
"Pakai baju ini, Bunda!" ucap Fatimah menunjukkan sebuah baju yang sangat dia sukai, karena dia baru selesai mandi.
"Boleh, Tapi Fatimah mau kemana pakai baju ini, hem?" tanya Ana dengan lembut karena hari ini Fatimah memilih sendiri baju yang ingin dia pakai, karena selama ini dia hanya menerima saja baju yang dipakaikan Ana kepadanya.
"Fatimah mau ke rumah Kak Hawa, Bunda." Fatimah berkata dengan semangat, karena dia sangat suka jika bermain dengan Hawa.
Mendengar perkataan Hawa, Ana sedikit khawatir karena dia tahu bahwa Sarah hari ini kedatangan tamu dari luar kota, mereka adalah keluarga almarhum abi nya Hawa yang datang ingin melihat Hawa, dan kemungkinan mereka sudah tiba di rumah Sarah sekarang.
"Sayang... ke rumah Kak Hawa nya besok saja ya." Ana mencoba berkata perlahan. "Hari ini di rumah Kak Hawa lagi ada tamu," lanjut Ana.
"Fatimah mau main sama Kak Hawa, Bunda!" Fatimah sudah terlihat ingin menangis.
"Fatimah...Bunda kan sudah pernah bilang, kalau Umi sarah lagi ada tamu, Fatimah tidak boleh apa?" Ana mencoba bertanya kepada Fatimah supaya dia tidak jadi menangis, karena biasanya Fatimah tidak pernah seperti ini. Dia akan mendengarkan kalau Ana sudah melarangnya. Bukan karena Ana melarangnya untuk bermain dengan Hawa, tapi Ana takut Fatimah akan merepotkan Sarah.
"Tidak boleh datang, karena menganggu umi Sarah." Fatimah menjawab sambil masih ingin menangis.
"Fatimah main sama Bunda saja bagaimana?" tanya Ana.
"Pakai hijab, Bunda!" Fatimah belum menjawab pertanyaan Ana, tapi dia menyuruh Ana untuk memakaikan hijabnya.
Ana tersenyum melihat putrinya sambil memasangkan hijab di kepalanya. Saat hijabnya sudah terpasang, tiba-tiba Fatimah berlari dengan cepat dan keluar dari rumah.
"Fatimah mau main sama kak Hawa!" Fatimah berkata sambil terus berlari meninggalkan Ana di belakang.
Ana merasa segan dengan Sarah, lalu dia bergegas memasang hijab beserta cadarnya, dan mencoba mengejar Fatimah yang sudah berlari sedikit jauh darinya.
Beberapa langkah lagi ingin sampai ke rumah Sarah, tiba-tiba Ana membalikkan tubuhnya dengan cepat. Jantungnya berdetak sangat kencang dan kakinya terasa lemah seperti tidak sanggup lagi untuk mekangkah. Sedangkan Fatimah telah berada di teras rumah Sarah beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
"Abi, Fais mau gendong." terdengar suara seorang anak laki-laki merengek.
"Boleh, ayo sini, Abi akan gendong."
Mendengar suara anak kecil dan pria dewasa itu, membuat hati Ana sakit dan air matanya hampir jatuh menetes.
"Fais, Abi masih lelah, Sayang."
Ana masih berdiri di tempatnya karena belum sanggup untuk melangkahkan kakinya, hingga dia masih bisa mendengar pembicaraan orang yang sedang dia belakangi.
Setelah beberapa detik kemudian Ana berjalan sedikit cepat bahkan dia hampir berlari menuju ke arah rumahnya kembali. Dia sudah membiarkan Fatimah yang sudah berada di rumah Sarah saat ini.
"Tidak apa-apa, Nay. Fais juga belum terlalu berat, jadi masih bisa saya gendong," ucap Abimayu kepada Nayla sambil melihat sekilas seorang wanita bercadar yang berjalan membelakangi nya dan dia sempat melihat wanita itu berhenti melangkah sebelum dia pergi.
Orang yang dilihat oleh Ana di rumah Sarah adalah Abimayu, dan anak laki-laki kecil yang bersamanya adalah putra Nayla yang telah menikah dengan saudara sepupu Abimayu. Hari ini mereka ikut ke rumah almarhum saudara laki-lakinya Abimayu yang sudah meninggal, karena ingin ziarah ke makamnya sekaligus mereka ingin melihat kondisi Hawa juga.
Abimayu melihat ke arah Fatimah yang disapa oleh Nayla. Saat melihat Fatimah, Abimayu merasakan ada perasaan lain di hatinya. Tanpa sadar dia menurunkan Fais putranya Nayla dari gendongannya, lalu mendekat ke arah Fatimah.
"Siapa namamu anak cantik?" tanya Abimayu yang telah mensejajarkan tubuhnya dengan Fatimah. Ketika melihat Fatimah lebih dekat, Abimayu merasakan sesak di dadanya kembali karena sekilas dia bisa melihat bayang wajah Ana di wajah gadis kecil ini.
"Fatimah," ucap Fatimah dengan suara kecilnya sambil memainkan hijab yang dipakainya.
"Ehmmm kamu....?" Abimayu merasa bingung harus bertanya lagi kepada Fatimah.
"Maaf Paman, Fatimah mau main sama kak Hawa." kata Fatimah lagi sambil menundukkan kepalanya.
Abimayu tersenyum melihat Fatimah sambil terus melihat wajah Fatimah dengan lekat.
__ADS_1
"Ayo! kak Hawa ada di dalam." Abimayu berkata sambil menggandeng tangan Fatimah masuk ke dalam rumah karena dia sudah mengetahui apa tujuan gadis kecil ini.
Fatimah tidak menolak sama sekali saat Abimayu menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Di belakang mereka Nayla dan putranya juga ikut masuk ke dalam.
"Siapa ini, Abi?" tanya Umi Aida ketika melihat Abimayu menggandeng seorang anak kecil yang sangat lucu dengan hijab di kepalanya.
"Fatimah, Umi." Abimayu berkata demgan masih menggandeng tangan Fatimah.
"Apa dia saudaranya Hawa?" Umi Aida berkata sambil mendekat ke arah Fatimah yang berdiri di samping Abimayu.
"Bukan, Umi. Fatimah anak temannya Sarah yang tinggal di pesantren ini." Tiba-tiba terdengar suara Sarah menjawab dari arah belakang.
"Tapi wajahnya sedikit mirip dengan Hawa," ucap Umi Aida kepada Sarah.
Sarah tersenyum mendengar pernyataan Umi Aida, karena bukan hanya Umi Aida yang mengatakan bahwa Fatimah mirip dengan Hawa, hampir semua orang yang beru pertama melihat mereka, pasti akan berkata begitu.
"Ya, Umi. Mereka memang terlihat mirip," ucap Sarah. "Ayo Fatimah! Salim Eyang dulu." Sarah berkata menyuruh Fatimah untuk mengalami Umi Aida dan yang lainnya.
Tanpa rasa takut dan malu, Fatimah mengulurkan tangannya kepada Umi Aida, lalu disambut oleh Umi Aida dengan perasaan sedikit terharu. Saat ini dia teringat akan Ana, karena dia juga bisa melihat goresan wajah Ana yang membayang di wajah Fatimah.
"Umi, Fatimah mau main dengan kak Hawa." Fatimah berkata saat dia terus mengalami semua orang yang ada di rumah Sarah. Itu sudah menjadi suatu kebiasaan yang diajarkan oleh Ana kepada Fatimah. Makanya dia tidak merasa takut dan malu ketika disuruh oleh Sarah untuk bersalaman dengan mereka semua.
"Iya, Sayang. Kak Hawa ada di sana." Sarah menunjukkan kepada Fatimah keberadaan Hawa yang sekarang sedang bermain dengan para sepupunya yang baru saja datang.
"Yeeee Fatimah main sama kak Hawa," ucap Fatimah dengan senang dan langsung berlari ke arah Hawa.
Sejak tadi, Abimayu terus melihat ke arah Fatimah. Dia tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari melihat Fatimah. Dia merasa ada sesuatu pada diri Fatimah yang membuatnya bisa terlepas dari rasa sesak yang dia rasakan selama ini. Selain itu saat dia melihat Fatimah, ada bayangan wajah yang selama ini sangat dia rindukan, dan dengan melihat Fatimah rasa rindu itu seperti terbalaskan sedikit.
__ADS_1