Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 63


__ADS_3

"Bunda, Fatimah mau boneka yang itu," ucap Fatimah memegang boneka berukuran besar, bahkan hampir sama besar dengan dirinya saat mereka berada di sebuah toko boneka di pusat kota.


"Bagaimana kalau yang ini saja?" tanya Ana dan menunjukkan sebuah boneka yang berukuran lebih kecil dari yang ditunjuk oleh Fatimah saat ini.


"Mau yang ini saja, Bunda." Fatimah tetap bersikukuh meminta boneka pilihannya.


"Sayang, yang ini saja, ya," bujuk Ana kepada Fatimah. Tapi Fatimah tetap menggelengkan kepalanya.


Dia bukannya tidak ingin membelikan Fatimah boneka yang diinginkan oleh Fatimah, tapi saat ini uang nya hanya tinggal untuk membayar sewa kendaraan mereka untuk pulang nanti, dan uang itu hanya cukup untuk membeli boneka yang dia pilihkan.


"Sayang... uang Bunda hanya cukup beli boneka yang ini, yang ini saja, ya. Boleh?" Ana kembali membujuk dengan memberikan penjelasa kepada Fatimah supaya dia mengerti kondisinya saat ini.


Fatimah tetap menggelengkan kepalanya, dia sudah menangis, bahkan yang membuat Ana semakin susah, dia sudah memeluk boneka yang dia inginkan itu dengan kuat.


Huuffff


Ana menarik nafas sejenak, dia masih berfikir bagaimana caranya agar Fatimah bisa diajak kerjasama saat ini.


"Bun nn dda, Fa ti maah ma ma uu ii nnniii." Kembali Fatimah meminta dengan isak tangisnya.


Ana mencoba untuk membuka dompetnya, dia sempat berdikiran aneh, karena berharap uangnya bisa tiba-tiba bertambah, dan setelah dompetnya terbuka, uang yang ada di dalam tetap berjumlah seperti yang telah dia tahu sejak tadi.


"Ya allah, apa yang harus saya lakukan." Ama berbicara sendiri pada dirinya, karena tangis Fatimah belum juga reda.


Saat dia ingin menutup kembali dompetnya, Tiba-tiba dia melihat sebuah kartu berwarna hitam, kartu yang dulu diberikan Abimayu kepadanya, meskipun dia tidak pernah lagi menggunakannya, tapi kartu itu masih tetap berada di dompetnya.


"Ayo, temani Bunda mengambil uangnya dulu," ajak Ana kepada Fatimah. Tapi Fatimah juga tidak ingin pergi dari tempat itu.


"Mbak, dia boleh di sini dulu? Saya ingin mengambil uang dulu." tanya Ana kepada wanita penjaga toko boneka tersebut.


Wanita penjaga toko itu mengangguk untuk menyetujui permintaan Ana.

__ADS_1


"Fatimah di sini dulu, ya. Bunda ambil uangnya dulu." Ana berkata kepada Fatimah, dan dijawab oleh Fatimah dengan mengangguk. Ana hanya bisa tersenyum melihat putrinya itu. Dia benar-benae bertahan tetap di situ sebelum boneka itu menjadi miliknya.


Akhirnya Ana pergi tempat penarikan uang yang berada tidak jauh dari toko boneka itu, dia juga masih bisa melihat Fatimah dari tempat itu nantinya karena jaraknya kira-kira hanya beberapa meter.


Saat Ana memeriksa kartu itu, ternyata masih bisa digunakan, bahkan Ana terkejut karena uang di dalamnya semakin bertambah banyak. Ana tidak menyanka, ternyata Abimayu masih mengirimi dia uang sampai sekarang.


Jantung Ana berdegup kencang saat mengetahui nya. Apa arti dari semua ini? Padahal dia telah lama pergi dari hidup Abimayu, tapi ternyata Abimayu masih memberikan nafkah kepadanya.


"Fatimah senang?" tanya Ana setelah dia berhasil membeli boneka besar itu untuk Fatimah dengan uang dari kartu Abimayu.


"Se nn aa nng Bunda." Fatimah berkata dengan sisa tangisnya.


Ana tersenyum melihat tingkah Fatimah yang begitu, meskipun dia anak yang patuh, tapi suatu waktu dia juga bisa tidak mendengar perkataan Ana jika dia benar-benar menginginkan suatu hal. Tapi dia masih meminta dengan cara yang sopan meski harus menangis.


"Ayo, kita pulang, Sayang." Ana berkata untuk mengajak Fatimah pulang sambil dia menyapu sisa air mata di pipi Fatimah dan memberulkan kembali hijab yang dipakai Fatimah karena terlihat sudah sedikit berantakan.


Ana tidak menyadari apa yang telah dia lakukan tadi membuat seseorang di tempat yang lain berhasil mengetahui kota di mana dia berada sekarang.


Abimayu sedang berada di ruangannya memeriksa beberapa dokumen yang berserakan di mejanya. Dia tidak sendirian di dalam ruangan itu, dia ditemani oleh Heri sang sekretaris yang masih setia bekerja bersamanya sampai saat ini.


Huuuuuuffff


Terdengar suara hembusan nafas Abimayu. Sampai saat ini, hatinya masih saja terus tidak tenang, karena dia belum menemukan Ana sama sekali.


"Apa ini perlu aku perbaiki lagi?" tanya Heri kepada Abimayu sambil melihatkan sebuah dokumen yang menurutnya belum rapi.


"Jika kamu yakin itu belum sesuai dengan yang kita rencanakan, kamu harus perbaiki." Abimayu menjawab sambil melihat bagian dokumen yang menurut Heri belum rapi.


"Menurutku ini ju... "


Ting

__ADS_1


Ponsel Abimayu berbunyi sekali yang membuat ucapan Heri terhenti karena Abimayu dengan cepat melihat ke arah ponselnya.


Heri bisa melihat wajah Abimayu berubah menjadi tegang, nafasnya terlihat turun naik.


"Ayo ikut aku." Abimayu berkata sambil berdiri dari duduknya.


"Kem... "


"Jangan banyak tanya, Heri!" ucap Abimayu sedikit marah yang membuat Heri terdiam dan ikut berjalan di belakang Abimayu.


"Kamu bawa mobilnya, kita akan pergi ke Bank yang dekat dari sini." Abimayu berkata sambil terus menyentuh layar di ponselnya.


"Apa yang terjadi, Abi?" tanya Heri ketika mereka sudah di perjalanan.


"Aku hampir menemukan di kota mana Ana bwrada," jawab Abimayu masih dengan terburu-buru.


Akhirnya Heri memahami kenapa Abimayu twelihat begitu terburu-buru, ternyata Abimayu telah menemukan titik di mana sang istri yang telah dia cari selama ini.


"Tolong periksa data dari penarikan ini." Abimayu berkata kepada petugas sebuah Bank yang mereka kunjungi saat ini sambil melihatkan ponselnya.


"Mohon di tunggu sebentar, Pak." Petugas Bank itu meminta sedikit waktu untuk memeriksa data yang disuruh oleh Abimayu.


Abimayu seperti tidak sabar lagi untuk menunggu, jika memungkinkan saat ini dia langsung ingin pergi ke tempat di mana Ana sekarang.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya petugas Bank itu selesai memeriksa data yang diinginkan Abimayu.


"Kalian coba temukan dia di kota ini." Abimayu sudah berkata di ponselnya.


Dia langsung menghubungi orang suruhannya untuk mencari Ana di kota yang terlihat di data dari petugas Bank. Notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya tadi adalah pemberitahuan tentang penarikan uang dari kartu yang selama ini masih dipegang oleh Ana. Dari notifikasi itu, dia bisa mencari tahu di kota mana Ana menarik uang tersebut.


Ternyata kota tempat di mana Ana sekarang adalah kota tempat tinggal kakak iparnya dari almarhum saudara laki-lakinya, dan kebetulan juga keluarganya akan berkunjung ke rumah kakak ipar nya itu yang berada di pesantren yang telah diserahkan oleh abahnya kepada mereka dulu, dan sekarang dikelola oleh kakak iparnya bersama suami barunya, mereka ingin ziarah ke makam saudaranya sekaligus melihat keponakannya yang dikabarkan sedang sakit beberapa hari ini.

__ADS_1


__ADS_2