Bertahan Mencintaimu

Bertahan Mencintaimu
bab 70


__ADS_3

"Paman, ayo ambil ini," Fatimah memberikan sebuah boneka berukuran kecil kepda Abimayu saat dia masih menemani putri kecilnya itu bermain.


"Hemmmm memangnya kenapa dengan dia?" tanya Abimayu kepada Fatimah yang sepertinya membedakan boneka kecil itu dari yang lain.


"Dia tidak bagus, kepalanya sakit," Fatimah mengatakan alasan dia memisahkan boneka itu.


Mendengar itu, Abimayu memperhatikan dengan seksama boneka kecil yang ada di tangannya, dan membuatnya tersenyum lebar ketika melihat boneka itu ternyata tidak terjahit dengan rapi, sehingga kapas di dalamnya keluar sebagian.


"Hemmm nanti Fatimah beritahu Bunda, ya. Dia nanti akan diobati oleh Bunda supaya kepalanya tidak sakit lagi." Abimayu berkata sambil masih tersenyum. Sungguh gadis kecil ini sangat polos dan lucu.


"Bunda?"


"Iya, Sayang. Bunda Fatimah, dia nanti bisa mengobati boneka yang sakit kepala ini," ucap Abimayu dam teringat akan Ana yang sejak tadi tidak pernah menampakkan diri lagi.


Tak tak tak


Tiba-tiba terdengar suara langkah yang mendekat ke arah mereka. Saat Abimayu melihat ternyata itu adalah orang yang ada difikiran Abimayu sejak tadi.


"Fatimah, mainnya sudah, ya. Sekarang Fatimah mandi dulu." Ana berkata untuk mengajak Fatimah, karena hari juga mulai sore.


"Iya, Bunda. Tapi nanti Fatimah main lagi, ya?" ucap Fatimah bersyarat.


"Boleh, sekarang Fatimah mandi dulu, ya."


Ana terus berbicara kepada Fatimah tanpa melihat ke arah Abimayu sedikit pun. Dia sebenarnya hanya ingin membawa Fatimah dari Abimayu, karena sejak tadi dia merasa gelisah sendiri karena Fatimah tetap bermain bersama Abimayu.


"Ana..." Abimayu tiba-tiba memanggil Ana. Dia tahu maksud dari Ana untuk menyuruh Fatimah, dia hanya beralasan karena hari memang sudah sore.


"Boleh kita bicara?" tanya Abimayu kepada Ana yang berada di sampingnya, tetapi dia tidak melihat ke arah Abimayu.

__ADS_1


"Apa yang ingin dibicarakan lagi?" tanya Ana karena sedikit merasa emosi.


"Masih ada sesuatu yang ingin Mas bicarakan." Abimayu berharap Ana tidak menolak permintaan nya saat ini, karena dia merasa banyak sekali yang perlu dia bicarakan dengan Ana saat ini.


"Ak..."


"Ana..." Belum sempat Ana kembali bicara, tiba-tiba terdengar suara Kiran dari arah belakang.


"Kalian bicara dulu, biar Mama yang mengurus Fatimah." Kiran berkata untuk menengahi perdebatan Ana dan Abimayu. Dia merasa mereka juga perlu bicara, meski ini terlalu cepat, tapi juga tidak baik untuk dibiarkan begitu saja.


"Sayang, mandinya dengan Nenek dulu, ya!" Ana akhirnya mengalah lagi, sedangkan di sampingnya Abimayu merasa senang karena Ana menyetujui ajakannya untuk bicara.


"Ayo, Sayang. Kita mandi dulu," ucap Kiran sambil menggandeng tangan Fatimah yang tidak menolak untuk diajak pergi.


Kini hanya tinggal Abimayu dan Ana di ruang tamu itu.


"Apa yang dibicarakan lagi?" tanya Ana menahan rasa marahnya, dan dia berusaha agar tidak lepas kendali.


Ana tidak menjawab pertanyaan Abimayu, tapi dia seperti menunggu Abimayu untuk melanjutkan bicaranya.


"Mas ingin meminta agar kamu mengizinkan Mas untuk bertemu Fatimah." Abimayu melanjutkan ucapannya.


Dia meminta izin karena dia merasa perlu melakukan itu. Meski dia berhak menemui Fatimah, tapi dia ingin Ana untuk mengizinkannya juga. Dia tidak ingin mengesampingkan Ana, karena dia tahu bahwa dia selama ini sudah salah, sehingga membuat Ana tidak ingin dia bertemu dengan Fatimah.


"Aku rasa kalian tidak perlu bertemu, karena dulu kehadirannya saja telah ditakutkan sebelum dia diketahui benar-benar ada. Jadi untuk apa harus bertemu dengan seuatu yang kita takuti!" Ana berkata sambil mengingatkan Abimayu tentang kenyataan kisah yang lalu.


"Ana...Mas benar-benar menyesal telah beekata begitu, mohon Maafkan Mas." Abimayu berkata dengan penuh penyesalan.


"Jika bisa, aku ingin menjadi orang yang egois untuk selamanya tentang Fatimah, tapi aku menyadari, sekeras apapun aku menolak, aku tidak bisa merubah dan menafikan bahwa kalian ada hubungan darah."

__ADS_1


"Maafkan Mas, Ana. Mas bersalah." Kembali Abimayu meminta maaf. Saat ini dia rela jika terus mengucapkan permintamaafan itu sampai Ana bisa memaafkannya.


"Aku akan mengizinkan kalian bertemu, tapi tidak untuk setiap hari," ucap Ana menyetujui tapi juga memberi persyaratan.


Hati Abimayu sedikit mengahangat mendengar perkataan Ana karena telah mengizinkannya bertemu dengan Fatimah meski tidak setiap hari.


"Terima kasih Ana." Abimayu berkata bahagia.


Sedangkan Ana sudah berdiri dan ingin pergi meninggalkannya.


"Apa Mas boleh meminta sesuatu yang lain?" Abimayu kembali bertanya yang membuat langkah Ana berhenti, sedangkan tubuhnya sudah membelakangi Abimayu.


Ana hanya diam berdiri di tempatnya, dan melihat itu Abimayu mengartikan bahwa Ana setuju untuk mendengarkan permintaannya yang lain.


"Apa Mas boleh Meminta untuk memperbaiki hubungan kita lagi?" lanjut Abimayu berkata. Dia tahu jika ini terlalu cepat untuk dia katakan, tapi dia tidak ingin memoerlambat lagi, karena dia sudah menunggu ini sejak 4 tahun yang lalu. Apalagi Ana sudah mengatakan bahwa dia akan mengurus perceraian mereka.


"Untuk apa aku hidup dengan seseorang yang sejak awal tidak menginginkan-ku sama sekali, bahkan sampai kapanpun orang itu tidak akan bisa menerima-ku," ucap Ana yang masih membelakangi Abimayu. Dia juga sedikit terkejut dengan permintaan Abimayu yang ke dua ini, karena dia tidak menyangka Abimayu memintanya untuk kembali lagi bersamanya.


"Maafkan Mas, Ana. Maafkan Mas."


Dug


Ana mendengar bunyi sesuatu seperti orang terjatuh dari arah belakangnya, dan setelah dia berbalik ternyata Abimayu telah menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan berdiri dengan kedua lututnya di hadapan Ana.


Mata Ana sampai melebar melihat Apa yang dilakukan Abimayu saat ini.


"Apa yang Mas Abi lakukan?" tanya Ana dan tanpa sadar memanggil Abimayu kembali dengan panggilan yang dia sebut dulu, dan yang Ana tidak ingin mengucapkan itu lagi dari bibirnya setelah mereka bertemu kembali.


Nafas Abimayu terasa berhenti sejenak ketika Ana memanggilnya dengan panggilan itu, masku dia mengucapkannya tanpa dia sadari. Sudah lama sekali dia tidak pernah mendengar suara wanita itu memanggil namanya. Meskipun dulu Ana juga menjadi wanita yang keras kepala, tapi dia tetap memanggil Abimayu dengan panggilan itu sekali pun dia sangat marah, dia akan tetap memanggil Abimayu dengan sopan.

__ADS_1


"Mas merasa terlalu banyak berbuat salah denganmu selama ini, Mohon maafkan Mas, Ana." Abimayu berkata sambil menundukkan kepalanya, yang membuat Ana merasa bersalah melihat Abimayu yang begitu.


Abimayu juga tidak tahu harus bagaimana lagi, karena Ana terus menolaknya. Dia hanya ingin Ana memberikan maaf kepadanya, dan jika memungkinkan dia ingin Ana bisa kembali kepadanya. Tapi sepertinya melihat luka yang dia goreskan di hati Ana terlalu dalam, hal terakhir yang dia minta ini kemungkinan tidak akan terjadi.


__ADS_2