
Jam 4 pagi Abimayu telah bangun
"Ana! Ayo bangun! Abimayu membangunkan Ana yang masih tidur.
" Ehmmmm aku masih mengantuk, Mas. Kenapa membangunkan-ku pagi sekali?" ucap Ana yang masih menutup matanya.
"Kamu harus shalat, jangan membuat-ku malu kepada abah dan umi!"
"Aku tidak membawa perlengkapan shalat, Mas." Ana berkata ingin mengelak, tapi yang dia katakan juga benar bahwa tidak membawa mukena sama sekali.
"Pakai ini," jawab Abimayu sambil memberikan sebuah mukena yang sudah dia pinjam kepada uminya, karena dia juga tahu bahwa Ana tidak membawa mukena.
Ana tidak bisa mengelak lagi, lalu menerima mukena yang diberikan Abimayu kepadanya.
"Biasanya juga Mas Abi tidak peduli jika aku tidak shalat." Ana berkata dengan wajah kesal sambil pergi berkemas.
"Setidaknya di sini sembunyikan sikapmu yang buruk itu."
Ana telah selesai bersiap dan memakai mukena yang diberikan Abimayu kepadanya
"Pakai mukena nya dengan benar! Begitu saja masih tidak bisa," sindir Abimayu kepada Ana saat melihat rambut Ana yang masih terlihat banyak keluar dari mukena.
"Rambutnya tetap keluar, Mas. Mukena nya kebesaran," jawab Ana dengan wajah kesal karena sejak tadi rambutnya tidak bisa rapi.
"Ini akibat kamu yang tidak mau sholat, memakai mukena saja tidak bisa."
Ana hanya diam memasang wajah kesalnya sambil kembali memperbaiki mukena yang dipakainya agar rambutnya tidak keluar lagi.
Selesai bersiap, mereka pergi terlebih dahulu dari Umi Aida dan Kiayai mustapa ke Musholla.
"Mas, tunggu! Jalannya jangan terlalu cepat, aku takut, " ucap Ana sambil berlari menyusul Abimayu yang sudah berjalan sedikit jauh di depannya karena Ana melihat di sekitar masih sangat gelap.
__ADS_1
"Kamu yang berjalan terlalu lambat," jawab Abimayu sambil menghentikan langkahnya menunggu Ana yang jauh tertinggal di belakangnya.
"Aku pegang tangan Mas Abi saja biar tidak tertinggal." Kata Ana dan ingin memegang tangan Abimayu.
"Seharusnya kamu tahu kalau seorang yang sudah berwudhu tidak boleh lagi bersentuhan dengan orang lain yang berbeda jenis."
"Mas suamiku, bukan orang lain." jawab Ana.
"Meskipun aku suamimu, tapi kamu juga tidak boleh menyentuh-ku setelah berwudhu."
"Kenapa banyak sekali peraturan yang Mas Abi buat untuk-ku saat di sini?"
"Itu bukan aku yang membuatnya, tapi itu sudah peraturannya, Ana. Makanya kamu jangan bisanya hanya bersenang-senang du klub saja. Sesekali kamu juga harus belajar tentang hukum agamamu!"
Ana diam tidak menjawab Abimayu lagi, dan mereka terus berjalan beriringan hingga sampai di Musholla.
Ana berdiri di barisan paling depan karena dia disuruh oleh para santri untuk ke depan. Saat ingin mulai shalat, Umi Aida telah berdiri di sampingnya.
"Tidak bisa rapi, Umi. Sejak tadi selalu begitu," jawab Ana mengadu kepada Umi Aida masalah rambutnya.
"Umi akan rapikan," Umi Aida tersenyum sambil tangannya bergerak di wajah Ana dan merapikan rambut Ana yang nampak keluar.
Ana merasa tersentuh dengan perlakuan Umi Aida kepadanya. Saat ini, Ana menyadari jika mertuanya ini sangat lembut hatinya. Dia tidak pernah bersuara keras ketika berbicara kepada orang lain, tutur katanya juga lembut ketika berbicara.
...----------------...
Paginya setelah pulang dari Musholla, Umi Aida mengajak Ana untuk berkeliling melihat pesantren.
"Boleh, Umi. Aku juga ingin melihat suasana di pesantren ini." jawab Ana saat Umi Aida mengajaknya.
"Kalau begitu, kita siap-siap dulu. Abah sama Abimayu juga belum ke sini." Umi Aida berkata, karena saat ini hanya dia dan Ana yang pulang ke rumah, sedangkan suaminya dan Abimayu masih berada di Musholla.
__ADS_1
Ana bersiap di kamar memakai pakaian yang telah dibeli oleh Abimayu, karena hanya tinggal itu lagi pakaian yang dia punya saat ini. Kali ini dia benar-benar memakainya dengan benar, tidak terburu-buru sehingga membuat dia sedikit nyaman.
Selesai bersiap, Ana dan Umi Aida berjalan meninggalkan rumah.
"Pesantrennya sangat besar dan luas, Umi. Bangunannya juga sangat bagus." ucap Ana memuji.
"Kamu tahu, Nak Ana. Bangunan yang kamu lihat di sini, dan semua yang ada di sini hampir semuanya dibangun dari donasi yang diberikan oleh orang tua Nak Ana." Umi Aida berkata kepada Ana.
"Masalah itu, Ana sama sekali tidak pernah tau, Umi."
"Orang tua Nak Ana itu sangat baik, sampai sekarang pun dia tetap memberikan donasinya untuk membantu pesantren abah ini."
Ana hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Umi Aida kepadanya. Tapi dia sekarang menyadari dan memahami apa arti balas budi yang dikatakan oleh Abimayu kepadanya setelah mendengar dan melihat pesantren ini.
"Dimana para santrinya, Umi? Kenapa sejak tadi satu pun dari mereka tidak terlihat?" tanya Ana penasaran, karena sehak mereka berkeliling, tidak ada satu orang santri pun yang dia lihat.
Umi Aida tersenyum mendengar pertanyaan Ana.
"Mereka sedang belajar. Ayo kita ke sana, biar kamu bisa melihat mereka."
Umi Aida membawa Ana ke sebuah tempat di mana ada banyak santri yang sedang belajar di sebuah tempat yang bentuknya seperti pondok bersantai, dan suasana di sekelilingnya sangat indah. Mereka belajar di alam terbuka, tidak di dalam ruangan.
"Kalau pagi begini, mereka selalu belajar di sini! Bagunan pesantren ini sengaja dibuat dengan dua suasana yang berbeda. Jika mereka belajar di ruangan, mereka akan merasakan nuansa sekolah modern, dan jika belajar di tempat seperti ini, suasana mondoknya lebih terasa." Umi Aida kembali menjelaskan kepada Ana.
Puas berkeliling melihat sekitar pesantren, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.
"Umi dan abah berharap, suatu hari nanti, kalian bisa menggantikan kami untuk mengelola pesantren ini," ucap Umi Aida saat mereka di jalan pulang setelah melihat semuanya.
"Kenapa Mas Abi tidak ingin mengelola pesantren ini sekarang, Umi?" tanya Ana penasaran, karena dia pernah mendengar bahwa Abimayu tidak ingin mengelola pesantren abahnya, padahal semua saudaranya memiliki satu pesantren yang diberikan oleh Kiayai Mustapa untuk mereka kelola dan kembangkan.
"Abimayu itu berbeda dari saudaranya yang lain. Dia lebih suka mengembangkan kemampuannya di luar dari pesantren. Dulu dia juga meminta sekolah di luar, tidak ingin sama seperti saudaranya yang mau sekolah di pesantren. abah juga tidak melarang, abah membebaskan anaknya untuk memilih. Di saat semua saudaranya berhasil mengembangkan pesantren dari Abah, Abimayu juga berhasil dan mengembangkan perusahaanny. Tapi, sekarang usia abah juga sudah tua, dia tidak sanggup lagi jika terus mengurus pesantren ini, dia butuh penerus untuk mengelola pesantren ini nantinya. Sekarang abah juga dibantu beberapa Ustad di sini untuk mengelolanya." Umi Aida menjelaskan kepada Ana, dan tanpa terasa mereka juga sudah tiba kembali di rumah.
__ADS_1