
"Mas akan mengantar kalian pulang," ucap Abimayu ketika Ana ingin berpamitan untuk pulang karena hari juga sudah sore. Dia tidak ingin membiarkan Ana dan Fatimah pulang hanya berdua saja, apalagi Ana menyetir sendiri. Dia sedikit khawatir melihat cuaca yang juga sedikit kurang bagus.
"Tidak perlu Mas, aku akan menyetir sendiri saja." Ana menolak permintaan Abimayu.
Abimayu bersikeras tidak akan membiarkan mereka kembali jika Ana yang menyetir sendiri. Dia masih mengingat jika dulu Ana selalu mengeluh karena jarak pesantren ke rumah mereka memakan waktu yang lama, apalagi sekarang dia akan menyetir sampai ke rumah orang tuanya yang jaraknya lebih jauh dari rumah mereka dulu.
Tiba-tiba terdengar suara hujan turun begitu lebat di sertai angin yang sedikit kencang.
Ana masih tetap ingin pulang dan Abimayu tetap tidak membiarkan mereka, Abimayu mengancam akan mengajak Fatimah tinggal jika Ana tetap ingin pulang.
"Di sini ada acara malam nanti, tidak mungkin Mas Abi pergi meninggalkannya." Ana memberi alasan supaya Abimayu mengalah.
"Tidak masalah, Mas akan pulang secepatnya lagi setelah mengantar kalian."
Ana tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Abimayu saat ini, karena tidak mungkin dia akan cepat sampai ke sini lagi dalam waktu yang singkat.
"Fatimah tidak mau pulang, Umi. Fatimah mau di sini melihat Kakak-kakak sholehah itu." Sekarang suara Fatimah terdengar yang juga seperti akan menghalangi kepulangan mereka.
Fatimah sudah terbiasa dengan keadaan ramai di pesantren, sewaktu di pesantren Sarah dia juga selalu senang dan ikut bergabung melihat setiap ada acara di pesantren itu. Meskipun dia tidak mengerti apa sebenarnya yang mereka lakukan, tapi dia akan sangat senang berada di antara kumpulan para santri si pesantren.
"Tunggu hujannya reda, Nak. Tidak baik juga kalian di perjalanan sedang hujan begini."
Umi Aida berkata, dia tidak menghalangi Ana untuk pulang, tapi dia khawatir jika Ana menyetir sendiri dalam keadaan hujan lebat begini meski mereka di dalam mobil.
Ana akhirnya mengalah untuk menunggu hujan reda agar mereka bisa pulang.
Hingga pukul delapan malam hujan baru akan berhenti. Ana sudah terlihat mengantuk karena sejak sampai di sini, dia tidak ada beristirahat karena bercerita dengan kedua mertuanya.
Abimayu yang sejak tadi tetap menemani Fatimah bermain dia bisa melihat keadaan Ana yang sudah mengantuk. Mata Ana sudah terlihat memerah karena menahan kantuknya, selain itu dia juga beberapa kali sudah menguap.
"Kalian menginap saja malam ini, ya!" Umi Aida berkata karena dia juga merasakan Ana tidak bisa lagi menahan kantuknya
__ADS_1
"Kami pulang saja, Umi." Ana tetap ingin pulang.
"Sudah malam, Nak. Umi khawatir kalian di jalan nanti."
"Umi... ti.. "
"Mas akan antarkan kalian!" Abimayu bersuara kembali tetap akan mengantar Ana pulang.
Memikirkan Abimayu yang ada kegiatan malam ini, akhirnya Ana memutuskan untuk menginap di rumah itu. Dia seperti tidak mempunyai pilihan lain. Sekarang Abimayu begitu berkeras akan tetap mengantar mereka, sedangkan saat ini dia sangat ingin menghindar agar tidak terlalu lama bertemu dengan Abimayu.
Merasa tidak tahan lagi dengan kantuknya, Ana memilih untuk pergi tidur ke kamar yang telah disediakan oleh Umi Aida untuknya. Sedangkan Fatimah dia biarkan tetap bersama Abimayu yang sejak tadi tidak merasakan lelah di tubuhnya karena bertemu dengan sang ayah.
...----------------...
Di waktu pagi Fatimah telah bersiap bersama Abimayu, mereka sedang menunggu Ana yang masih di dapur membantu Umi Aida membereskan bekas sarapan pagi mereka. Sekarang Ana memang sangat jauh berbeda, hidup berdua saja dengan Fatimah selama 4 tahun lamanya, mengajarkan dia menjadi wanita yang mandiri dan bisa mengerjakan segala pekerjaan rumah.
"Ayo, Sayang. Kita berangkat," ajak Ana kepada Fatimah yang masih duduk bersama Abimayu.
Saat menaiki mobil, terdengar suara Fatimah menangis melihat Abimayu yang tidak ikut dalam satu mobil dengan mereka.
"Sayang..." Panggil Ana dengan wajah sedikit merajuknya, bukan kesal dengan Fatimah, tapi dia sudah tahu akhir dari kisah menangis ingin nantinya.
Ya, akhirnya mereka bertiga pergi bersama dalam satu mobil, karena Fatimah si gadis kecil dengan jurus andalan menangis nya yang membuat mereka terpaksa berangkat bersama menggunakan mobil Ana.
Abimayu menyetir dengan pelan, dia tersenyum dalam hati melihat dua orang wanita yang berbeda usia duduk di kursi belakang mobil dengan raut wajah yang berbeda. Satu dengan wajah lucunya yang ceria, dan satu lagi dengan wajah kesalnya yang lucu di balik cadarnya. Tidak masalah jika sekarang dia terlihat seperti supir bagi dua wanita yang membuat hatinya menghangat ketika melihat mereka saat ini.
"Uwaaaaa itu Bunda, main ke situ ya," tunjuk Fatimah ketika mereka melewati sebuah tempat permainan di tengah kota,, karena sekarang mereka telah berada di pusat kota yang hampir dekat dengan perusahaan Abimayu.
"Iya, nanti kita ajak nenek, ya." Ana berkata menanggapi celotehan Fatimah yang sepanjang perjalanan mereka selalu bertanya tentang semua hal yang baru dilihatnya.
"Abi juga, ya."
__ADS_1
Dalam hidup Fatimah sekarang, dia selalu melibatkan Abimayu dengan semua hal yang ingin dia lakukan.
"Boleh, kita nanti main di sana," jawab Abimayu seorang ayah yang sangat menyayangi gadis kecilnya karena tidak ingin membuat kecewa sang putri kecil. Sedangkan Ana sang ibu memasang wajah kesalnya yang membuat Abimayu hampir meledakkan tawanya. Dia tahu bahwa wanita yang telah menjadi seorang ibu itu sangat tidak ingin berdekatan atau pun melihatnya dalam waktu yang lama. Tapi dia sedikit bersyukur dengan adanya Fatimah dia selalu bisa membuat Ana menjadi dekat dengannya.
Abimayu menghentikan mobilnya di depan perusahaan, dari awal dia berjanji dengan Ana akan turun sampai di perusahaan saja karena tidak ingin membuat Ana menjadi terlalu tidak suka dengannya. Meskipun sekarang dia masih berusaha untuk meluluhkan hati Ana.
"Kita sudah sampai, Abi?" tanya Fatimah polos karena dia merasa dia akan dibawa ke tempat bermain yang dijanjikan Abimayu saat mereka melihat di perjalanan tadi.
"Bukan, Sayang. Abi Fatimah kerja dulu, kita pulang ke rumah Nenek dulu, ya."
Ana langsung menjelaskan karena dia tidak ingin Fatimah berdrama lagi karena masih ingin bersama Abimayu.
"Ayo, Bunda. Kita ikut Abi."
Ana sudah menarik nafasnya sambil memejamkan mata. Sedangkan Abimayu sudah memilih turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu di mana Fatimah berada.
"Sayang... Abi sekarang bekerja dulu, ya. Abi janji besok akan bawa Fatimah ke tempat bermain tadi." Abimayu berkata kepada Fatimah ketika pintu mobil dibukakan oleh Ana.
"Bunda juga Abi." Fatimah menyebutkan Ana karena mendengar Abimayu tidak menyebut Ana dalam bicaranya.
"Iya, Bunda juga ikut."
Ana yang masih duduk di sampingan Fatimah melebarkan matanya mendengar ucapan Abimayu kepada Fatimah. Sedangkan Abimayu sempat melihat ke arahnya dan memberikan kode dengan kepalanya untuk menyetujui apa yang dia ucapkan.
"Sekarang Fatimah ikut Bunda pulang ke rumah, ya. Abi bekerja dulu."
Fatimah tidak menolak ketika Abimayu menyuruhnya untuk pulang. Dia seperti mengerti dengan keadaan bahwa orang tuanya sedang bekerja.
"Ya Allah, Sayang. Kenapa tidak sejak tadi kamu patuh begini."
Ana berkata sambil berpindah ke arah depan mobil. Dia melepaskan kekesalannya dengan masih berkata sopan. Kesalnya dia hanya dengan keadaan yang membuat dia harus bersama Abimayu sepanjang perjalanan mereka tadi, dan bukan kesal kepada Fatimah. Sedangkan Abimayu sudah menampakkan senyumnya mendengar perkataan Ana itu.
__ADS_1