
Dalam satu minggu ini Abimayu tidak terlihat sama sekali mengunjungi Fatimah, tapi gadis kecil itu tidak memberontak seperti biasanya. Dia sudah diberitahu Abimayu sejak awal, karena ada sesuatu yang akan dia selesaikan, tapi dia tidak menyebutkan apa urusan yang dia selesaikan dalam seminggu ini hingga menyebabkan dia tidak bisa menemui Fatimah.
Tapi ternyata, ketika Fatimah tidak memberontak dengan ketidakhadiran Abimayu, itu berpengaruh kepada kesehatannya. Beberapa hari ini Fatimah demam tinggi yang membuat dia harus dirawat di rumah sakit.
"Coba hubungi Abimayu lagi, Ana. Siapa tahu dia menjawabnya." kiran berkata kepada Ana saat mereka menunggui Fatimah di rumah sakit. Sudah dua malam mereka di rumah sakit, tapi Abimayu belum muncul untuk melihat Fatimah. Sedangkan Fatimah setiap malam dalam tidurnya memanggil Abimayu tanpa sadar.
"Sudah, Ma. Tapi Mas Abi tidak menjawabnya." Ana berkata sendu sambil melihat putri kecilnya yang terbaring lemah. Dia sudah mencoba menghubungi Abimayu, bahkan dia juga sudah mengirim pesan karena Abimayu tidak menjawab panggilannya. Tapi pesan itu pun belum dibaca oleh Abimayu.
Ada rasa marah pada diri Ana saat ini. Di saat keadaan Fatimah yang begini, dia merasa menyesal untuk membawa Fatimah kembali ke sini. Jika mereka dulu masih tinggal di pesantren Sarah, mungkin Fatimah tidak pernah merasakan rasa rindu yang begini, karena dia tidak tahu siapa ayahnya.
"Aku sudah pasrah, Ma. Jika Mas Abi juga tidak datang, aku tidak akan berharap apa-apa lagi. Mungkin dia memang sudah tidak ingin peduli dengan Fatimah lagi, biarlah kami hidup tanpa ada bayang-bayang Mas Abi lagi, aku akan mencoba memberi pengertian kepada Fatimah nanti."
Ana sudah menyerah sekarang, dia tidak peduli datang atau tidaknya lagi Abimayu.
Ana berjalan mendekat ke arah Fatimah, badan Fatimah masih saja panas dan belum turun hingga sekarang. Putri kecilnya itu sungguh anak yang kuat, saat sakit begini dia tidak mengeluh merasakan sakit di tubuhnya. Tapi dia juga tidak bisa di biarkan saja, karena Ana khawatir panas tubuhnya yang tidak bisa turun akan berpengaruh kepada yang lain, sehingga dia membawa Fatimah ke rumah sakit.
Ana juga tidak tahan mendengar di saat Fatimah memanggil Abimayu dalam tidurnya. Sungguh dia tidak menyangka ini terjadi kepada putrinya karena merindukan sang ayah.
...----------------...
"Kenapa suratnya kembali ke sini?" tanya Abimayu kepada Heri yang duduk di sofa ruangannya.
"Pengacaramu mengatakan mereka tidak ada di rumah saat ini," jawab Heri dengan cepat.
Deg
Jantung Abimayu berdetak mendengar perkataan Heri. Dia sudah mengurus surat perceraian mereka dalam satu minggu ini, dan dia sudah mengirimkan pengacaranya untuk menemui Ana dan menyerahkan surat dari pengadilan, dia tidak bisa memberikan secara langsung karena dia sedang sibuk mengurus proyek di luar kota. Tapi apa yang disampaikan Heri membuat dia sedikit khawatir.
Ponselnya yang dia abaikan selama satu minggu ini dia ambil dari laci mejanya, karena melihat ponsel pun dia tidak sempat. Apalagi saat pergi, ponselnya tertinggal di perusahaan. Jadi jika ada urusan kerja, maka dia akan meminta Heri untuk menghubungi.
Saat dia melihat ponselnya, ada beberapa kali panggilan dari Ana, dan sebuah pesan yang dikirim Ana kepadanya.
Matanya melebar ketika melihat isi pesan itu, lalu dengan cepat dia pergi ke rumah sakit untuk menemui mereka.
Klek
__ADS_1
Abimayu membuka pintu ruangan di mana Fatimah di rawat dan dia melihat sebuah pemandangan yang membuat hatinya merasakan sakit.
Fatimah terlihat terbaring lemah dengan selang infus di tangannya dan di sampingnya ada Ana yang tertidur, sebelah tangannya dia letakkan di ranjang Fatimah yang dijadikan sebagai bantal untuk kepalanya.
"Abi.... " terdengar suara lemah Fatimah memanggil Abimayu karena dia telah bangun dan melihat Abimayu yang datang.
Stttttt
Abimayu meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar Fatimah berhenti bicara, karena dia takut membangunkan Ana yang sedang tidur.
"Abi di sini, Sayang," ucap Abimayu pelan sambil mencium kening Fatimah yang terasa masih panas.
Hati Abimayu kembali sayu melihat kondisi Fatimah yang sangat lemah.
Ehmmmm
Ana terbangun dari tidurnya karena merasakan pergerakan dari Fatimah, sayup-sayup dia juga bisa mendengar bahwa ada suara Abimayu di sekitar mereka. Dia ingin memastikan apakah dia tidak sedang bermimpi.
Saat Ana membuka matanya, dia melihat Abimayu yang sudah duduk di samping Fatimah sambil menyuapkan Fatimah makan.
...----------------...
"Maafkan Mas karena baru bisa melihat Fatimah." Abimayu berkata di saat Fatimah telah tidur kembali karena tubuhnya masih lemah.
"Jika aku tidak memikirkan Fatimah, mungkin dari awal lebih baik aku tidak memberitahu kepada Mas Abi tentang Fatimah." Ana seperti melepaskan kekesalannya saat ini.
"Ana...seminggu Mas ada proyek yang harus diselesaikan dan tidak bisa ditinggalkan." Abimayu berkata untuk membela dirinya, dia tidak ingin Ana berfikir dia sengaja mengabaikan Fatimah selama seminggu ini.
"Apa Mas Abi juga sampai tidak bisa membalas pesan yang aku kirim?" tanya Ana dengan kesal mengingat pesan itu pun belum dibalas Abimayu sampai saat ini.
Huffff
Abimayu menghela nafas sejenak, dia takut apa yang akan dia sampaikan dianggap Ana suatu kebohongan.
"Ponsel Mas tertinggal di perusahaan," ucap Abimayu pelan.
__ADS_1
"Alasan apa yang Mas Abi coba katakan? Jika memang tidak ingin menemui Fatimah lagi, katakan saja! Aku juga tidak masalah dengan itu, selama ini kami juga bisa hidup tanpa Mas Abi."
Ana tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya, dia tidak tahu kenapa dia harus semarah ini.
"Ana, Mas tidak berbohong! dan..." Abimayu berhenti sejenak untuk mengatur perasaannya yang sakit ketika ingin berbicara lagi.
"Dan Mas juga sudah mengurus surat cerai kita, selama satu minggu ini Mas juga berusaha untuk mengurus itu agar kamu bisa terlepas dari hubungan kita ini, dan kamu bisa melanjutkan kehidupan kamu nantinya." Abimayu berhenti bicara, dadanya terlihat naik turun menahan gejolak rasa yang begitu sakit saat dia mengucapkan kata itu.
Hiks, hiks, hiks.
terdengar suara isak tangis dari bibir Ana.
"Kenapa aku harus serapuh ini?" ucap Ana dalam isak nya.
Abimayu merasa sangat tersakiti melihat Ana yang terisak.
"Ana..." Panggil Abimayu, dia juga tidak tahu kenapa Ana menangis.
"Aku sudah berusaha untuk membuang rasa hati ini, tapi sampai sekarang aku tidak bisa Mas. Kenapa aku terus bertahan untuk menyukai Mas Abi, sedangkan selama ini aku sudah banyak sekali disakiti?"
Mendengar perkataan Ana, air mata Abimayu menetes seketika. Dia begitu terharu mendengar pengakuan Ana saat ini.
"Apa aku salah jika aku sekarang berharap bisa memulai kehidupan baru dengan Mas Abi lagi?"
Duaarrr
Rasanya bagai disambar petir di saat Abimayu mendengar ucapan Ana untuk yang kesekian kalinya.
"Ya, aku memang ingin memulai kehidupan baru, tapi aku menginginkan kehidupan baru itu dengan Mas Abi lagi."
Hiks, hiks, hiks.
Isak Ana masih terdengar meskipun sekarang dia mencoba menutup wajahnya yang bercadar dengan ke dua tangannya.
"A a na." Abimayu juga ikut menangis dan terisak, dia ingin sekali memeluk wanita yang ada bersamanya saat ini setelah apa yang telah dia ucapakan.
__ADS_1