Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 40


__ADS_3

Kondisi Abimayu ternyata semakin hari menjadi semakin lemah, dia tidak bisa lagi mengontrol hatinya yang terasa sakit karena terfikir dengan Nayla. Di sebalik itu, Ana meyakini bahwa keadaan Abimayu menurun karena dia tidak ingin dibawa ke dokter untuk diperiksa.


"Kamu tidak usah peduli kepada-ku?" Abimayu melarang saat Ana ingin merawatnya.


"Jangan terlalu keras kepala! Mas Abi sedang sakit, jadi harus dirawat supaya Mas Abi bisa sembuh," jawab Ana.


"Aku tidak butuh perawatan! Aku hanya membutuhkan kamu jangan ada di sini supaya keadaan-ku tidak bertambah menurun."


"Mas Abi jangan memancingku untuk berdebat!" Ana berkata marah. Saat ini dia sedang menyiapkan Abimayu makanan.


Abimayu tidak lagi menjawab perkataan Ana dia juga tidak sanggup untuk bicara lagi, karena Ana akan tetap melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Aku akan ke rumah Abi dan umi!" Abimayu berkata memberitahu Ana. Saat ini dia ingin menenangkan hatinya yang semakin resah. Dia memutuskan untuk pergi ke sana karena dia tahu Ana pasti tidak ingin pergi dengannya.


"Aku akan ikut Mas Abi ke sana!" ucap Ana dengan cepat yang membuat Abimayu terkejut dan heran.


"Bukannya kamu sangat benci jika pergi ke sana?"


"Aku akan ikut, karena aku ingin merawat Mas Abi!"


Setelah memutuskan untuk pergi, mereka mempersiapkan segala perlengkapan untuk dibawa ke sana.


Abimayu sudah menunggu Ana di bawah yang belum turun dengan gelisah. Dari lantai atas terdengar suara langkah kaki Ana yang menurunui tangga. Abimayu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Ana dan dia sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat. Kekhawaturannya saat tadi berganti dengan rasa heran, karena Ana turun dengan memakai pakaian yang tertutup lengkap dengan hijabnya.


Abimayu belum melepaskan pandangannya dari Ana karena tidak menyangkanya.


"Jangan melihatku terlalu lama! Aku hanya tidak ingin membuat Mas Abi bertambah sakit jika mendebatkan pakaian-ku nantinya." Ana berkata sambil menyindir Abimayu.


Abumayu hanya diam karena tidak ada yang ingin dia perdebatkan dengan Ana saat ini.


...----------------...


"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" tanya Umi Aida ketika melihat Abimayu yang tampak pucat dan sedikit kurus. Dia tidak pernah melihat Abimayu yang seperti ini.


"Mas Abi tidak ingin dibawa ke dokter, Umi." jawab Ana sambil memberitahu, seolah kondisi Abimayu begitu karena dia memang tidak ingin dibawa ke dokter.

__ADS_1


"Abi baik-baik saja, Umi!" Abimayu membantah apa yang dikatakan Ana karena hanya dia yang tahu dengan apa yang dia rasakan saat ini.


Melihat kondisi anaknya, Umi Aida teringat akan Nayla. Dalam hati dia berkata, mungkinkah apa yang terjadi dengan Abimayu sekarang, sama seperti apa yang dirasakan oleh Nayla. Apakah dia orang ini sama-sama tertekan dengan keadaan mereka saat ini?


Beberapa hari tinggal di pesantren menemani Abimayu, ada rasa jenuh di hati Ana. Dia jenuh karena harus memakai pakaian yang tertutup kemanapun ia bergerak. Dia sudah meminta kepada Abimayu agar mereka pulang ke rumah kembali, tapi Abimayu belum mau untuk pulang.


"Aku mau pulang dulu ke rumah." Ana berkata saat dia berada di dalam bersama Abimayu.


"Terserah padamu! Aku juga sudah menebaknya, jika kamu tidak akan betah di sini."


"Aku harus melihat butik Mas. Ada yang harus aku selesaikan di sana!" Ana beralasan, dan dia juga tidak berbohong, karena beberapa hari ini karyawannya terus menanyakan kapan dia datang ke butik.


"Seharusnya dari awal kamu juga tidak ikut ke sini." Ada rasa kesal di hati Abimayu saat Ana mengatakan dia ingin kembali ke rumah mereka. Dia juga menyadari, selama dia sakit Ana merawatnya dengan baik dan mereka juga jarang bertengkar. Selain dia yang malas untuk berdebat, Ana juga seperti menahan diri untuk tidak melawannya.


...----------------...


Sehari setelah Ana pulang, rumah Umi Aida kedatangan orang tua Nayla.


"Bagaimana dengan keadaan Nayla?" tanya Umi Aida kepada orang tua Nayla.


"Umi, kedatangan kami ke sini sebenarnya ada sesuatu yang ingin kami sampaikan." lanjut orang tua Nayla lagi.


"Apa itu kalau kaki boleh tahu." Umi Aida berkata dengan sedikit heran.


"Melihat kondisi Nayla yang semakin memburuk, kami ingin melamar Abimayu untuk Nayla. Kami ingin mencoba cara ini untuk menyembuhkan Nayla, mungkin jika dia bisa menikah dengan Abimayu, dia akan bisa sembuh. Maaf, Umi. Kami tidak sengaja mendengar saat Nayla bercerita dengan Umi saat itu."


Umi Aida dan Kiayai Mustapa terdiam mendengar permintaan orang tua Nayla. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Jika menolaknya mereka merasa tidak berhak, karena yang dilamar adalah Abimayu. Mereka harus menayakan pendapat Abimayu terlebih dahulu.


Umi Aida sebenarnya tidak setuju cara itu, tapi orang tua Nayla telah memohon dengan sangat untuk menanyakan kepada Abimayu dulu. Mereka beranggapan, ini adalah cara terakhir untuk menolong anaknya agar mempunyai harapan kembali. Tujuan mereka hanya untuk kesembuhan Nayla, tapi mereka tidak memikirkan perasaan seorang wanita yang kini menjadi istri Abimayu.


"Bagaiman, Bah? " tanya Umi Aida kepada suaminya setelah kepulangan orang tua Nayla dari rumah mereka.


"Kita tanyakan dulu kepada Abimayu dan Ana." jawab Kiayai Mustapa dengan tenang.


"Umi kurang setuju, Bah."

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi, kita harus sampaikan ini dulu kepada orang yang bersangkutan, karena kita juga tidak berhak untuk memutuskan."


"Abah seperti menyetujuinya." Umi Aida berkata dengan suaranya yang memelan.


"Bukan menyetujui, Umi kan mengerti, dalam agama kita, laki-laki itu boleh memiliki istri lebih dari satu. Jika, mampu berbuat adil"


"Umi paham. Tapi bagaimana dengan Ana, Bah?" Umi Aida sangat memikirkan menantunya. Dia juga seorang perempuan, dan sangat mengerti, jarang ditemukan seorang perempuan yang rela bermadu. Jika pun ada, berarti mereka adalah wanita pilihan. Umi Aida tidak menentang yang namanya poligami, karena di dalam Al-quran itu juga sudah disebutkan. Sekarang, dia hanya bicara soal perasaan, bukan tentang aturan yang sudah pasti hukumnya.


"Abah kan sudah bilang, tanya dengan mereka keduanya. Jika Abimayu menerima dan Ana menyetujui, itu bisa terjadi, dan ini niatnya untuk menyembuhkan Nayla, bukan karena yang lain!"


Dari dalam kamar, Abimayu bisa mendengar semua percakapan orang tuanya, bahkan saat orang tua Nayla datang menyatakan melamarnya untuk Nayla. Dia mengetahui jika sekarang keadaan Nayla sekarang semakin memburuk, dan dia tambah merasa terpukul saat mendengar alasan kenapa orang tua Nayla mengambil cara ini untuk menyembuhkan Nayla.


...----------------...


Malam harinya, selesai shalat isya, Abimayu ditemui oleh Umi Aida di kamarnya. Dia ingin menyampaikan hal lamaran orang tua Nayla untuk Abimayu. Dia ingin segera menyelesaikan masalah ini. Jika dia sudah menyampaikan kepada Abimayu, dia merasa tidak mempunyai beban lagi.


"Abi!" panggil Umi Aida ketika melihat Abimayu berbaring di atas sambil menutup matanya, dan satu tangannya berada di atas keningnya.


Abimayu membuka matanya mendengar Umi Aida memanggilnya. Dia bergerak duduk sambil menyandarkan kepala dan punggungnya di belakang ranjang, lalu menjulurkan kakinya ke depan. Umi Aida duduk di tepi ranjang dan berhadapan dengan Abimayu.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Umi Aida sambil mengelus kaki Abimayu yang terjulur.


"Beginilah, Umi" jawab Abimayu jujur


"Kamu pasti sudah mendengar pembicaraan Umi dan orang tua Nayla." Tebak Umi Aida.


Abimayu hanya mengangguk sambil memejamkan matanya.


"Apa pendapatmu, Nak?"


"Abi akan menanyakan pendapat Ana lebih dulu, Mi!"


Umi Aida menganggukkan kepala mendengar jawaban putranya. Dia juga tidak percaya akan jawaban yang di berikan Abimayu. Dari jawaban itu, Abimayu seperti tidak ada penolakan sedikit pun.


"Maafkan Umi dan Abah." ucap Umi Aida dengan wajah sendunya, dan tangannya masih mengelus kaki Abimayu, sesekali dia memberi pijitan ke kaki itu.

__ADS_1


Umi Aida merasa sedikit bersalah, mungkin dulu mereka terlalu memaksa untuk menjodohkan Abimayu dan Ana. Mereka mengakui, perjodohan terjadi karena janji, dan mereka ingin membalas budi dari kebaikan orang tua Ana. Tapi, bukan berarti mereka menyesal, karena jika alasannya Abimayu belum mengenal dan menyukai Ana, Maka jawabannya, cinta itu setelah pernikahan, bukan sebelum pernikahan.


__ADS_2