayu.


"Apa yang kamu bicarakan, Heri?" Abimayu sudah kesal karena dia tahu maksud dari ucapan Heri itu, karena dia pernah kelepasan bicara jika dia sama sekali belum melakukan hubungan dengan Ana, karena waktu itu Heri tidak habis-habis menggodanya di saat dia kembali menikah dengan Ana.


"Jangan sampai aku yang lebih dulu membuatnya nanti."


Heri tertawa lepas di saat Abimayu melemparkan sebuah kertas ke hadapannya karena mendengar perkataan yang dia ucapkan.


"Apa kamu tidak melihat sebelum ini hasilnya sudah ada, ha?"


Jika berbicara dengan Heri yang model begini, Abimayu terkadang juga tidak bisa menjaga ucapannya, karena dia ingin membungkam mulut Heri, jadi dia mengikuti arah bicaranya Heri.

__ADS_1


"Hemmm ya, tapi sekarang kan kalian baru menikah lagi, jadi tidak ada salahnya untuk membuat yang baru lagi."


Abimayu hanya bisa menggelengkan kepalanya karena tidak ingin melayani bicara Heri lagi, jika tidak Heri akan semakin terus menggodanya.


Ting


Bunyi pesan terdengar dari ponsel Abimayu. Dia bergegas melihat isi pesan itu.


"Mas, aku dan Fatimah pergi keluar, aku mau membeli perlengkapan memasak karena sudah habis semua."


Abimayu tidak ingin membalas pesan itu, tapi dia langsung menghubungi Ana.


"Tapi kan tidak lama, Mas. Hanya sebentar. "


Terdengar suara Ana di seberang ponsel yang sedang berbicara.


"Sayang, tidak usah masak dulu! Nanti malam kita akan makan di luar saja! Besok Mas akan temani kamu belanja." Abimayu berkata karena dia tidak ingin Ana terlalu direpotkan dengan acara memasaknya di rumah karena memikirkan dirinya yang mungkin ingin makan di rumah malam ini. Ana mengatakan jika bahan masakan mereka di rumah telah habis, dan dia ingin pergi untuk persiapan dia memasak makan malam.


"Mas..."


"Hemmm sekarang kamu benar-benar terlihat seperti pria yang dimabuk cinta," ucap Heri setelah Abimayu menutup panggilannya.


"Kamu cemburu? Makanya menikah dari dulu."


"Dasar pria tidak sadar diri! Padahal dia saja dulu hampir gagal."


"Heriiiiii." Abimayu menekan suaranya mendengar ucapan Heri saat ini.


...----------------...


Sepulang dari perusahaan Abimayu disambut oleh dua wanita yang berbeda usia. Mereka telah bersiap menunggu kedatangan Abimayu yang akan membawa mereka pergi keluar seperti yang telah dijanjikan Abimayu siang tadi.


Sekarang Abimayu tidak perlu khawatir lagi seperti saat dulu ketika ingin pergi keluar bersama Ana, karena Ana yang dulu sudah jauh berbeda dengan Ana yang sekarang. Jika Ana yang dulu terlalu suka memakai pakaian yang memperlihatkan lekukan tubuhnya bahkan sebagian dari tubuhnya hampir terlihat, sekarang dia bagaikan tidak ingin ada seinci dari tubuhnya yang dilihat oleh orang lain. Dia benar-benar menutup dirinya dengan sempurna.


Tangan Abimayu disalami bergantian oleh Ana dan Fatimah, lalu membalas dengan mencium kening mereka.


"Mas...." Ana berkata menahan geram kepada Abimayu, karena Abimayu berhasil melayangkan ciumannya di bibir Ana meskipun tertutup cadar di saat Fatimah tidak melihat ke arah mereka.

__ADS_1


Ana tidak ingin Fatimah melihat kejadian itu. Tapi Abimayu selalu saja berhasil tanpa dilihat oleh Fatimah.


"Mas akan bersiap sebentar." Abimayu berkata sambil berjalan meninggalkan Ana dan Fatimah untuk naik ke lantai atas mengganti pakaiannya.


"Abi...." Fatimah sudah merengek melihat Abimayu yang naik ke atas meninggalkan mereka.


"Sayang, Abi pergi ganti baju dulu. Setelah itu kita akan pergi." Fatimah sedikit merubah raut wajahnya karena sudah menunggu Abimayu sejak tadi.


Awalnya Ana juga ingin mengikuti Abimayu naik ke atas lagi karena berniat untuk membawakan tas kerja Abimayu, tapi Abimayu si suami yang paling penyayang saat ini itu tidak suka merepotkan istri tercintanya. Selagi dia bisa mengerjakannya, maka dia tidak akan meminta bantuan kepada istrinya.


Akhirnya Ana mengalah dan tidak jadi ikut ke atas bersama Abimayu.


Beberapa menit kemudian, Abimayu terlihat telah turun kembali ke bawah memakai pakaian yang warnanya senada dengan dua wanita kesayangannya itu.


Ana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Abimayu itu. Tapi meskipun begitu, pesona sang suami tetap bisa mendebarkan jantungnya meski sekarang dia terlihat seperti pria muda yang nampak sedang jatuh cinta kepada kekasihnya.


"Ayo, Sayang-sayang-ku, kita berangkat sekarang!" ucap Abimayu setelah dia sampai di dekat anak dan istrinya lagi.


"Yeee kita berangkat." Suara riang Fatimah terdengar saat Abimayu mengatakan mereka akan berangkat.


Sesampainya di tempat yang mereka pilih untuk makan malam bersama, tiba-tiba mereka dihampiri oleh seorang pria tampan yang dulu pernah ingin melamar Ana langsung ke rumahnya. Ya, dia adalah Justin.


"Hai, Ana. Apa kabar?" tanya Justin yang sudah menghampiri meja mereka.


"Justin." Ana berkata juga menyapa Justin saat ini.


"Aku baik, alhamdulilla," lanjut Ana menjawa pertanyaan Justin.


"Kamu di sini dengan siapa?" tanya Ana karena tidak melihat ada yang bersama Justin saat ini.


"Aku hanya sendiri." Justin tidak hanya menyapa Ana, tapi dia juga menyapa Abimayu dan Fatimah.


Ana tidak sadar jika sejak dia berbicara dengan Justin, raut wajah Abimayu berubah sedikit masam, dan yang membuat Abimayu semakin merubah raut wajahnya ketika Fatimah dengan senang diajak bicara oleh Justin.


"Apa kamu akan tetap berbicara dengan istriku?" tanya Abimayu dengan wajah kesalnya.


"Ehmmm sepertinya waktu kita bertemu tidak tepat, Ana." Justin seperti menambah kekesalan Abimayu dengan perkataannya. Sedangkan Ana masih tidak menyadari bahwa sang suami sedang menahan kesalnya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2