
Perasaan Ana sedang membara dengan kebencian. Dia marah kepada semua orang yang telah mengizinkan Abimayu untuk menikah lagi. Kenapa harus izin dari mereka yang Abimayu dengar bukan tidak izin darinya . Sedangkan dia adalah istri sahnya.
"Mau kemana kamu dengan pakaian seperti itu?" tanya Abimayu yang melihat Ana sudah bersiap dengan penampilannya yang sangat seksi, bahkan melebihi seksi dari biasanya.
"Aku ingin bertemu seseorang!" jawab Ana dengan senyum tersembunyi nya.
"Pria mana yang akan kamu temui sekarang? Apa kamu belum puas setelah semalam kamu mungkin telah melakukan hal yang buruk di rumah ini." Abimayu masih kesal dengan kejadian semalam. Dia sampai tidak bisa tidur sebelum Ana dan para temannya menyudahi pesta mereka.
"Ini bukan seorang pria, tapi ini adalah orang tua." Ana membalas tuduhan Abimayu dengan cara membenarkannya.
Karena kesal melihat Ana, Abimayu berdiri dari duduknya lalu berlalu pergi terlebih dahulu dan meninggalkan sarapan yang belum habis dia makan.
Setelah kepergian Abimayu, Ana juga bersiap-siap untuk pergi ke tempat tujuannya hari ini.
...----------------...
Di rumahnya Umi Aida masih menunggu keputusan dari Abimayu, karena sampai sekarang Abimayu belum memberikan keputusannya. Sedangkan orang tua Nayla terus menghubunginya.
"Maaf, Mbak. Tidak boleh masuk jika berpakaian begini." Seseorang pria menggunakan peci di kepalanya menahan Ana di pintu gerbang pesantren.
"Kenapa dengan pakaian-ku?" tanya Ana dengan sinis.
"Maaf, Mbak. Di sini peraturan sudah begitu! Jika Mbak ada urusan ke dalam, mohon berpakaian yang sopan dan tertutup." Pria itu melanjutkan.
"Aku tidak ada pakaian seperti yang kalian inginkan. Jangan menghalangi-ku! Jika takut mereka akan melihat-ku, suruh saja mereka untuk menutup mata!" Ana tetap dengan pendiriannya ingin masuk ke dalam pesantren menggunakan pakaian yang dia pakai saat ini.
"Maaf, Mbak tetap tidak boleh masuk ke dalam jika masih menggunakan pakaian ini."
"Biarkan aku masuk! Aku ingin ke rumah mertua-ku. Kamu tahu siapa aku?" Ana berkata angkuh sambil melihat pria itu masih dengan tatapan sinis nya.
"Bagaimana kalau Mbak beritahu saja siapa yang ingin ditemui, supaya saya coba panggilkan dia saja," ucap pria itu memberikan pilihan kepada Ana dengan sopan. Supaya Ana tidak jadi masuk ke dalam lingkungan pesantren dengan pakaian seksinya.
"Hem, mertua-ku saja tidak akan keberatan jika tahu aku datang dengan pakaian ini. Aku tetap akan masuk ke dalam!"
"Ta.. "
__ADS_1
"Kamu jangan melarang-ku lagi! Aku ingin menjumpai mertua-ku umi Aida. Aku istri Abimayu! Kamu tidak berhak melarang-ku!"
Ana sudah menggunakan nama umi Aida agar dia bisa masuk ke dalam. Dia tidak tahu jika pria ini sangat menjaga peraturan mereka.
Pria itu terdiam tidak berani lagi bicara dan kesempatan itu diambil oleh ana untuk masuk ke dalam dan tidak peduli lagi dengan larangan pria itu.
"Weeeehhh cantiknya."
"Astaghfirullahal'adzim."
"Siapa itu? Kenapa dia bisa masuk ke sini?"
Ana mendengar suara-suara para santri saat dia berjalan menuju rumah Umi Aida. Dia tahu kalau semua santri itu heran melihat dirinya yang berani masuk ke dalam lingkungan mereka dengan penampilannya yang seksi.
"Assalamu'alaikum," ucap Ana di depan pintu rumah mertuanya. Meskipun dia selalu dituduh dengan wanita yang tidak baik, tapi dia masih bisa mengucapkan salam ketika datang ke rumah orang lain.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar suara yang bisa Ana kenali menyahut salamnya dari dalam rumah.
Ana tidak menunggu si pemilik rumah lagi menampakkan diri kepadanya. Dia terus melangkah masuh dan duduk di sofa ruang tamu rumah itu.
Saat Umi Aida mendekat, Ana berdiri dari duduknya.
"Apa maksud Umi mengizinkan Mas Abi untuk menikah lagi?" tanya Ana langsung kepada Umi Aida.
Mendengar pertanyaan Ana, Umi Aida tidak menjawab, dia masih memperhatikan wajah Ana dengan pasti.
"Saya Ana, Umi! Menantumu!" ucap Ana menjelaskan.
Umi Aida sedikit terperanjat mendengar pengakuan Ana.
"Ana?" mengulang menyebut nama Ana untuk memastikan
"Ya! saya Ana. Jangan heran dengan penampilan-ku, karena inilah aku yang sesungguhnya!" Ana berkata jujur agar umi Aida tidak berrtanya lagi kepadanya nantinya. "Sekarang jawab aku! Kenapa Umi mengizinkan Mas Abi menikah lagi?" Ana kembali dengan pertanyaan awalnya yang belum dijawab oleh umi Aida sedari tadi, karena masih tidak percaya dengan pengakuan Ana saat ini.
"Ayo kita duduk dulu, Nak!" akhirnya umi Aida tersadar dan menyuruh Ana untuk duduk agar dia bisa menjelaskan. Di raut wajahnya sama sekali tidak terlihat bahwa dia marah kepada Ana ketika melihat Ana berpenampilan seperti itu.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin penjelasan sekarang! Kenapa kalian semua menyembunyikan dariku tentang Mas Abi yang ingin menikah lagi?" Ana sudah tidak ingin mendengarkan umi Aida lagi. Dia hanya ingin penjelasan sekarang.
"Ana! Bukan begitu. Umi akan jelaskan!" jawab umi Aida dengan raut wajah sedihnya. Dia tahu bahwa menantunya ini sedang kesal karena mungkin telah mendengar bahwa Abimayu akan memutuskan untuk menikah lagi.
"Umi pasti termasuk orang yang menyetujui pernikahan itu, karena Umi sudah mengetahuinya sejak awal. Ternyata Umi saja!"
Ana tidak memberikan kesempatan Umi Aida untuk berbicara. Awalnya dia bertujuan untuk memperjelas keadaan dengan mertuanya, tapi saat membicarakan pernikahan itu, kemarahannya tidak bisa ia kendalikan, dia terus emosi sehingga apa pun yang dikatakan oleh umi Aida kepadanya tidak bisa dia Terima lagi. Dia juga sangat marah, karena Abimayu juga mengatakan bahwa orang tuanya mengetahui tentang pernikahan itu.
"Ana, Umi tidak...,"
"Cukup, Umi." Kata Ana sedikit kuat.
"Ana!"
Terdengar suara bas seorang pria dari arah pintu. Ana dan Umi Aida sama-sama melihat ke arah pintu dan menemukan dua pasang suami istri sedang berdiri di depan pintu menyaksikan mereka.
"Umi," panggil seorang wanita muda memakai pakaian tertutup yang langsung berjalan mendekat ke arah Umi Aida.
"Aisyah!"
Dia adalah Aisyah, wajahnya menampakkan raut khawatir kepada orang tuanya.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak tahu kesopanan?"
Sekarang, Ana yang diserang oleh seorang pria paruh baya. Dia adalah Ardi, orang tuanya sendiri, yang datang bersama Kiran istrinya. Saat mereka tiba, mereka bertemu dengan Aisyah dan suaminya yang juga datang berkunjung ke rumah orang tuanya.
"Untuk apa kalian ke sini?" Wajah Ana memerah karena menahan marah.
"Untuk meminta maaf atas kelakuanmu yang tidak sopan itu."
Mereka juga sangat malu ketika melihat penampilan Ana saat ini.
Ana berdiri dari tempat duduknya
"Kalian semua sama saja," ucap Ana dan berlalu pergi meninggalkan rumah mertuanya. Umi Aida sempat menahannya, tapi Ardi dan Kiran menyuruhnya untuk membiarkan saja.
__ADS_1
Umi Aida merasa bersalah kepada Ana karena belum sempat menjelaskan kepadanya.