Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 67


__ADS_3

"Kenapa terburu-buru sekali, Sya?" tanya Sarah kepada Ana yang tiba-tiba ingin berpamitan pulang ke kotanya kepadanya setelah sekian lama dia berada si sini.


"Saya juga tidak tahu, Kak. Tapi saya sangat ingin pulang sekarang, Kak Sarah." Ana berkata sambil menangis. Dia tidak tahu kenapa hatinya saat ini begitu gelisah dan teringat akan orang tuanya. Hingga dia benar-benar ingin kembali sekarang untuk menemui orang tuanya.


"Kamu tenang dulu, Sya. Jangan seperti ini," ucap Sarah sambil memeluk Ana yang sudah menangis.


"Aku ingin kembali sekarang, Kak." Ana kembali berkata dengan tangisnya yang belum reda.


"Apa yang terjadi, Sya?" tanya Sarah, karena dia terkejut melihat Ana yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengatakan ingin kembali ke kotanya.


"A.. k.. aku merindukan papa dan mama-ku, Kak." Ana akhirnya mengatakan kepada Sarah tentang kegelisahan hatinya dan yang membuat dia menangis saat ini.


"Istighfar, Sya. Biar kamu bisa tenag dulu," jawab Sarah yang masih memeluk Ana sambil mengelus pundaknya.


Ana melakukan apa yang dikatakan oleh Sarah kepadanya. Tapi dia masih tetap saja merasa sedih.


"Kak, aku akan pergi sekarang!" ucap Ana.


"Kakak paham, Sya. Kakak juga senang mendengarnya, dan Kakak juga tidak melarang kamu. Tapi kamu jangan terburu-buru seperti ini, karena kamu akan pergi bersama Fatimah." Sarah memperingati Ana.


Ana melepaskan pelukannya dengan Sarah, lalu mencoba untuk menenangkan dirinya lagi dengan beristighfar.


"Maaf, Kak Sarah. Aku tidak isa menahan perasaan ini, karena dia datang secara tiba-tiba.


" Ya..Kakak paham, dan mungkin di sana mereka juga sedang merindukan kamu," ucap Sarah sambil mengelus pundak Ana lagi.


"Terima kasih, Kak Sarah, terima kasih atas kebaikan Kak Sarah selama ini kepada-ku dan juga kepada Fatimah." ucap Ana yang membuat hatinya menjadi sendu lagi.


Sarah kembali memeluk tubuh Ana, karena dia juga merasa sedih di hatinya, karena ini pertama kalinya sejak mereka bertemu Ana akan pergi meninggalkannya.


...----------------...


Bagaimana cara untuk kita memberitahunya, Nak Abi?" ucap kiran sambil menangis terisak di samping jasad suaminya yang tertutup kain panjang.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ma. Aku juga sudah berusaha untuk mencarinya di mana-mana, tapi aku belum bisa menemukannya." Abimayu berkata sendu.


Saat ini mereka tidak tahu harus bagaimana untuk mengatakan kepada Ana bahwa papa nya telah tiada sejak beberapa jam yang lalu.


"Apa yang harus mama lakukan sekarang, Pa?" Kiran seolah bertanya kepada suaminya yang sama sekali tidak bisa mendengarnya lagi.


Abimayu juga sudah bertanya kepada orang suruhannya, tapi mereka juga belum bisa menemukan jejak Ana.


Abimayu duduk bersandar di bagian tengah rumah, di sana masih terlihat Kiran yang menangis di samping jasad suaminya.


"Ana... pulanglah, kamu hanya bisa melihat papamu saat ini lagi, karena nanti kamu tidak akan bisa melihatnya lagi untuk selamanya."


Abimayu mejamkan matanya sambil berbicara sendiri di dalam hatinya, seakan dia sedang memberitahu kepada Ana.


Perlahan Abimayu kembali membuka matanya, dan saat matanya terbuka, dia melihat dari arah pintu masuk seorang wanita berpakaian tertutup dan memakai cadar di wajahnya sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


Deg


"Ana..." nama Ana terucap dari bibirnya dengan seketika.


Dia tahu dan bisa mengenali meskipun yang terlihat dari wanita itu hanyalah bagian matanya, karena wajahnya ditutupi oleh cadar.


Wanita itu adalah Ana yang telah sampai ke rumah orang tuanya saat ini.


Semakin Ana mendekat, jantung Abimayu semakin berdegub kencang, apalagi sekarang dia melihat bahwa Ana menggandeng tangan seorang gadis kecil yang pernah dia temui di rumah Sarah kakak iparnya beberapa hari yang lalu.


"Ana...." terdengar suara Kiran memanggil nama Ana saat Ana telah mendekat ke arah di mana tubuh sang papa yang terbaring kaku.


Seketika Ana menghambur kepelukan sang mama dan memeluknya dengan kuat, dia tidak menyangka bahwa mama nya masih bisa mengenalinya meskipun dia bercadar.


Tangis Ana pecah sejadi-jadinya di pelukan sang mama, hatinya begitu hancur ketika mengetahui setelah dia sampai dan melihat papanya yang sudah meninggalkannya untuk selamanya.


"Kamu kembali, Sayang. Ini kamu Ana, Ana putri-ku?" Kiran seakan tidak percaya bahwa yang berada di hadapannya ini adalah Ana putrinya.

__ADS_1


"Pa... ini Ana, Pa. Dia telah kembali, tapi papa tidak bisa melihatnya lagi, Ana putri kita kembali, Pa." kiran berbicara sambil menangis seakan memberitahu kepada sang suami yang tidak bisa mendengar apapun lagi.


Ana mendekat ke arah tubuh papanya yang terbaring, lalu mencium wajah papanya berulang kali. Wajah ini sangat dia rindukan selama ini, dia sangat ingin bermanja lagi dengan sang papa, dia ingin mendengar suara sang papa memanggilnya. Tapi semua itu tidak bisa dia dapatkan lagi ketika dia telah kembali, bahkan untuk meminta maaf pun dia tidak mempunyai kesempatan lagi.


"Maafkan aku, Pa. Maafkan aku yang tidak sempat meminta maaf kepada papa, maafkan aku jika telah menjadi anak yang durhaka dan tidak berbakti kepada papa," ucap Ana dengan isak tangisnya sambil masih menciumi wajah sang papa."


...----------------...


Sekarang Ana berada di pemakaman tempat terakhir bagi papannya, dia belum ingin pulang ke rumah karena merasa masih belum puas ketika terakhir kali melihat papanya.


Air mata Ana terus menetes hingga membasahi cadar di wajahnya, ternyata inilah tanda dari kegelisahan hatinya sejak sebelum dia tiba di kota ini, tapi dia masih tetap bersyukur masih diberikan kesempatan untuk melihat wajah sang papa meskipun tubuh itu tidak bergerak lagi.


"Bunda, kenapa menangis?" suara kecil Fatimah memanggil dan bertanya kepada Ana, karena dia tidak mengerti denga apa yang terjadi saat ini. Sejak tadi dia hanya mengikuti ke mana Ana membawanya pergi.


Mendengar suara Fatimah, Ana seperti baru tersadar kembali bahwa dia sekarang bersama Fatimah.


"Tidak mengapa sayang, Bunda saat ini lagi sedih, makanya bunda menangis." Ana berkata sambil mengelus puncak kepala Fatimah. Dia hanya bisa menjelaskan bahwa saat ini dia sedang bersedih, karena Fatimah juga mengerti jika seseorang bersedih, maka dia akan menangis.


"Bunda kenapa sedih?" tanya Fatimah lagi.


"Bunda sedih karena Kakek Fatimah sudah pergi, Sayang."


"Ehmmm Kakek yang di sini ya Bunda?" Fatimah berkata sambil menunjuk ke arah gundukan tanah dari makam papa nya.


"Iya, Sayang."


"Kakek itu siapa, Bunda?" tanya Fatimah kembali


Ana menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan putrinya yang terakhir, dia baru menyadari bahwa Fatimah tidak tahu pernah tahu panggilan dari kakek tersebut.


"Kakek sama dengan mbah, Sayang. Sama seperti mbah nya kak Hawa." Ana memberitahu dengan memberikan contohnya supaya Fatimah cepat memahaminya.


Ana dan Fatimah masih berada di makam beberapa waktu lagi, dan ternyata tanpa mereka sadari sejak tadi seorang pria sedang memperhatikan mereka dari jarak yang sedikit jauh.

__ADS_1


__ADS_2