
Jam sudah menunjukkan pukul 21:00 WIB. Malam semakin larut, dan Ana sendirian di rumah. Dia sudah menghubungi Abimayu sejak tadi, tapi satu pun panggilan darinya belum dijawab oleh Abimayu. Ia juga mengirimkan pesan.
"Aku akan keluar malam ini bersama temanku." Isi pesan yang dikirim Ana kepada Abimayu, karena sejak tadi dia menunggu, Abimayu belum juga pulang ke rumah.
Ana bergegas keluar dari rumah, karena dia sudah sangat terlambat. Malam ini, salah seorang temannya mengadakan pesta di rumahnya, dan Ana sudah berjanji akan datang ke pesta itu.
"Di mana suamimu?" tanya Risa saat bertemu dengan Ana di pesta itu.
"Dia tidak ikut." Jawab Ana sekenanya.
"Ayo kita ke sana!" ajak Ana kepada Risa sambil menunjuk sebuah tempat di rumah temannya yang sedikit gelap dan dihiasi dengan lampu kelap-kelip dengan suara musik yang membuat orang berselera untuk berjoged.
"Ayo, sudah lama kita tidak menikmati hal seperti itu lagi," ucap Risa dan berjalan menggandeng tangan Ana menuju tempat yang mereka tuju.
Ana sangat senang menikmati saat mereka sudah bergabung ikut berjoged bersama orang-orang di ruangan itu.
Di sudut tempat yang berbeda, seseorang sedang memegang ponselnya mengarahkan ke arah Ana yang sedang berjoged, dan beberapa menit kemudian dia mengirim sebuah video kepada seseorang.
Lelah berjoged, Ana dan Risa memilih untuk beristirahat dan duduk di kursi. Beberapa menit kemudian, seorang pria datang menghampiri mereka.
"Justin!" Ana dan Risa memanggil nama pria itu secara serentak.
"Kapan kamu kembali ke sini?" tanya Risa.
Justin adalah salah seorang teman pria yang sangat dekat dengan mereka, dulu Justin sempat menyukai Ana, tapi dengan jelas Ana menolaknya dan berkata terus terang tidak akan pernah mau menerimanya. Tapi Justin tidak marah, dia menerima penolakan Ana.
"Sudah satu minggu yang lalu." Justin menjawab sambil tersenyum melihat dia orang wanita di depannya itu.
"Kenapa tidak menghubungi kami?" sekarang, Ana yang bertanya kepada Justin.
"Tiga hari yang lalu aku menghubungi Risa, tapi ternyata dia tidak pernah berubah, dari dia selalu suka mengganti nomor ponselnya." Wajah kesal Justin terlihat saat bicara.
"Kenapa kamu tidak menghubungiku, Justin bodoh?" Ana berkata.
"Maaf, aku takut menganggumu."
"Sejak kapan kamu menjadi orang yang sopan?"
"Aku takut suamimu marah, Nyonya Ana." Justin menggoda Ana sambil tertawa.
"Aku tidak percaya, kamu bukan orang yang sesopan itu."
"Hemmm, sekarang aku memang lebih sedikit sopan sejak kamu tinggalkan."
__ADS_1
"Justin...." Ana tidak ingin Justin mengungkit masa lalu mereka, karena dulu Justin pernah menyatakan perasaanya kepada Ana.
"Kamu tahu, aku pergi karena kecewa dengan pernikahanmu."
"Itu tidak lucu sama sekali, Justin."
"Aku tidak berbohong, Ana. Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu."
"Aku akan pergi saat ini jika kamu tidak berhenti!" ancam Ana kepada Justin yang terus menggodanya. Dia sangat tidak suka digida begitu oleh Justin, bahkan dari sejak dulu lagi.
"Baiklah, jangan pergi! Kamu juga tidak berubah, masih saja pemarah seperti dulu."
"Aku memang wanita....,"
"Pemarah, keras kepala, sombong dan manja." Mereka bertiga serentak mengatakannya. Sejak dulu, itu adalah kata yang selalu diucapkan Ana ketika mereka membuatnya kesal.
Mereka bertiga tertawa bersama dan kembali melanjutkan ceritanya.
...----------------...
Sekarang Abimayu telah tiba di rumah, dan saat dia pulang, dia tidak menemukan Ana di mana pun, biasanya Ana selalu akan tetap menemuinya saat dia tiba di rumah.
Sebelum mengganti pakaian nya, sebuah pesan berupa video masuk ke ponselnya,dan setelah dia buka ternyata membuat dia menjadi sangat marah.
"Kenapa bertanya? Bukannya Mas Abi tidak peduli padaku?" jawab Ana sambil menatap Abimayu.
"Aku memang tidak peduli, tapi jika kamu membuatku menjadi malu, aku akan tetap mempedulikan itu."
"Membuat Mas Abi malu yang bagaimana?"
"Lihat ini!" Abimayu melihatkan sebuah video kepada Ana.
"Mas Abi mengawasiku?"
"Tidak ada gunanya aku melakukan itu untukmu, aku juga sudah tahu kelakuan burukmu."
"Lalu ada apa dengan ini?" jawab Ana sambil melihat ke arah video yang ditunjukkan Abimayu kepadanya.
"Apa kamu tidak malu melakukan hal seperti itu? Apa kamu sadar jika di dekat kalian juga ada beberapa pria yang ikut berjoged?"
"Kenapa Mas Abi harus peduli dengan itu? Bukankah aku memang seperti itu di mata Mas Abi? Aku hanya melakukan sesuai dengan yang Mas Abi tuduhkan."
"Satu hal lagi, siapa pria yang bersaamamu malam ini? Apa dia salah satu pria yang telah kamu puaskan?"
__ADS_1
Bila mata Ana melebar melihat Abimayu.
"Apa Mas Abi cemburu?"
"Tidak ada gunanya aku cemburu kepada wanita sepertimu!"
"Aku tahu, Mas Abi cemburu karena aku telah memuaskan pria itu, dan aku tidak pernah memuaskan Mas Abi."
"Apa yang kamu bicarakan?"
"Jika Mas Abi ingin, Mas Abi jangan malu untuk mengatakannya. Aku pasti dengan senang hati akan melayani Mas Abi sampai puas."
"Tutup mulutmu, Ana! Bicaramu membuat aku semakin merasa jijik melihatmu."
"Ayo, aku masih mempunyai tenaga untuk memuaskan Mas Abi." Ana sudah memegang tangan Abimayu.
"Lepaskan, Ana! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!"
"Tanganku sudah aku bersihkan setelah memuaskan pria tadi." Ana berkata untuk membuat Abimayu semakin panas.
Abimayu tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Ana saat ini. Semua yang dia katakan selalu di bantah oleh Ana.
"Ana, kamu tahu, di fikiranku sekarang, bagaimana kalau kita bercerai saja? Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini bersamamu," ucap Abimayu pelan kepada Ana yang membuat Ana melebarkan bola matanya.
"Apa yang Mas Abi katakan?"
"Melihat hubungan kita ini, lebih baik kita bercerai saja," ucap Abimayu sekali lagi.
"Tidak!" bantah Ana langsung.
"Aku sudah tidak bisa melanjutkan semua ini, aku juga ingin hidup tenang, Ana!"
"Aku tidak mau kita bercerai!"
"Kenapa kamu sangat egois? Seharusnya kamu mengerti kenapa aku memilih ingin bercerai."
"Sssttttttttt" Ana menempelkan jari telunjuknya di bibir Abimayu. "Kita akan tetap menjadi suami istri sampai kapan pun."
Abimayu sudah menolak tangan Ana yang menempel di bibirnya dengan kuat.
"Sekarang ayo kita istirahat!" ajak Ana kepada Abimayu yang masih menahan kesal di wajahnya.
Abimayu hanya diam dan pergi meninggalkan Ana naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sedangkan Ana masih berdiri di tempatnya sambil melihat Abimayu berjalan membelakangi nya.
__ADS_1
Kata cerai yang baru diucapkan Abimayu membuat Ana semakin bertekad untuk mempertahankannya. Dia sudah berjanji pada dirinya akan menaklukkan Abimayu bagaimana pun caranya. Selama ini Abimayu sudah banyak menghancurkan harga dirinya dengan menuduhnya dengan sesuatu yang tidak pernah dia kerjakan.