Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 18


__ADS_3

"Mas Abi," panggil Ana ketika melihat Abimayu baru saja masuk ke dalam rumah setelah selesai olahraga pagi.


Abimayu hanya melihat sekilas kepada Ana dan terus berjalan ke ruang makan. Dari arah yang berbeda Ana juga berjalan ke arah ruang makan.


"Temani aku pergi ke rumah mama hari ini!" Ana berkata setelah sampai di ruang makan.


"Aku tidak bisa!" jawab Abimayu dengan cepat.


"Aku rindu mama dan papa, Mas. Sudah lama aku tidak ke sana," ucap Ana dengan raut wajah sedihnya, karena dalam beberapa minggu ini dia tidak pernah datang berkunjung ke rumah orang tuanya, dan dia sudah sangat merindukan mereka saat ini.


Mendengar perkataan Ana itu, Abimayu sedikit luluh karena melihat raut wajah Ana yang sedih akhirnya dia menyetujuinya.


"Kamu siap-siap, kita akan berangkat jam 10!" Abimayu berkata dengan cepat.


Ana sangat senang mendengar jawaban itu, wajahnya sedihnya seketika berubah menjadi ceria saat Abimayu berkata mereka akan berangkat. Dia sampai ingin memeluk Abimayu karena rasa senangnya.


"Jangan menyentuhku!" ucap Abimayu sambil menahan tangan Ana yang sudah hampir sampai ke tubuhnya.


Setalah berhasil menghentikan Ana yang ingin memeluknya, Abimayu pergi meninggalkan Ana sendiri yang masih berdiri terdiam di ruang tamu.


Sedangkan Ana berusaha menenangkan hatinya saat ini, karena ada rasa perih yang dia rasakan saat Abimayu menolaknya begitu.


...----------------...


"Mas, kenapa hanya diam saja?" tanya Ana dengan kesal karena sejak mereka di dalam mobil menuju rumah orang tuanya, Abimayu tidak bersuara sedikit pun. Dia tidak ingin berbicara kepada Ana meskipun Ana sudah mencoba mengajaknya untuk berbicara.


Abimayu tetap diam dan tidak menjawabnya hingga tanpa disadari mereka telah sampai di rumah orang tua Ana.

__ADS_1


"Kamu jangan pernah bercerita kepada orang tuamu tentang hubungan kita!" Abimayu memberi peringatan kepada Ana sebelum mereka turun dari mobil. Saat inilah Abimayu baru membuka mulutnya untuk berbicara kepada Ana karena ingin memberikan peringatan kepada Ana.


Saat mereka turun dari mobil dan sudah berjalan ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba Abimayu merasakan tangannya dipegang oleh An dengan kuat.


"Biarkan seperti ini kalau Mas Abi tidak ingin aku bercerita kepada orang tua-ku!" Ana mengancam Abimayu dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memegang tangan Abimayu.


Sedangkan Abimayu hanya bisa diam menahan kesal, saat ini tidak memungkinkan dia untuk menolak lagi karena mereka sudah sampai di depan pintu rumah. Abimayu takut nantinya mertuanya akan melihat saat dia marah kepada Ana.


Sesampainya di dalam rumah, mereka disambut dengan senyuman hangat oleh orang tua Ana dan Ana langsung menghambur ke pelukan orang tuanya meninggalkan Abimayu berjalan di belakangnya.


"Ma, aku sangat rindu." Ana berkata dengan manja sambil memeluk dengan kuat sang mama.


"Hemmmm, mama juga sayang," jawab Kiran dengan rasa bahagia.


Ana melepaskan pelukannya, lalu beralih ke arah papanya.


"Tante cantiiiiik," suara nyaring seorang anak kecil perempuan terdengar memanggil Ana. Meskipun dia tidak menyebut nama, Ana yakin kalau yang dipanggil anak itu adalah dirinya.


Ana berbalik, lalu dari arah depan seorang anak perempuan berumur 3 tahun, rambutnya yang di kepang ikut bergoyang berlari ke arahnyaarahnya. Di belakangnya dia diikuti oleh seorang bayi laki-laki juga berlari sambil memegang sebuah mainan di tangannya.


Ana berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedua anak itu dan memeluk mereka secara bersamaan.


"Apa kabar sayang?" tanya Ana sambil menciumi kedua anak itu satu persatu.


"Baik tante cantik," Anak perempuan itu menjawab pertanyaan Ana dengan suara lucunya.


"Bagaimana denganmu bayi super hero?" tanya Ana kepada bayi laki-laki sambil menggelitik perutnya. Bayi itu hanya bisa tertawa, karena belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ana.

__ADS_1


"Vania sayang, kamu kenalan dulu dengan paman itu!" Ana menunjuk ke arah Abimayu, dan Vania mengikuti arah telujuk Ana. Dia ingin mengenalkan Vania dengan Abimayu. Nama keponakan perempuannya itu adalah Vania.


Vania masih malu-malu berkenalan dengan Abimayu. Abimayu mengulurkan tangannya kepada Vania, dia ingin Vania menyalaminya sebagai tanda perkenalan mereka. Vania pun menyambut uluran tangan Abimayu dan membawa ke mulutnya untuk dicium.


"Bagaiman dengan kalian, Sayang? Apa sudah ada tanda-tanda?" Kiran bertanya kepada Ana dan Abimayu.


Abimayu sedikit terkejut dengan pertanyaan orang tua Ana dan bersamaan dengan itu Ana melihat ke arahnya sambil tersenyum.


"Ma, ka..."


"Masih belum, Ma." Abimayu langsung memotong perkataan Ana, karena dia takut Ana akan menceritakan kepada orang tuanya tentang hubungan mereka.


"Jangan terlalu terburu-buru, Ma. Biarkan mereka menikmati waktu mereka untuk berdua dulu." Ardi berkata mengingatkan istrinya.


Mendengar itu, Ana tertawa dan melihat ke arah Abimayu lagi sambil memainkan matanya untuk membuat Abimayu sedikit ketakutan karena Abimayu takut dia akan bercerita kepada orang tuanya tentang hubungan mereka saat ini.


"Iya, Ma. Apa yang dikatan Papa itu sedikit benar, sekarang juga masih proses," ucap Ana tanpa merasa malu kepada orang tuanya berkata seperti itu yang membuat Abimayu terkejut mendengarnya.


Abimayu juga tidak berani banyak berkomentar tentang pertanyaan Kiran, Dia takut untuk membohongi mertuanya, karena sebenarnya dia belum menyentuh Ana sampai sekarang. Jadi pertanyaan itu tidak bisa dia jawab dengan pasti.


"Ya, Mama hanya tidak sabar ingin menggendong cucu dari kalian." Kiran berkata sambil tersenyum.


"Hmmm Mama masih bisa mengandalkan mereka dulu sebelum kami memberikan cucu baru kepada kalian." Ana berkata sambil mencubit pipi Vania yang masih berada di pangkuannya.


Setelah itu mereka terus bercerita tentang banyak hal. Abimayu terkadang mencuri pandang kepada Ana yang terlihat bermanja dengan keluarganya. Ana yang dia lihat saat ini sangat jauh berbeda dengan Ana saat di rumah mereka. Dia terlihat benar-benar seperti wanita manja ketika di rumah orang tuanya, sedangkan di rumah mereka, Ana adalah wanita keras kepala yang selalu menggodanya.


"Tante, kalau Vania sudah besar, Vania ingin rambut seperti tante," ucap Vania tiba-tiba kepada Ana sambil memegang rambut Ana yang berwarna sedikit pirang. "Vania juga mau memakai baju seksi seperti tantetante cantik," lanjut Vania lagi memberitahu kepada Ana.

__ADS_1


Ana tertawa mendengar keinginan keponakannya itu. Di saat dia tertawa Abimayu melihat ke arahnya dan dalam fikiran Abimayu terlintas sebuah pertanyaan. Bagaimana jika Ana nanti mempunyai seorang anak, apakah dia akan mengajarkan anak itu berpenampilan sama dengannya? Abimayu bergidik ngeri membayangkannya. Dia juga tidak ingin jika anak mereka nanti dididik dan diajarkan cara yang tidak baik oleh Ana.


__ADS_2