
Sebulan telah berlalu kehidupan rumah tangga yang baru dijalani oleh Ana dan Abimayu. Dalam sebulan itu Abimayu benar-benar menumpahkan kasih sayang dan cintanya kepada keluarga kecilnya. Sekarang mereka telah pindah kembali ke rumah yang dulu pernah mereka tinggali, mereka harus tinggal di situ karena seperti alasan saat kepindahan mereka dulu bahwa rumah ini dekat dengan arah tempat mereka bekerja. Dalam sebulan ini Abimayu juga sangat sibuk untuk mengurus perusahaan, karena sedang ada proyek besar yang ditangani oleh perusahaannya.
Kiran mama nya Ana juga tidak keberatan jika mereka kembali pindah. Dia mengerti dengan keadaan itu, dan Ana juga setiap akhir pekan akan datang mengunjunginya.
"Sayang...." Panggil Abimayu kepada Ana yang sedang bersiap di dalam kamar mereka.
Ana melihat heran ke arah Abimayu yang sedang berdiri di depan kaca sambil memanggilnya. Pagi ini Abimayu terdengar mengubah panggilannya kepada Ana. Selama ini dia tidak pernah memanggil Ana begitu.
Ana berjalan mendekat ke arah Abimayu.
"Kenapa Mas A..."
Cup
Abimayu mencium bibir Ana sebelum Ana sempat menghabiskan ucapannya.
"Mas A..."
Cup
Abimayu kembali mendaratkan ciumannya di bibir Ana sampai ciuman itu mendarat beberapa kali di bibir Ana pagi ini.
Ana menarik nafas dengan dalam untuk menahan rasa kesalnya, karena dia tidak ada kesempatan untuk bertanya, Abimayu langsung melahap bibirnya.
Abimayu sudah tersenyum lebar melihat wajah Ana yang diam menahan kesal, dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ana dan menarik Ana agar lebih dekat dengannya hingga wajah mereka berjarak sangat dekat sekali dan hidung mereka hampir bersentuhan karena terlalu dekat. Ana juga tidak berani melihat ke arah Abimayu saat ini. Dia menundukkan kepalanya ke bawah karena terlalu dekat dengan Abimayu saat ini.
"Mulai sekarang kamu hanya boleh panggil Mas dengan sebutan Mas saja, jangan ada lagi nama Mas yang tersemat di akhirnya." Abimayu berkata sambil memandang wajah Ana yang menunduk begitu dalam. Ternyata itulah penyebabnya Abimayu tidak berhenti menciumnya sejak tadi. Dia ingin mengubah segalanya dalam hidup baru mereka ini.
__ADS_1
"Mengerti?" lanjut Abimayu sambil menyentuh dagu Ana sehingga Ana yang tadinya hanya melihat ke bawah, sekarang sedikit menengadahkan kepalanya melihat Abimayu yang sedikit tinggi darinya dan mata mereka saling berpandangan dengan dalam.
"Ak..."
Belum sempat Ana berbicara lagi, Abimayu sudah mencium bibirnya kembali. Dia tidak tahan jika hanya melihat bibir itu sejak tadi.
Hmppppftt
Ana memberontak seperti kehabisan nafas karena Abimayu tidak memberikan jeda dalam ciumannya.
Hufffff
Ana menghbuskan nafasnya dengan kasar setelah Abimayu melepaskan ciumannya.
"Maaf, Sayang. Mas tidak tahan jika hanya melihatnya saja," ucap Abimayu tersenyum lebar karena berhasil meraup bibir itu pagi ini.
Selama sebulan ini dia dan Ana sama sekali belum melakukan hubungan, karena Abimayu tidak ingin memaksa Ana untuk melakukannya sebelum Ana benar-benar siap. Sekarang Ana terlihat masih malu terhadapnya, Bahkan Ana juga belum berani berpakaian terbuka di rumah ini. Jauh berbeda dengan Ana yang dulu, yang setiap harinya selalu berpakaian seksi di depan matanya. Anehnya dulu Abimayu sama sekali tidak tergoda dengan tubuh Ana yang selalu dia lihat terbuka. Tapi sekarang, melihat bibirnya saja dia sudah tidak tahan, apalagi Ana kembali berpakaian seksi seperti dulu.
"Ayo pasangkan dasi ini untuk Mas." Abimayu memberikan dasi yang di tangannya sejak tadi kepada Ana karena dia tahu bahwa Ana bisa melakukan itu.
"Bukannya Mas A..." Ana dengan cepat menutup bibirnya menggunakan jarinya. Dia takut Abimayu akan menciumnya kembali.
"Bukannya Mas bisa melakukannya sendiri?" tanya AnaAna, karena dulu dia tidak pernah sama sekali memasangkan dasi di leher Abimayu meski dia sangat ingin.
"Hemmm Apa bibir ini ingin Mas cium lagi?" Abimayu berkata sambil memegang bibir Ana kembali dengan jarinya.
Ana melebarkan bola matanya mendengar perkataan Abimayu, sungguh sekarang ini Abimayu terlihat seperti pria mesum.
__ADS_1
Ana tidak berani membantah lagi, lalu dengan cekatan dia memasangkan dasi Abimayu di lehernya.
"Terima kasih, Sayang."
Cup
Abimayu mendaratkan ciumannya di kening Ana sekali lagi sebagai ucapan Terima kasihnya. Ana hanya bisa pasrah karena dia tidak sempat mengelak lagi.
"Bunda..."
Ana sedikit terkejut mendengar suara Fatimah yang memanggilnya, karena dia baru menyadari bahwa Fatimah masih berada di kamar bersama mereka. Dia takut Fatimah melihat kejadian saat Abimayu menciumnya. Sedangkan Abimayu bersikap biasa saja, karena dia sejak tadi bisa melihat dari arah kaca kepada Fatimah yang masih tertidur di atas ranjang mereka. Makanya dia berani mencium Ana karena dia tahu Fatimah belum terbangun sama sekali.
"Sayang...." Ana mendekat ke arah Fatimah, lalu mengelus rambutnya.
"Sudah bangun? Ayo bersiap dulu, karena Abi mau berangkat kerja." Ana berkata sambil masih mengelus rambut Ana.
Fatimah menggelengkan kepalanya lalu berdiri dari atas ranjang dan berlari ke arah Abimayu yang sedang melihat kembali penampilannya di depan kaca.
"Abi..." Fatimah mengulurkan ke dua tangannya agar Abimayu menggendong tubuhnya.
Abimayu sama sekali tidak keberatan dengan itu, lalu dia mengangkat tubuh Fatimah ke dalam gendongannya, dan tidak lupa menciumi pipi putri kecilnya itu.
"Mas...." Ana bergidik melihat tingkah Abimayu karena telah menciumi Fatimah yang baru saja bangun tidur berkali-kali, bahkan dia tidak peduli dengan jejak air liur Fatimah yang ada di sekitar pipi gadis kecil itu. Bukan dia merasa jijik, dia juga sering menciumi Fatimah ketika bagun tidur, tapi tidak sebanyak yang dilakukan Abimayu sekarang, hingga terkadang jejak liur di pipi Fatimah hilang karena ciuman dari Abimayu yang berkali-kali.
Abimayu tertawa melihat ke arah Ana.
"Ayo, Sayang, kita turun ke bawah. Kita sarapan dulu."
__ADS_1
Si gadis kecil yang berada dalam gendongannya hanya mengangguk sambil sesekali menyapu matanya.
Ana juga ikut berjalan turun ke bawah karena dia ingin melayani Abimayu yang akan sarapan. Dia sudah menyiapkan sarapan setelah mereka shalat subuh. Sekarang dia tidak perlu menyewa pelayan lagi untuk bekerja di rumah, karena dia sudah bisa melakukannya sendiri. Awalnya Abimayu tidak setuju dengan itu, tapi dia tetap bersikeras tidak akan menyewa pelayan lagi seperti dulu.